KOMPAS.com – Khutbah Jumat bukan sekadar pengantar sebelum shalat berjemaah, tetapi bagian inti dari ibadah yang memiliki rukun, susunan, dan adab tersendiri.
Di dalamnya terdapat doa pembuka, isi nasihat, hingga doa penutup yang sarat makna spiritual.
Bagi seorang khatib, memahami bacaan doa pembuka dan penutup khutbah secara lengkap bukan hanya soal teknis, melainkan juga bentuk tanggung jawab dalam menyampaikan risalah agama kepada jemaah.
Lantas, seperti apa bacaan yang dianjurkan, serta bagaimana tata cara pelaksanaannya menurut para ulama?
Kewajiban shalat Jumat ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Jumu’ah ayat 9, yang memerintahkan kaum muslimin untuk segera mengingat Allah saat seruan azan dikumandangkan.
Menurut Imam Syafi'i, khutbah Jumat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sahnya shalat Jumat.
Dalam kitab Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Khamsah karya Muhammad Jawad Mughniyah dijelaskan bahwa khutbah terdiri dari dua bagian dengan rukun tertentu, seperti memuji Allah, bersalawat kepada Nabi, wasiat takwa, serta doa bagi kaum muslimin.
Hal ini juga ditegaskan dalam berbagai kitab fikih klasik bahwa khutbah bukan sekadar ceramah, tetapi ibadah yang memiliki struktur baku.
Baca juga: Khutbah Jumat Dzulqadah: Keutamaan Bulan Haram dan Momentum Muhasabah Diri
Khutbah biasanya diawali dengan pujian kepada Allah, istighfar, syahadat, dan salawat kepada Nabi.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Innal hamda lillaah, nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh, wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi’aati a’maalinaa, may yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa may yudhlil falaa haadiya lah. Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.
Artinya: “Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.”
Setelah itu, khatib biasanya membaca ayat Al-Qur’an yang relevan dengan tema khutbah.
Di akhir khutbah pertama, khatib dianjurkan membaca doa memohon keberkahan Al-Qur’an dan ampunan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Barakallahu lii wa lakum fil qur’aanil ‘azhiim wa nafa’anii wa iyyaakum bimaa fiihi minal aayaati wadz dzikril hakiim. Aquulu qaulii haadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa’iril muslimiina min kulli dzanbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.
Artinya: “Semoga Allah memberkahi kita melalui Al-Qur’an yang agung dan memberi manfaat dari ayat-ayat-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin. Mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Baca juga: Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Khutbah kedua diakhiri dengan doa yang lebih luas, mencakup permohonan ampunan dan kebaikan dunia akhirat.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.
Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati. Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa. Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina. Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana posisi tangan saat khatib berdoa.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, melainkan cukup mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat tauhid.
Hal ini diperkuat dalam berbagai kitab hadis dan dijelaskan kembali dalam buku Subul as-Salam karya Muhammad bin Ismail Ash-Shan'ani bahwa doa dalam khutbah memiliki adab tersendiri yang berbeda dengan doa biasa.
Sementara itu, jemaah dianjurkan untuk diam, mendengarkan khutbah, dan mengaminkan doa dalam hati.
Baca juga: Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Lebih dari sekadar rangkaian bacaan, khutbah Jumat adalah momen penting yang menyatukan ilmu, nasihat, dan doa dalam satu waktu yang penuh keberkahan.
Seorang khatib bukan hanya membaca teks, tetapi membawa pesan moral dan spiritual kepada jemaah.
Sementara jemaah bukan sekadar pendengar, tetapi bagian dari doa kolektif yang diharapkan dikabulkan.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa khutbah yang baik adalah yang mampu menggugah hati, bukan hanya memenuhi rukun.
Doa penutup khutbah bukan sekadar formalitas, tetapi puncak harapan seorang hamba kepada Tuhannya. Di dalamnya tersimpan permohonan ampun, perlindungan, dan kebaikan hidup.
Di saat itulah, seluruh jemaah menyatu dalam satu harapan yang sama, semoga Allah menerima ibadah mereka, mengampuni dosa-dosa, dan memberikan kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.
Karena pada akhirnya, khutbah Jumat bukan hanya didengar, tetapi juga dihayati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang