Editor
KOMPAS.com - Momen mudik Lebaran menjadi waktu bagi banyak perantau untuk kembali melakukan perjalanan jauh.
Perjalanan mudik biasanya dilakukan untuk kembali ke kampung halaman dan kemudian balik demi bisa kembali beraktivitas di perantauan.
Dalam Islam, setiap perjalanan dianjurkan diawali dengan amalan ibadah sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan.
Salah satunya adalah shalat sunnah safar yang dikerjakan sebelum meninggalkan rumah yang merupakan amalan yang diajarkan Rasulullah SAW sebelum seseorang bepergian.
Baca juga: Tata Cara Shalat Jamak Qashar saat Safar, Lengkap dengan Syaratnya
Ibadah ini dilakukan sebanyak dua rakaat sebelum keluar rumah atau memulai perjalanan jauh.
Meski kerap identik dengan keberangkatan haji, shalat ini berlaku untuk seluruh perjalanan jauh yang bukan maksiat.
Padahal, amalan ini tidak terbatas pada ibadah haji saja. Shalat safar dianjurkan bagi setiap muslim yang hendak melakukan perjalanan jauh, seperti silaturahmi, perjalanan bisnis, atau keperluan lainnya.
Dirangkum dari laman Kemenag dan MUI, berikut panduan lengkap shalat safar di mulai dari dalil, niat, hingga salam.
Baca juga: Panduan Sholat Safar: Pengertian, Syarat, Tata Cara, Niat, dan Waktu Terbaik
Riwayat dari Anas bin Malik menjelaskan bahwa shalat sunnah safar adalah kebiasaan Rasulullah SAW sebelum meninggalkan suatu tempat:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنْزِلُ مَنْزِلاً إِلاَّ وَدَّعَهُ بِرَكْعَتَيْنِ
Artinya: “Sungguh, Nabi Muhammad Saw. tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat” (HR Anas bin Malik).
Imam Thabrani juga meriwayatkan hadis tentang keutamaan shalat safar:
مَا خَلَّفَ أَحَدٌ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِينَ يُرِيدُ السَّفَرَ
Artinya: “Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan.” (HR ath-Thabrani).
Dalam riwayat lain disebutkan:
إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِك مَخْرَجَ السُّوءِ وإذَا دَخَلتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِك مَدْخَلَ السُّوءِ.
Artinya: “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Dan jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” (HR al-Baihaqi).
Ketiga hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat safar menjadi amalan pembuka perjalanan yang sarat nilai perlindungan dan keberkahan.
Waktu Pelaksanaan Shalat Safar
Tidak ada ketentuan waktu khusus untuk melaksanakan shalat sunnah safar. Ibadah ini dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore, maupun malam hari.
Yang terpenting, shalat ini dilakukan sebelum keluar rumah atau sebelum memulai perjalanan jauh.
Berikut bacaan niat shalat sunnah safar:
أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab latin: Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla
Artinya, “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.”
Berikut tata cara shalat sunnah safar rakaat dengan satu kali salam.
Sama seperti pelaksanaan shalat pada umumnya, langkah awal yang dilakukan dalam pelaksanaan shalat safar adalah membaca niat
Niat shalat safar diucapkan dalam hati beriringan dengan takbiratul ihram.
اللهُ أَكْبَرُ
Arab latin: Allahu Akbar
Artinya: “Allah Maha Besar”
Bacaan doa iftitah dalam shalat safar sesuai dengan bacaan doa iftitah pada umumnya, yakni :
اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Arab latin: Allaahu akbar Kabiroo Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.
Artinya: "Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah, pujian yang sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Kuhadapkan wajahku kepada zat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketulusan dan kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya untuk Allah, penguasa alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang muslim."
Atau riwayat lain menyebutkan sebagai berikut :
اَللّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَاياَيَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِاَللّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَاياَ كَماَ يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِاَللّهُمَّ اغْسِلْ خَطَاياَيَ باِلْماَءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.
Arab latin: Allaahumma baa’id bainii wabainaa khotoo yaa ya kamaa baa ‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Allaahumma naqqinii minal khotoo yaa kamaa yunqqots tsaubul abyadhuu minaddanas. Allaahummaghsil khotoo yaa ya bil maa i wats tsalji walbarod.
Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan di antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ . اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
Arab latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm .al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. ar-raḥmānir-raḥīm. māliki yaumid-dīn. iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Sama seperti pelaksanaan shalat pada umumnya, setelah membaca surat Al-Fatihah dalam pelaksanaan shalat safar juga dianjurkan untuk membaca surat yang terdapat di dalam Al Quran.
Tidak ada perintah detail yang menyebutkan pemilihan surat tersebut, hanya saja, Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab menyarankan agar membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua.
Bacaan ruku dalam shalat safar sesuai dengan bacaan ruku’ pada umumnya, yakni :
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Arab latin: Subhana rabbiyal 'adhimi wa bihamdihi.
Artinya: “ Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.”
Atau riwayat lain menyebutkan sebagai berikut :
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى
Arab latin: Subhaanaka allaahuma robbanaa wabihamdika allaahumaghfirlii.
Artinya: Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, aku memohon ampun.
Bacaan I’tidal dalam shalat safar sesuai dengan bacaan I’tidal pada umumnya, yakni :
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Arab latin: Sami'allahu liman hamidah.
Artinya: “ Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”
Kemudian saat berdiri dilanjutkan membaca:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Arab latin: Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.
Artinya: “ Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”
Bacaan sujud dalam shalat safar sesuai dengan bacaan sujud pada umumnya, yakni :
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Arab latin: Subhana rabbiyal a’laa wa bi hamdih
Artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi dan pujian untuk-Nya (HR. Abu Daud).
Atau riwayat lain menyebutkan sebagai berikut :
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللهُمَّ اغْفِرْلِيْ
Arab latin: Subhaanakallah humma rabbanaa wa bihamdikallahummaghfirlii
Artinya: “Maha suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, Ya Allah, aku memohon ampun”
Bacaan duduk diantara dua sujud dalam shalat safar sesuai dengan bacaan duduk diantara dua sujud pada umumnya, yakni :
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافَنِي وَاعْفُ عَنِّي
Arab latin: “Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa‘afinii wa‘fu ‘annii,”
Artinya: “Ya Tuhan, ampunilah diriku, sayangilah, perbaikilah, dan angkatlah derajat hamba, berilah hamba rizki serta ampunan sebanyak-banyaknya”.
Atau riwayat lain menyebutkan sebagai berikut :
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى
Arab latin: Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii.
Artinya: Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rizki untukku.
Bacaan tasyahud akhir dalam shalat safar sesuai dengan bacaan tasyahud akhir pada umumnya, yakni membaca tasyahud awal disempurnakan dengan membaca sholawat nabi sebagai berikut :
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِ نَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِ نَا إِبْرَاهِيمَ، وَ بَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِ نَا إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِ نَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَا لَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Arab latin: Wa alaa aali sayyidina muhammad. Kamaa shallaita 'alaa sayyidinaa Ibraahim wa'alaa aali sayyidinaa ibraahim wabaarik 'alaa sayyidinaa muhammad wa 'alaa aali sayyidina muhammad. Kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa ibraahiim wa 'alaa aali sayyidina Ibraahiim fil'aalamiina innaka hamiidum majiid.
Artinya : "Ya Allah. Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad. Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia".
Salam shalat adalah rukun penutup ibadah sambil menoleh ke kanan lalu ke kiri, menandai berakhirnya shalat.
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Arab latin: Assalamu’alaikum Warahmatullah
Artinya: "Semoga salam sejahtera atasmu beserta rahmat Allah dan berkah-Nya"
Shalat safar tidak sekadar ibadah formal, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Amalan ini mengajarkan seorang muslim untuk memulai perjalanan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.
Selain itu, shalat ini menjadi bentuk tawakal kepada Allah atas segala kemungkinan yang terjadi selama perjalanan.
Shalat safar merupakan warisan spiritual Rasulullah SAW yang sarat makna. Dua rakaat sebelum bepergian menjadi perisai bagi jasad dan jiwa, sekaligus pembuka jalan yang penuh keberkahan.
Maka sebelum kembali ke perantauan usai mudik Lebaran, meluangkan waktu untuk menunaikan shalat safar menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Shalat sunah safar menjadi amalan penting sebelum memulai perjalanan jauh, termasuk saat arus balik mudik Lebaran. Dengan melaksanakannya, seorang muslim diharapkan memperoleh perlindungan dan keberkahan sepanjang perjalanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang