Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Talak Bain dalam Islam, Apakah Masih Bisa Rujuk dengan Mantan Suami?

Kompas.com, 14 Oktober 2025, 21:15 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com-Dalam kehidupan rumah tangga, perceraian kadang terjadi karena berbagai alasan.

Namun, tidak jarang pasangan yang sudah bercerai ingin kembali membangun rumah tangga bersama.

Kondisi seperti ini sering menimbulkan pertanyaan, terutama jika masa iddah sudah lewat.

Apakah seorang perempuan yang sudah habis masa iddah masih bisa rujuk dengan mantan suaminya?

Baca juga: Hukum Talak Saat Marah dalam Islam, Sah atau Tidak?

Perbedaan Talak Raj’i dan Talak Bain

Dilansir dari laman Kemenag, dalam fikih Islam, talak atau perceraian dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu talak raj’i dan talak bain.

Talak raj’i adalah perceraian yang masih memungkinkan rujuk selama istri masih dalam masa iddah.

Artinya, suami yang menjatuhkan talak satu atau dua dapat mengembalikan istrinya tanpa akad baru selama masa iddah belum berakhir.

Sebaliknya, talak bain adalah perceraian yang tidak bisa dirujuk secara langsung.

Suami tidak dapat mengembalikan istrinya kecuali dengan akad dan mahar baru.

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu:

“Talak bain terdiri dari dua jenis, yaitu bain sughra dan bain kubra. Talak bain sughra adalah perceraian yang tidak dapat dirujuk kecuali dengan akad baru dan mahar baru.”
(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz IX, hlm. 6955).

Baca juga: Urutan Wali Nikah dalam Islam dan Ketentuannya

Talak Bain Sugra: Bisa Menikah Lagi dengan Akad Baru

Talak bain sughra terjadi ketika masa iddah dari talak satu atau dua telah habis.

Jika masa iddah telah berlalu, suami tidak lagi memiliki hak untuk rujuk secara otomatis.

Namun, mantan suami dan mantan istri masih diperbolehkan menikah kembali, dengan syarat dilakukan akad nikah baru dan pemberian mahar baru.

Dengan kata lain, hubungan pernikahan sebelumnya telah berakhir, tetapi keduanya tetap bisa membangun pernikahan baru jika keduanya setuju.

Talak Bain Kubra: Tidak Bisa Rujuk Kecuali Lewat Muhallil

Berbeda dengan talak bain sughra, talak bain kubra adalah perceraian yang tidak bisa dirujuk sama sekali, bahkan jika istri masih dalam masa iddah.

Talak ini terjadi setelah suami menjatuhkan talak tiga kali, baik secara bertahap maupun sekaligus.

Dalam kondisi ini, suami tidak bisa menikah kembali dengan mantan istrinya kecuali istri tersebut telah menikah dengan laki-laki lain (disebut muhallil) secara sah, telah berhubungan suami-istri dengannya, lalu bercerai atau ditinggal wafat, dan masa iddahnya selesai.

Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan:

“Talak bain kubra adalah talak di mana suami tidak dapat menikahi kembali mantan istrinya kecuali setelah istri tersebut menikah dengan laki-laki lain secara sah, berhubungan suami-istri dengannya, kemudian berpisah dan selesai masa iddahnya.”
(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz IX, hlm. 6955).

Baca juga: 9 Jenis Pernikahan yang Dilarang dalam Islam Lengkap dengan Dalil Alquran dan Hadis

Lima Syarat Rujuk Setelah Talak Tiga

Ulama mazhab Syafi’i, Abu Syuja, dalam Al-Ghayah wat Taqrib, menjelaskan lima syarat agar pasangan yang sudah talak tiga bisa menikah kembali:

  1. Masa iddah dari talak tiga telah selesai.
  2. Istri telah menikah secara sah dengan laki-laki lain (muhallil).
  3. Muhallil telah menggauli istri seperti hubungan suami-istri pada umumnya.
  4. Istri telah dicerai atau ditinggal mati oleh muhallil.
  5. Masa iddah dari muhallil telah habis.

Jika kelima syarat tersebut terpenuhi, barulah mantan suami dan istri sebelumnya boleh menikah kembali secara sah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar