KOMPAS.com - Sholat hajat merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang dikerjakan ketika seorang muslim memiliki keinginan atau kebutuhan tertentu.
Setelah melaksanakan dua rakaat sholat hajat, dianjurkan untuk tidak langsung beranjak, melainkan melanjutkan dengan dzikir dan doa.
Pada fase inilah seorang hamba menguatkan harapan sekaligus menyerahkan seluruh urusan kepada Allah SWT.
Dalam literatur fikih seperti Al-Adzkar karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa dzikir sebelum doa berfungsi menenangkan hati agar permohonan lebih khusyuk dan penuh keyakinan.
Baca juga: Sholat Hajat Lengkap: Tata Cara, Niat, Doa Mustajab dan Waktu Terbaik agar Hajat Terkabul
Setelah salam, dzikir dibaca sebagai bentuk penyucian hati dan pengagungan kepada Allah SWT.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullāhal ‘azhīm
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Istighfar menjadi pembuka utama karena manusia menyadari keterbatasan dan kesalahan yang dimiliki.
سُبْحَانَ اللهِ
Subhānallāh
Artinya: “Maha Suci Allah.”
Tasbih mengingatkan bahwa Allah terbebas dari segala kekurangan.
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillāh
Artinya: “Segala puji bagi Allah.”
Tahmid adalah ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.
اللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar
Artinya: “Allah Maha Besar.”
Takbir menegaskan bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi Allah SWT.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Lā ilāha illallāh
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah.”
Tahlil menjadi puncak pengakuan tauhid.
Setelah dzikir, dianjurkan membaca salawat sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muhammad
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.”
Dalam buku Shalawat dan Keutamaannya karya Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, salawat disebut sebagai salah satu sebab terbukanya pintu terkabulnya doa.
Baca juga: Doa Sholat Hajat: Tata Cara, Niat, dan Bacaan Lengkap
Berikut salah satu doa yang sering diamalkan dalam berbagai kitab doa, sebagaimana dikutip dalam literatur klasik seperti Hisnul Muslim karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Lā ilāha illallāhul halīmul karīm.
Subhānallāhi rabbil ‘arsyil ‘azhīm.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
As’aluka mûjibāti rahmatik, wa ‘azā’ima maghfiratik, wal ghanīmata min kulli birrin, was salāmata min kulli itsmin.
Lā tada‘ lī dzanban illā ghafartah, wa lā hamman illā farrajtah, wa lā hājatān hiya laka ridhan illā qadhaitahā yā arhamar rāhimīn.
Artinya “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan pemilik Arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu sebab-sebab rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keberuntungan dalam setiap kebaikan, dan keselamatan dari segala dosa. Jangan Engkau biarkan dosa kecuali Engkau ampuni, tidak pula kesedihan kecuali Engkau hilangkan, dan tidak pula kebutuhan yang Engkau ridhai kecuali Engkau kabulkan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Agar lebih tertata dan khusyuk, urutannya adalah sebagai berikut:
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa dzikir adalah jalan untuk membersihkan hati, sedangkan doa adalah bentuk penghambaan paling jujur seorang manusia.
Dzikir menenangkan jiwa, sementara doa membuka ruang harapan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun kedekatan spiritual antara hamba dan Allah SWT.
Baca juga: Rahasia Berdoa Agar Semua Hajat dan Keinginan Dikabulkan
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagian doa tidak langsung dikabulkan.
Dalam ajaran Islam, hal ini tidak selalu berarti doa ditolak. Bisa jadi, jawabannya ditunda, diganti dengan yang lebih baik, atau dijauhkan dari keburukan yang tidak terlihat.
Konsep ini dijelaskan dalam banyak literatur ulama klasik, termasuk dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, bahwa setiap doa memiliki nilai spiritual meskipun belum tampak hasilnya.
Doa dan dzikir setelah sholat hajat bukan sekadar rangkaian bacaan, tetapi sebuah perjalanan batin yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.
Dari istighfar hingga doa permohonan, semuanya menjadi satu kesatuan ibadah yang menghadirkan harapan dan ketenangan.
Di tengah dinamika kehidupan yang penuh ketidakpastian, sholat hajat menjadi ruang kembali bagi seorang hamba untuk menundukkan diri, memohon, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang