Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nabi Nuh AS, Ketaatan di Tengah Ejekan dan Penolakan

Kompas.com, 19 Desember 2025, 15:16 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nabi Nuh AS dikenal sebagai rasul pertama yang diutus kepada manusia ketika penyembahan berhala mulai menguasai kehidupan.

Dalam Kisah Para Nabi, disebutkan bahwa Nabi Nuh datang membawa seruan sederhana namun mendasar, kembali menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala-berhala seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.

Ironisnya, berhala-berhala tersebut awalnya berasal dari nama orang-orang saleh yang kemudian diagungkan secara berlebihan hingga disembah.

Dakwah Nabi Nuh AS berlangsung sangat panjang. Al-Qur’an menyebut beliau menyeru kaumnya selama 950 tahun.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُون

Wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa labiṡa fīhim alfa sanatin illā khamsīna 'āmā, fa akhażahumuṭ-ṭụfānu wa hum ẓālimụn

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Baca juga: Kisah Unik Nabi Idris AS: Nabi Pertama yang Mengajarkan Tulisan dan Peradaban

Siang dan malam, secara terbuka maupun diam-diam, ajakan itu terus disampaikan. Namun, yang beriman hanyalah sedikit.

Sebuah kenyataan pahit bagi seorang rasul yang telah mengerahkan seluruh kesabaran dan keteguhan hati.

Penolakan kaumnya bukan penolakan biasa. Nabi Nuh AS dicemooh, dilecehkan, dan dianggap sesat. Para pemuka masyarakat memandang rendah dirinya karena ia hanyalah manusia biasa, bahkan pengikutnya berasal dari kalangan yang dianggap lemah dan hina.

Ukuran kebenaran pun dipelintir, bukan pada pesan yang dibawa, melainkan pada status sosial dan jumlah pengikut. Pola seperti ini terasa akrab di zaman sekarang, ketika suara kebenaran sering kalah oleh popularitas dan kuasa.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Ketika penolakan kian mengeras dan tidak ada lagi harapan perubahan, Nabi Nuh AS memohon keputusan Allah.

Wahyu pun turun, tidak akan ada lagi yang beriman selain mereka yang telah beriman. Nabi Nuh diperintahkan membangun sebuah bahtera besar di bawah pengawasan dan petunjuk Allah. Sebuah perintah yang, secara logika manusia tampak mustahil.

Proses pembuatan bahtera tersebut tentu memakan waktu yang sangat lama. Ada riwayat yang menyebut Nabi Nuh menanam pohon terlebih dahulu, menunggu puluhan bahkan ratusan tahun hingga kayunya siap digunakan.

Kapal itu dibuat besar dan bertingkat, bagian bawah untuk hewan, bagian tengah untuk manusia, dan bagian atas untuk burung.

Selama proses tersebut, ejekan tak pernah berhenti. Kaumnya menertawakan Nabi Nuh yang membangun kapal di daratan kering, jauh dari laut.

Namun Nabi Nuh AS tidak berhenti. Ia tetap melaksanakan perintah Allah dengan penuh keyakinan. Hingga saat yang telah ditentukan tiba, tanda azab pun muncul, air memancar dari tanur.

Baca juga: Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah

Langit menurunkan hujan deras tanpa henti, sementara bumi memancarkan mata air dari berbagai penjuru. Air bertemu air, menciptakan banjir bandang yang menenggelamkan segala yang ingkar.

Di tengah gelombang yang menjulang seperti gunung, bahtera Nabi Nuh berlayar membawa orang-orang beriman dan makhluk hidup yang telah ditentukan.

Namun, kisah ini menyimpan satu episode paling menyayat yaitu, penolakan anak Nabi Nuh sendiri. Ketika dipanggil dengan penuh kasih untuk naik ke bahtera, sang anak menolak.

Ia merasa mampu menyelamatkan diri dengan berlindung di gunung yang tinggi. Keyakinan pada kekuatan diri ternyata berujung petaka. Gelombang besar memisahkan keduanya dan sang anak pun tenggelam.

Peristiwa ini menegaskan pesan penting Al-Qur’an, keselamatan tidak ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh iman dan amal.

Nabi Nuh AS pun menyadari keterbatasannya sebagai manusia dan memohon ampun kepada Allah. Sebuah pelajaran tentang ketundukan dan penerimaan terhadap keputusan Ilahi.

Setelah banjir surut dan bahtera berlabuh di Gunung Judy, Nabi Nuh dan para pengikutnya turun dengan keselamatan dan keberkahan.

Dari keturunan Nabi Nuh Sam, Ham, dan Yafits, umat manusia berkembang hingga hari ini. Menjelang akhir hayatnya, Nabi Nuh AS meninggalkan wasiat penting, berpegang teguh pada tauhid, memperbanyak tasbih, serta menjauhi syirik dan kesombongan.

Kisah Nabi Nuh AS adalah cermin bagi zaman apa pun. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu ramai, bahwa kesetiaan pada nilai sering kali sunyi dan berat.

Namun, di tengah ejekan dan penolakan, ketaatan tetap menemukan jalannya. Sebab pada akhirnya, keselamatan bukan ditentukan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh keteguhan iman di hadapan Allah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar