Editor
KOMPAS.com - Kehidupan manusia selalu diwarnai berbagai keadaan, mulai dari bahagia, sedih, lapang, hingga penuh tekanan.
Dalam Islam, seorang muslim diajarkan untuk menghadapi masalah hidup dengan ikhtiar yang rasional serta doa dan zikir yang menenangkan hati.
Tekanan hidup tidak selalu menandakan seseorang jauh dari Allah SWT, sebab ujian juga dapat menjadi tanda keimanan sedang ditempa.
Dilansir dari Muhammadiyah, Kitab al-Faraj Ba’da asy-Syiddah karya at-Tanukhi menyebutkan nasihat al-Hasan al-Bashri tentang lima ayat Al-Qur’an yang memuat kalimat zikir penting saat seorang muslim menghadapi musibah dan kesulitan.
Baca juga: Musyrif Diny Haji Ajak Jemaah Perbanyak Doa dan Zikir Jelang Wukuf di Arafah
Seorang muslim tidak cukup hanya membaca doa dan zikir ketika menghadapi masalah hidup.
Ikhtiar yang rasional tetap perlu dilakukan agar persoalan dapat diselesaikan dengan langkah yang tepat.
Namun, zikir dan doa dapat membantu menghadirkan ketenangan batin sebelum seseorang mengambil keputusan.
Ketenangan tersebut penting agar langkah yang dipilih tidak tergesa-gesa dan tetap berada dalam tuntunan Allah SWT.
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un
Kalimat pertama yang dianjurkan adalah “inna lillahi wa inna ilayhi raji’un”.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 155-157, Allah berfirman yang artinya, “Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, kelaparan, dan kekurangan dari harta, jiwa dan buah-buahan, maka berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka berucap ‘inna lillahi wa inna ilayhi raaji’uun’ (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali). Maka untuk merekalah doa keselamatan dari Rabb mereka dan juga rahmat-Nya dan merekalah orang-orang yang diberi petunjuk”.
Kalimat ini sudah sangat dikenal oleh umat Islam di Indonesia.
Selama ini, kalimat tersebut kerap diucapkan ketika mendengar kabar duka atau kematian.
Namun, maknanya tidak hanya terbatas pada peristiwa kematian.
Kalimat “inna lillahi wa inna ilayhi raji’un” juga dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi musibah, kehilangan, ketakutan, tekanan psikologis, kelaparan, atau kesulitan ekonomi.
Baca juga: Gus Kafa Ajak Jemaah Haji 2026 Perkuat Zikir & Shalawat Jelang Armuzna
Hasbunallah wa ni’mal wakil
Kalimat kedua adalah “hasbunallah wa ni’mal wakil”.
Dalam surat Ali Imran ayat 173-174, Allah berfirman yang artinya, “(dan merekalah) orang-orang (yang ketika) sekelompok orang mengatakan pada mereka, ‘sesungguhnya (para musuh) telah berkumpul untuk (menyerang) kalian maka takutlah pada mereka’ maka justru keimanan mereka bertambah dan mereka (orang-orang beriman itu) mengucapkan ‘hasbunallah wa ni’mal wakiil’(cukuplah Allah sebaik-baik tempat berserah). Maka mereka (orang-orang beriman itu) kembali dengan kenikmatan dari Allah dan banyak keutamaan, mereka juga tidak disentuh dengan keburukan, mereka juga mengikuti keridhaan Allah, dan Allah-lah Yang Maha Memiliki Kemuliaan Yang Agung”.
Secara sebab turunnya, ayat tersebut berkaitan dengan kondisi peperangan.
Meski demikian, kalimat “hasbunallah wa ni’mal wakil” juga dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi masalah yang berat dan bertumpuk.
Makna utama kalimat ini adalah menyerahkan diri dan rasa takut kepada Allah SWT.
Zikir ini mengingatkan bahwa Allah menjadi sebaik-baik tempat bersandar ketika manusia merasa tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi keadaan.
Baca juga: Ulama Ini Jelaskan Keutamaan Baca 70 Ribu Kali Zikir Fidak untuk Ahli Kubur
Wa ufawwidhu amri ilallah
Kalimat ketiga bersumber dari surat Ghafir ayat 44-45.
Allah berfirman, “dan aku serahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (kondisi) hamba-Nya. Maka Allah lindungi dirinya dari segala keburukan dari apa yang dimakarkan oleh mereka (musuh)..”
Ayat ini berkaitan dengan kisah Nabi Musa AS ketika menghadapi kaum yang menentang ajakan kebaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim juga dapat menghadapi penolakan, kebencian, tekanan, atau perlakuan buruk dari orang lain.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam dakwah, tetapi juga dapat muncul dalam pekerjaan, keluarga, atau lingkungan sosial.
Kalimat ini mengajarkan sikap pasrah aktif, yakni menyerahkan urusan kepada Allah setelah seseorang berusaha menjalani kebaikan dengan benar.
La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin
Baca juga: Santri Nihadlul Qulub Zikir di Atas Awan, Taklukkan Puncak Gunung Slamet
Kalimat keempat adalah doa Nabi Yunus AS ketika berada dalam kondisi sangat berat.
Surat Al-Anbiya ayat 87-88 mengisahkan, “dan Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika pergi dengan marah dan merasa bahwa dirinya tak mampu lagi (dalam menghadapi kaumnya), maka dirinya berdoa di tengah gulitanya perut ikan paus ‘laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimin’ (tiada sesembahan kecuali Engkau, maha suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim). Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dirinya dari keterpurukan, dan begitulah Kami selamatkan orang-orang beriman”.
Doa ini menggambarkan pengakuan seorang hamba atas kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT.
Seorang muslim dapat berada dalam keadaan yang terasa sangat sempit, gelap, dan sulit menemukan jalan keluar.
Masalah hidup dapat terasa seperti gelombang besar yang menenggelamkan, sementara bantuan manusia tidak selalu mampu menyelesaikannya.
Dalam kondisi seperti itu, doa Nabi Yunus AS dapat menjadi zikir untuk memohon pertolongan Allah dan mengakui keterbatasan diri.
Rabbanaghfirlana dzunubana
Kalimat kelima terdapat dalam surat Ali Imran ayat 148-149.
Allah berfirman, “dan tiadalah yang diucapkan mereka kecuali ‘rabbanaghfirlana dzunubana wa israfanaa fii amrina wa tsabbit aqdamana wanshurna ‘alal qaumil kaafirin’(wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang berlebihan dalam urusan kami dan kuatkanlah pijakan kaki kami dan menangkanlah kami atas orang-orang kafir). Maka Allah datangkan pada mereka pahala dunia dan sebaik-baik pahala akhirat dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
Doa ini memuat permohonan ampun atas dosa dan sikap berlebihan dalam urusan hidup.
Selain itu, doa tersebut juga berisi permohonan agar Allah menguatkan pijakan dan memberi pertolongan ketika menghadapi tekanan.
Seorang muslim dapat membaca doa ini ketika berada dalam fase hidup yang berat dan membutuhkan kekuatan untuk bertahan.
Zikir ini mengajarkan bahwa masalah hidup perlu dihadapi dengan taubat, keteguhan, dan harapan kepada pertolongan Allah SWT.
Lima kalimat zikir tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberi tuntunan bagi seorang muslim dalam menghadapi musibah, tekanan, dan masalah hidup.
Kalimat-kalimat itu tidak hanya berisi permohonan, tetapi juga mengajarkan kepasrahan, kesabaran, pengakuan diri, serta keyakinan kepada rahmat Allah SWT.
Ikhtiar tetap harus dilakukan dengan cara yang benar dan rasional.
Namun, zikir dan doa dapat menjadi sumber ketenangan agar seorang muslim mampu mengambil langkah terbaik saat menghadapi ujian kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang