KOMPAS.com – Pagi hari dalam ajaran Islam bukan sekadar pergantian waktu dari malam menuju siang.
Ia adalah awal lembaran baru, momentum menata niat, serta kesempatan memperbarui komitmen sebagai hamba Allah SWT.
Karena itu, Rasulullah SAW mencontohkan sejumlah doa dan zikir yang dibaca setelah Subuh sebagai fondasi spiritual sebelum memulai aktivitas.
Dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah, Imam Nawawi menegaskan bahwa zikir pada waktu pagi termasuk amalan utama yang sangat dianjurkan.
Mengawali hari dengan mengingat Allah, menurutnya, akan memengaruhi arah aktivitas dan membentuk karakter seorang Muslim sepanjang hari.
Salah satu doa pagi yang paling masyhur diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA. Hadis tersebut tercantum dalam riwayat Ibnu Majah.
Baca juga: Panduan Qadha Puasa Ramadhan: Dalil, Niat, Doa Buka Puasa dan Batas Waktunya Menurut Ulama
Rasulullah SAW apabila memasuki waktu pagi membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan ṭayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.” (HR Ibnu Majah)
Doa singkat ini memuat tiga permohonan mendasar yang menjadi pilar kehidupan seorang Mukmin: ilmu, rezeki, dan amal.
Baca juga: Doa Sapu Jagat: Bacaan Arab, Latin, Arti, Serta Waktu Terbaik Melafalkannya
Permohonan pertama adalah ‘ilman nāfi‘an (ilmu yang bermanfaat). Dalam perspektif Islam, ilmu tidak diukur dari banyaknya hafalan atau gelar, melainkan sejauh mana ia menghadirkan kebaikan.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan justru dapat menjadi hujah yang memberatkan di hadapan Allah.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menuntun kepada ketaatan, memperbaiki akhlak, serta memberi dampak positif bagi masyarakat.
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya ilmu dalam Surah Thaha ayat 114:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa permintaan akan ilmu adalah doa yang diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya.
Permohonan kedua adalah rizqan ṭayyiban (rezeki yang baik). Kata “thayyib” tidak hanya berarti halal, tetapi juga bersih, layak, dan membawa keberkahan.
Dalam buku Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraish Shihab dijelaskan bahwa rezeki yang baik adalah rezeki yang diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar. Rezeki yang halal menumbuhkan ketenangan, sedangkan rezeki haram mengikis keberkahan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
Yā ayyuhan-nāsu kulū mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibā.
Artinya: “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”
Doa ini menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas mencari nafkah di pagi hari seharusnya diniatkan sebagai ibadah.
Baca juga: Rahasia Doa Mustajab di Hari Jumat, Ternyata Setelah Ashar
Permohonan terakhir adalah ‘amalan mutaqabbalan (amal yang diterima). Tidak semua amal otomatis diterima oleh Allah SWT.
Para ulama menjelaskan bahwa syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Dalam buku Madārijus Sālikīn karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah disebutkan bahwa keikhlasan adalah memurnikan niat hanya untuk Allah, tanpa mengharapkan pujian manusia. Sedangkan kesesuaian dengan sunnah memastikan bahwa ibadah dilakukan dengan cara yang benar.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amala.
Artinya: “Untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
Para mufasir menjelaskan bahwa “paling baik” bukan berarti paling banyak, tetapi paling benar dan paling ikhlas.
Selain doa di atas, Rasulullah SAW juga menganjurkan zikir pagi seperti membaca tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa siapa yang membaca zikir pagi dan petang akan mendapatkan perlindungan Allah sepanjang hari.
Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menekankan bahwa konsistensi zikir pagi merupakan bentuk penjagaan diri dari kelalaian. Pagi hari adalah waktu yang penuh keberkahan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Baca juga: Doa Saat Terjadi Gempa: Arab, Latin, Arti, dan Amalan Agar Hati Tetap Tenang
Di tengah kesibukan dan tuntutan hidup modern, doa Rasulullah SAW ini terasa semakin relevan.
Ilmu yang bermanfaat menjadi fondasi menghadapi arus informasi. Rezeki yang baik menjadi penopang integritas. Amal yang diterima menjadi tujuan akhir dari setiap aktivitas.
Doa ini singkat, tetapi merangkum seluruh orientasi hidup seorang Muslim. Ia menata prioritas sejak mata terbuka di pagi hari, belajar dengan benar, bekerja dengan jujur, dan beramal dengan ikhlas.
Barangkali, di situlah rahasia ketenangan yang sering dicari banyak orang. Bukan pada panjangnya rencana, tetapi pada lurusnya permohonan di awal hari.
Maka, sebelum kesibukan menyita perhatian, ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk bermunajat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Sebab bisa jadi, kualitas hari kita ditentukan oleh doa yang kita panjatkan saat fajar menyingsing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang