KOMPAS.com – Banyak umat Islam bertanya, apakah sholat taubat harus dilakukan pada malam hari? Ataukah boleh dikerjakan di pagi atau siang hari?
Pertanyaan ini kerap muncul seiring meningkatnya kesadaran untuk kembali kepada Allah SWT setelah melakukan kesalahan.
Sholat taubat sendiri merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampunan secara sungguh-sungguh.
Namun, di balik praktiknya yang sederhana, terdapat sejumlah ketentuan waktu, tata cara, hingga doa yang penting dipahami agar ibadah ini lebih sempurna dan bermakna.
Secara umum, para ulama sepakat bahwa sholat taubat termasuk dalam kategori sholat sunnah mutlak. Artinya, ibadah ini boleh dilakukan kapan saja, baik pagi, siang, sore, maupun malam hari.
Dalam buku Perbaiki Sholatmu Niscaya Allah Akan Perbaiki Hidupmu karya Idris bin Umar dijelaskan bahwa sholat taubat dianjurkan untuk segera dilakukan ketika seseorang menyadari dosa yang telah diperbuat. Menunda taubat justru tidak dianjurkan dalam Islam.
Namun demikian, terdapat beberapa waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat, yaitu:
Di luar waktu-waktu tersebut, sholat taubat tetap sah dan dianjurkan. Artinya, pagi dan siang hari tetap diperbolehkan, selama tidak bertepatan dengan waktu terlarang.
Baca juga: Doa Setelah Shalat Taubat Sesuai Sunnah Rasulullah, Lengkap Niatnya
Sholat taubat bukan sekadar ritual, tetapi bentuk kesungguhan hati untuk kembali kepada Allah SWT.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan dosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang segera bertaubat.
Konsep taubat nasuha sendiri berarti taubat yang dilakukan dengan penuh penyesalan, meninggalkan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya kembali.
Sholat taubat menjadi salah satu bentuk konkret dari taubat tersebut, yang menggabungkan antara ibadah fisik dan spiritual.
Seperti sholat pada umumnya, sholat taubat diawali dengan niat di dalam hati. Berikut lafaz niat yang sering dibaca:
Ushalli sunnatat taubati rak’ataini lillaahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat sholat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Niat ini cukup dihadirkan dalam hati, meskipun boleh dilafalkan untuk membantu kekhusyukan.
Baca juga: Waktu Mustajab Shalat Taubat, Lengkap Niat, Tata Cara, dan Doanya
Sholat taubat umumnya dikerjakan sebanyak dua rakaat, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur fikih.
Secara garis besar, tata caranya sama seperti sholat sunnah lainnya:
Pada rakaat pertama, setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat pendek seperti Ad-Dhuha.
Kemudian dilanjutkan dengan ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua dengan penuh ketenangan (tuma’ninah).
Pada rakaat kedua, setelah Al-Fatihah, sebagian ulama menganjurkan membaca surat Asy-Syams, lalu dilanjutkan dengan rangkaian gerakan sholat hingga tasyahud akhir dan salam.
Dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa tidak ada ketentuan baku mengenai surat yang harus dibaca. Artinya, umat Islam bebas membaca surat apa saja sesuai kemampuan.
Yang paling utama adalah kekhusyukan dan kesadaran penuh atas dosa yang ingin ditaubati.
Setelah menunaikan sholat, dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan doa taubat. Salah satu doa yang sering dibaca adalah:
Astaghfirullaahal azhiima, alladzii laailaaha illa huwal hayyul qayyuumu waatuubu ilaihi taubat a'abdin zhaalimin laayamliku linafsihi dlarran walaa naf'an wa laa mautan walaa hayaatan walaa nusyuu raa
Artinya : "Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, saya mengaku bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, Tuhan yang hidup terus selalu jaga.
Saya memohon taubat kepadaNya, selaku taubatnya seorang .hamba yang banyak berdosa, yang tidak mempunyai daya upaya untuk berbuat madlarrat atau manlaat, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti".
Selain itu, dianjurkan membaca Sayyidul Istighfar:
Allahumma anta rabii laa ilaaha illa anta. Khalaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wawa'dika mas thatha'tu a-'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini' matika'alayya wa-abuu u bidzanbii faghfirli fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hambaMu. Dan akupun dalam ketentuan serta janjiMu sedapat mungkin aku lakukan. Aku mohon berlindung kepadaMu dari segala kejahatan yang telah Engkau ciptakan, aku mengakui nikmatMu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tidak ada yang dapat memberi pengampunan, kecuali hanya Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan dari segala kejahatan apa yang kulakukan."
Doa ini disebut dalam hadits sebagai salah satu istighfar paling utama.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa memperbanyak istighfar setelah sholat merupakan bentuk penyempurna taubat dan tanda kesungguhan seorang hamba.
Baca juga: Shalat Taubat: Niat, Doa, dan Cara Ampuh Menghapus Dosa
Meski boleh dilakukan kapan saja, ada waktu yang dianggap paling utama untuk melaksanakan sholat taubat, yaitu pada sepertiga malam terakhir.
Waktu ini dikenal sebagai saat turunnya rahmat Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits shahih.
Dalam buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah, dijelaskan bahwa malam hari adalah waktu terbaik untuk bermunajat karena suasana yang tenang dan jauh dari gangguan.
Sholat taubat yang dilakukan pada waktu ini sering disandingkan dengan sholat tahajud, sehingga memperkuat kekhusyukan dan kedekatan spiritual.
Namun demikian, kembali pada prinsip awal, taubat tidak boleh ditunda. Jika seseorang merasa bersalah di pagi atau siang hari, maka saat itu pula ia dianjurkan untuk segera bertaubat.
Penting dipahami bahwa sholat taubat bukan satu-satunya syarat diterimanya taubat. Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa taubat yang diterima memiliki tiga syarat utama:
Sholat taubat menjadi pelengkap yang memperkuat proses tersebut, bukan pengganti dari kesungguhan hati.
Sholat taubat adalah pintu kembali bagi setiap Muslim yang ingin memperbaiki diri. Ia tidak dibatasi oleh waktu tertentu, kecuali pada saat-saat yang memang dilarang untuk sholat.
Baik pagi, siang, maupun malam, semua menjadi kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT.
Namun, yang terpenting bukanlah kapan waktu melaksanakannya, melainkan seberapa tulus hati dalam memohon ampunan.
Sebab pada akhirnya, taubat bukan sekadar ibadah, melainkan perjalanan pulang seorang hamba menuju Tuhannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang