Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lokasi Dialog Nabi Musa dengan Allah di Mesir Dijadikan Resor Mewah

Kompas.com, 6 Oktober 2025, 10:40 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Di tengah hamparan gurun batu yang sunyi, Gunung Sinai menjulang dengan tenang. Di sinilah, menurut tiga agama besar dunia—Yahudi, Kristen, dan Islam—Nabi Musa berdialog dengan Allah di antara semak duri yang menyala dan menerima Sepuluh Perintah Allah.

Namun, kesunyian itu kini terusik oleh suara alat berat dan debu proyek wisata raksasa.

Gunung suci yang dikenal secara lokal sebagai Jabal Musa kini masuk dalam rencana megaproyek pariwisata Mesir bernama The Great Transfiguration Project —sebuah inisiatif ambisius untuk mengubah kawasan suci itu menjadi destinasi spiritual modern dengan hotel-hotel mewah, vila, dan kereta gantung menuju puncak gunung.

Baca juga: Meteor Jatuh di Laut Jawa, Begini Penjelasan Al-Qur’an tentang “Api Langit”

Pemerintah Mesir menyebutnya sebagai “hadiah bagi dunia dan semua agama.
Namun, bagi banyak pihak, hadiah itu justru terasa seperti ancaman bagi warisan spiritual dan budaya tertua di dunia.

Biara Tertua Dunia di Tengah Pusaran Modernisasi

Di kaki Gunung Sinai berdiri Biara St. Catherine, biara Kristen tertua di dunia yang masih aktif digunakan.

Didirikan pada abad ke-6 oleh Kaisar Bizantium Yustinianus, biara ini telah menjadi simbol perdamaian antaragama—menyimpan masjid kecil era Fatimiyah di dalam kompleksnya dan memiliki surat perlindungan dari Nabi Muhammad SAW bagi umat Kristen yang tinggal di sana.

Kini, bangunan bersejarah itu terancam oleh proyek modernisasi yang terus merangsek ke wilayah suci tersebut.

“Sebuah dunia urban sedang dibangun di sekitar suku Badui yang memiliki warisan nomaden,” kata Ben Hoffler, penulis perjalanan asal Inggris yang lama bekerja dengan masyarakat Sinai.

“Pembangunan ini tidak diminta oleh suku Jebeleya. Ini proyek yang datang dari atas, untuk melayani kepentingan orang luar,” ujarnya dilansir dari BBC.

Suku Jebeleya—dikenal sebagai Penjaga Biara St. Catherine —mengaku kehilangan rumah dan perkemahan wisata tanpa kompensasi memadai.

Lebih tragis lagi, sebagian warga terpaksa memindahkan jenazah leluhur mereka karena area pemakaman akan dijadikan tempat parkir baru.

Ketegangan Yunani–Mesir: Biara yang Diperebutkan

Kritik terhadap proyek ini datang bukan hanya dari penduduk lokal, tetapi juga dari Yunani, yang memiliki hubungan erat dengan Biara St. Catherine.

Pada Mei lalu, pengadilan Mesir memutuskan bahwa biara tersebut berdiri di tanah milik negara, dan hanya diberi “hak pakai.”

Keputusan itu langsung memicu ketegangan diplomatik. Uskup Agung Ieronymos II dari Athena menyebut keputusan itu sebagai

“Penyitaan terhadap mercusuar spiritual Ortodoks dan Helenisme.”

Sementara Uskup Agung Damianos dari St. Catherine menyebutnya sebagai
“pukulan telak bagi kami… dan sebuah aib.”

Namun, setelah diplomasi intens antara Kairo dan Athena, kedua negara akhirnya menyepakati deklarasi bersama untuk menjamin perlindungan identitas dan warisan budaya biara kuno tersebut.

"Hadiah" atau Ancaman?

Pemerintah Mesir mengklaim proyek Transfigurasi Agung akan menjadi ikon wisata berkelanjutan —dilengkapi hotel ramah lingkungan, pusat pengunjung, hingga perluasan bandara kecil.
Menteri Perumahan Sherif el-Sherbiny mengatakan proyek itu bertujuan

“melestarikan karakter lingkungan dan warisan alam yang masih asli.”

Namun, laporan UNESCO menyebut pembangunan itu telah mengubah Dataran el-Raha, lokasi di mana pengikut Musa diyakini menunggu sang nabi turun dari gunung.

UNESCO menilai kawasan itu memiliki “keindahan alam dan keterpencilan yang menyatu dengan komitmen spiritual manusia.”

Pada 2023, UNESCO meminta Mesir menghentikan sementara pembangunan dan menyusun rencana konservasi.
Namun, hingga kini, rekomendasi itu belum dijalankan.

Organisasi World Heritage Watch bahkan menyerukan agar St. Catherine dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia yang Terancam.

Suku Badui yang Terpinggirkan

Sementara itu, sekitar 4.000 warga suku Badui Jebeleya hidup di tengah perubahan drastis yang mereka tak pernah minta.

Mereka dulunya dikenal sebagai pemandu spiritual, penjaga rute peziarah, dan penjaga biara. Kini, banyak di antara mereka terpinggirkan secara ekonomi dan sosial.

Jurnalis Mesir Mohannad Sabry mengatakan fenomena ini mengulang pola lama:

“Dulu mereka pemandu dan penjaga, sekarang mereka hanya jadi pekerja atau bahkan tersingkir dari tanah sendiri.”

Seperti pembangunan di Sharm el-Sheikh pada 1980-an, proyek wisata baru ini membawa pekerja dari luar Sinai, sementara masyarakat lokal justru kehilangan ruang hidup dan akses ekonomi.

Seruan Dunia: Lindungi Tanah Suci Musa

Kekhawatiran internasional semakin menguat.

Raja Charles III, sebagai pelindung Yayasan St. Catherine, menyebut situs itu sebagai

“harta karun spiritual luar biasa yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.”

Namun, bagi banyak warga lokal, semua seruan itu terdengar terlalu jauh.
Di antara reruntuhan tenda dan rumah yang digusur, mereka hanya berharap satu hal: agar tanah tempat Nabi Musa berbicara dengan Tuhan tidak berubah menjadi kompleks hiburan modern.

“Dulu, peziarah datang untuk berdoa,” kata seorang tetua Badui dengan lirih.

“Sekarang, mereka akan datang untuk berbelanja.”

Gunung yang Masih Bertasbih

Gunung Sinai, dengan tebingnya yang gersang dan langitnya yang bening, telah menjadi saksi perjalanan iman manusia selama ribuan tahun.

Baca juga: Arab Saudi Izinkan Semua Jenis Visa untuk Umrah, Tak Perlu Visa Khusus

Bagi sebagian, proyek pariwisata ini adalah cara untuk membuka Sinai bagi dunia.

Namun bagi yang lain, itu adalah ujian bagi kemanusiaan —antara iman dan komersialisasi, antara melestarikan dan menguasai.

Gunung tempat Nabi Musa berbicara dengan Tuhan kini berbicara lagi —bukan dengan suara api di semak duri, tapi dengan suara mesin dan beton.

Pertanyaannya: apakah manusia masih mau mendengarnya?

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Nusuk Hajj Dibuka, Saudi Mulai Pemilihan Paket Haji 2026 untuk Program Haji Langsung
Aktual
Panduan Lengkap Sholat Dhuha: Waktu, Niat, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Panduan Lengkap Sholat Dhuha: Waktu, Niat, Tata Cara, Doa, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
ISNU Salurkan Bantuan UKT untuk 51 Mahasiswa Korban Banjir Aceh Tamiang
ISNU Salurkan Bantuan UKT untuk 51 Mahasiswa Korban Banjir Aceh Tamiang
Aktual
Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Aktual
KPK Targetkan Penahanan Gus Yaqut dan GP Ansor Hormati Proses Hukum
KPK Targetkan Penahanan Gus Yaqut dan GP Ansor Hormati Proses Hukum
Aktual
7 PTKIN Tembus 100 Besar Kampus Nasional Versi Webometrics Awal 2026
7 PTKIN Tembus 100 Besar Kampus Nasional Versi Webometrics Awal 2026
Aktual
Petugas Haji Dilatih 20 Hari, Kemenhaj Tekankan Fisik dan Mental Pelayan Jamaah
Petugas Haji Dilatih 20 Hari, Kemenhaj Tekankan Fisik dan Mental Pelayan Jamaah
Aktual
Ribuan Hafizah Berkumpul di Kendal, Menag Ungkap Besarnya Kebutuhan Guru Tahfidz Perempuan di Pesantren
Ribuan Hafizah Berkumpul di Kendal, Menag Ungkap Besarnya Kebutuhan Guru Tahfidz Perempuan di Pesantren
Aktual
Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Aktual
Sholat Tahajud Lengkap: Niat, Waktu Terbaik, Tata Cara, dan Bacaan Doa Mustajab
Sholat Tahajud Lengkap: Niat, Waktu Terbaik, Tata Cara, dan Bacaan Doa Mustajab
Doa dan Niat
Kisah Nabi Muhammad SAW Lengkap dari Lahir hingga Wafat
Kisah Nabi Muhammad SAW Lengkap dari Lahir hingga Wafat
Doa dan Niat
Kalender Ramadhan 2026: Tanggal Puasa Versi Muhammadiyah dan Pemerintah 1447 H
Kalender Ramadhan 2026: Tanggal Puasa Versi Muhammadiyah dan Pemerintah 1447 H
Aktual
Doa Setelah Sholat Istikharah Lengkap dengan Arti dan Tata Caranya
Doa Setelah Sholat Istikharah Lengkap dengan Arti dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Kesiapan Masjid Negara IKN untuk Aktivitas Ramadan 1447 Hijriyah
Kesiapan Masjid Negara IKN untuk Aktivitas Ramadan 1447 Hijriyah
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Akar Banjir Bandang Tapanuli, Pemerintah Diminta Bekerja Paralel
Wasekjen PBNU Soroti Akar Banjir Bandang Tapanuli, Pemerintah Diminta Bekerja Paralel
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com