Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Abu Lahab: Dari Sukacita hingga Permusuhan yang Membinasakan

Kompas.com, 31 Desember 2025, 10:57 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Abu Lahab bernama asli ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib adalah paman Nabi Muhammad SAW.

Dalam catatan sejarah Islam, ia pernah menunjukkan kegembiraan ketika mendengar kabar kelahiran keponakannya.

Riwayat yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Abu Lahab memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai ungkapan sukacita atas kelahiran Nabi.

Sebagian ulama, merujuk pada hadis yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari secara mu‘allaq, menyebutkan bahwa kegembiraan tersebut menyebabkan siksa Abu Lahab diringankan setiap hari Senin.

Namun, keringanan itu bersifat sementara dan tidak mengubah nasib akhirnya. Sebab kegembiraan tanpa iman tidak pernah cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kesesatan yang dipilihnya sendiri.

Baca juga: Abu Jahal: Musuh Nabi yang Sadar Kebenaran, tapi Menolaknya

Dari Kerabat Menjadi Penentang Terdepan Dakwah

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan risalah tauhid secara terbuka, sikap Abu Lahab berubah tajam.

Ia melihat dakwah Islam sebagai ancaman terhadap tatanan sosial dan ekonomi Quraisy yang bertumpu pada penyembahan berhala. Hubungan darah pun tidak lagi berarti.

Puncak penentangan Abu Lahab terjadi saat Rasulullah SAW mengumpulkan kaum Quraisy di Bukit Shafa.

Seruan Nabi untuk kembali kepada Allah dijawab dengan cemoohan. Abu Lahab berteriak, “Tabban laka!” ungkapan kutukan yang kemudian dibalas langsung oleh wahyu Surah al-Lahab. Peristiwa ini dicatat dalam banyak kitab sirah, antara lain Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

Bentuk-Bentuk Kekerasan dan Penghinaan

Permusuhan Abu Lahab tidak berhenti pada penolakan verbal. Ia kerap mengikuti Rasulullah saat berdakwah untuk memotong ucapannya dengan tuduhan dusta.

Dalam sejumlah riwayat yang dikumpulkan oleh Ibnu Ishaq dan dirangkum oleh Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Abu Lahab pernah meludahi Rasulullah SAW di hadapan orang banyak sebuah penghinaan berat dalam budaya Arab.

Kekerasan simbolik itu berlanjut dalam bentuk teror sehari-hari. Istri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb, berulang kali meletakkan duri, kotoran, dan sampah di jalan yang biasa dilalui Nabi atau di sekitar rumah beliau.

Al-Qur’an kemudian menyebut Ummu Jamil sebagai ḥammālatal-ḥaṭab, metafora bagi penyulut kebencian dan permusuhan atau pembawa kayu bakar.

Baca juga: Sirah Nabawiyah: Kisah Hidup Nabi Muhammad SAW dari Lahir hingga Wafat

Rasulullah Shalat, Fatimah Melindungi

Salah satu peristiwa paling menyentuh dalam fase Mekah adalah gangguan yang terjadi saat Rasulullah SAW sedang menunaikan shalat.

Dikutip dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam dan Zad al-Ma‘ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa kotoran pernah dilemparkan atau diletakkan di tempat shalat Rasulullah ketika beliau sedang sujud.

Rasulullah tidak membatalkan shalatnya dan tidak membalas perlakuan itu. Dalam situasi itulah Fatimah az-Zahra, putri beliau yang masih belia datang menghampiri.

Ia membersihkan kotoran tersebut dan berdiri di sisi ayahnya. Peristiwa ini kerap dibaca oleh para sejarawan sebagai potret sunyi keteguhan iman seorang nabi yang bertahan dalam kehinaan, ditemani kasih seorang anak.

Hukuman Ilahi dalam Surah al-Lahab

Permusuhan Abu Lahab akhirnya diabadikan dalam wahyu. Surah al-Lahab turun sebagai penegasan bahwa kekuasaan, harta, dan status sosial tidak memiliki nilai di hadapan kebenaran.

Abu Lahab dan istrinya digambarkan sebagai simbol kesombongan yang menolak cahaya iman secara sadar dan aktif.

Menurut penjelasan para mufasir klasik seperti al-Tabari dan al-Qurthubi, surah ini bukan sekadar kecaman personal, melainkan pelajaran moral tentang akhir dari kebencian yang dipelihara dan kesombongan yang dibiarkan tumbuh.

Baca juga: Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah

Pelajaran Moral dari Kisah Abu Lahab

Kisah Abu Lahab memperlihatkan bahwa kedekatan keluarga dengan seorang nabi tidak menjamin keselamatan.

Islam menilai manusia berdasarkan iman dan amal, bukan relasi biologis atau emosi sesaat. Kegembiraan Abu Lahab di awal kehidupan Nabi tidak berarti apa-apa ketika ia memilih menjadi musuh dakwah hingga akhir hayat.

Sebaliknya, keteguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi penghinaan menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu dibalas dengan penerimaan.

Ia sering kali tumbuh dalam kesabaran, luka, dan ketabahan. Dari kisah inilah Al-Qur’an menegaskan bahwa kebenaran akan tetap berdiri, meski harus melewati jalan yang sunyi dan menyakitkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sidang Isbat 17 Februari 2026, Ini Dasar Hukum Penetapan Awal Ramadhan 1447 H
Sidang Isbat 17 Februari 2026, Ini Dasar Hukum Penetapan Awal Ramadhan 1447 H
Aktual
Menag Tegaskan Sidang Isbat Tetap Jadi Penentu Awal Ramadhan 1447 H
Menag Tegaskan Sidang Isbat Tetap Jadi Penentu Awal Ramadhan 1447 H
Aktual
Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar
Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar
Doa dan Niat
Cek Jadwal Imsakiyah 2026 Jakarta Hari Pertama Versi Muhammadiyah
Cek Jadwal Imsakiyah 2026 Jakarta Hari Pertama Versi Muhammadiyah
Aktual
Jadwal Imsakiyah 2026 Muhammadiyah Lengkap Kabupaten/Kota se-Indonesia
Jadwal Imsakiyah 2026 Muhammadiyah Lengkap Kabupaten/Kota se-Indonesia
Aktual
Tak Semua Orang Wajib Puasa, Siapa Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya
Tak Semua Orang Wajib Puasa, Siapa Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Doa Ramadhan: Bacaan Lengkap Menyambut Puasa, dari Doa Awal Bulan hingga Doa Berbuka
Doa Ramadhan: Bacaan Lengkap Menyambut Puasa, dari Doa Awal Bulan hingga Doa Berbuka
Doa dan Niat
Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto
Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto
Aktual
Jadwal Pembelajaran Pesantren Selama Ramadhan 2026 dari Kemenag
Jadwal Pembelajaran Pesantren Selama Ramadhan 2026 dari Kemenag
Aktual
Hilal Masih di Bawah Ufuk, NU Tetap Rukyatul Hilal 17 Februari 2026
Hilal Masih di Bawah Ufuk, NU Tetap Rukyatul Hilal 17 Februari 2026
Aktual
Sekjen PBB Antonio Guterres Ajak Dunia Jadikan Ramadhan 2026 Momentum Perdamaian
Sekjen PBB Antonio Guterres Ajak Dunia Jadikan Ramadhan 2026 Momentum Perdamaian
Aktual
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah Hari Pertama: Cek Waktu Imsak, Subuh hingga Maghrib di 5 Kota Besar
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah Hari Pertama: Cek Waktu Imsak, Subuh hingga Maghrib di 5 Kota Besar
Aktual
Pemkot Jambi Larang Operasional Hiburan Malam Mulai H-3 Ramadhan hingga H+3 Lebaran
Pemkot Jambi Larang Operasional Hiburan Malam Mulai H-3 Ramadhan hingga H+3 Lebaran
Aktual
Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Puasa 1 Ramadhan 2026
Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Puasa 1 Ramadhan 2026
Aktual
Gamis Lebaran 2026 Terbaru di Toko Online, Model Simple hingga Mewah Mulai Diburu
Gamis Lebaran 2026 Terbaru di Toko Online, Model Simple hingga Mewah Mulai Diburu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com