KOMPAS.com – Di tengah rangkaian ibadah haji dan umrah, ada satu momen yang kerap terlihat sederhana namun sarat makna, langkah yang tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat di antara dua tanda lampu hijau saat sa’i.
Bagi sebagian jemaah, ini mungkin sekadar bagian teknis dari ritual. Namun bagi yang memahami sejarah dan hikmahnya, gerakan ini adalah jejak perjuangan yang terus hidup sejak ribuan tahun lalu.
Sunnah berlari kecil atau yang dikenal sebagai ramal, bukan sekadar anjuran fisik, melainkan simbol ikhtiar, keteguhan, dan harapan yang diwariskan dalam ibadah umat Islam.
Baca juga: Menhaj Wacanakan Sistem Haji Tanpa Antrean, Singgung “War Tiket Haji”
Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang tidak boleh ditinggalkan. Ibadah ini dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Dalam praktiknya, seluruh jemaah berjalan dengan ritme yang relatif tenang. Namun, ada satu pengecualian penting bagi jemaah laki-laki, mereka disunnahkan untuk berlari kecil pada area tertentu yang kini ditandai dengan lampu hijau.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa sa’i bukan sekadar ritual simbolik, melainkan ibadah yang memiliki dasar historis dan teladan langsung dari Rasulullah.
Akar dari sunnah ini tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS dan ibu dari Nabi Ismail AS.
Ketika ditinggalkan di lembah tandus Makkah, Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya.
Pada titik tertentu yang dulunya berupa lembah, ia berlari lebih cepat karena tidak dapat melihat kondisi sekitar dengan jelas.
Perjuangan penuh kecemasan itu berbuah mukjizat, keluarnya air zamzam yang hingga kini menjadi sumber kehidupan di Tanah Suci.
Dalam buku Sejarah Haji karya F.E. Peters disebutkan bahwa sa’i adalah bentuk “ritualisasi perjuangan”, di mana umat Islam menghidupkan kembali momen penuh makna tersebut dalam ibadah mereka.
Tidak semua jalur sa’i dilakukan dengan berlari kecil. Sunnah ini hanya dilakukan di antara dua tanda lampu hijau yang menandai lokasi lembah tempat Siti Hajar berlari. Di luar area tersebut, jemaah cukup berjalan biasa.
Penandaan ini bukan tanpa alasan. Ia menjadi pengingat visual bahwa di titik itulah perjuangan mencapai puncaknya, sebuah fase di mana usaha maksimal harus dikerahkan sebelum menyerahkan hasil kepada Allah.
Dalam Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa batas lampu hijau menjadi panduan praktis agar jemaah dapat menjalankan sunnah sesuai tuntunan Rasulullah.
Baca juga: Bacaan Doa Minum Air Zamzam Lengkap: Adab, Manfaat, dan Keutamaannya
Sunnah berlari kecil saat sa’i secara umum hanya berlaku bagi jemaah laki-laki. Jemaah perempuan tidak disyariatkan untuk melakukan hal tersebut dan cukup berjalan biasa sepanjang lintasan.
Hal ini ditegaskan dalam riwayat sahabat:
“Perempuan tidak perlu melakukan ramal di Ka’bah dan juga ketika sa’i di antara Shafa dan Marwah.” (HR ad-Daruquthni No. 2766, dari Ibn Umar)
Menurut penjelasan dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, mayoritas ulama berpendapat bahwa perempuan tidak dianjurkan berlari kecil karena mempertimbangkan aspek kehormatan dan menjaga aurat.
Meski terdapat pendapat minoritas yang membolehkan perempuan berjalan cepat dalam kondisi tertentu (seperti saat malam hari dan aman), pendapat yang lebih kuat tetap menganjurkan berjalan biasa.
Sering kali terjadi kesalahpahaman di kalangan jemaah. Ada yang melewatkan sunnah ini, ada pula yang melakukannya secara berlebihan.
Padahal, yang dianjurkan adalah:
Dalam buku Manasik Haji Lengkap karya Abdul Aziz Muhammad Azzam dijelaskan bahwa tujuan utama dari ramal bukanlah kecepatan, melainkan mengikuti sunnah Nabi dengan penuh kesadaran.
Jika dilihat lebih dalam, sunnah ini menyimpan pesan spiritual yang kuat.
Pertama, tentang ikhtiar. Siti Hajar tidak hanya menunggu pertolongan, tetapi berusaha sekuat tenaga.
Kedua, tentang harapan. Dalam kondisi paling sulit, ia tetap yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkannya.
Ketiga, tentang tawakal. Setelah usaha maksimal dilakukan, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga.
Dalam perspektif ini, lari kecil saat sa’i menjadi simbol perjalanan hidup manusia, antara usaha dan penyerahan diri.
Baca juga: Ibadah Haji Berapa Lama? Ini Durasi Sebenarnya dari Berangkat hingga Pulang
Menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam sunnah ini tetap relevan hingga hari ini.
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, manusia sering dihadapkan pada situasi yang menuntut usaha maksimal. Namun, tidak semua hal berada dalam kendali.
Sa’i mengajarkan keseimbangan, bekerja keras tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah.
Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni disebutkan bahwa harapan adalah energi spiritual yang membuat manusia tetap bertahan dalam kondisi sulit. Nilai ini tercermin jelas dalam kisah Siti Hajar.
Agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas, pemahaman terhadap setiap rangkaian manasik menjadi kunci.
Mengetahui kapan harus berjalan, kapan berlari kecil, serta memahami hikmah di baliknya akan membuat ibadah terasa lebih hidup.
Tanpa pemahaman, gerakan hanya menjadi aktivitas fisik. Namun dengan ilmu, setiap langkah menjadi ibadah yang penuh kesadaran.
Pada akhirnya, sunnah berlari kecil saat sa’i bukanlah tentang seberapa cepat seseorang bergerak.
Ia adalah pengingat tentang perjuangan seorang ibu, tentang usaha tanpa putus asa, dan tentang keyakinan yang tidak goyah.
Di antara jutaan langkah jemaah di Tanah Suci, ada jejak sejarah yang terus dihidupkan. Dan di sanalah, ibadah menemukan makna terdalamnya: bukan hanya dilakukan, tetapi juga dirasakan. Sebab dalam setiap langkah kecil itu, tersimpan pesan besar tentang kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang