Editor
KOMPAS.com-Zohran Mamdani menarik perhatian publik saat dilantik sebagai Wali Kota New York dengan memilih tiga mushaf Alquran dalam prosesi sumpah jabatannya.
Pilihan tersebut bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan cerminan keimanan pribadi, sejarah keluarga, dan identitas multikultural kota New York.
Dilansir dari Gulfnews, dalam upacara tertutup yang digelar tengah malam di stasiun kereta bawah tanah Balai Kota yang sudah tidak beroperasi, Mamdani meletakkan tangannya di atas dua mushaf Alquran.
Baca juga: Zohran Mamdani Wali Kota New York Pertama yang Disumpah dengan Al Quran
Salah satu mushaf tersebut merupakan pusaka keluarga milik kakeknya.
Mushaf lainnya adalah Alquran berukuran saku yang berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.
Alquran bersejarah tersebut merupakan bagian dari koleksi Schomburg Center for Research in Black Culture milik Perpustakaan Umum New York.
Pada pelantikan publik yang berlangsung di Balai Kota pada hari pertama tahun baru, Mamdani kembali menggunakan mushaf pusaka keluarga.
Dua mushaf yang digunakan dalam prosesi publik tersebut diketahui berasal dari kakek dan neneknya.
Tim kampanye Mamdani tidak mengungkapkan detail lebih lanjut mengenai latar belakang mushaf pusaka keluarga tersebut.
Baca juga: Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama New York yang Tantang Donald Trump
Zohran Mamdani resmi dilantik sebagai Wali Kota New York ke-112 oleh Jaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James.
Prosesi pelantikan tersebut turut disaksikan oleh sang istri, Rama Duwaji.
Pada usia 34 tahun, Mamdani mencetak sejarah sebagai wali kota Muslim pertama di New York.
Ia juga menjadi wali kota pertama berdarah Asia Selatan dan yang lahir di Afrika.
Selama ini, sebagian besar wali kota New York mengucapkan sumpah jabatan di atas Alkitab.
Namun, Konstitusi Amerika Serikat tidak mewajibkan penggunaan kitab suci tertentu dalam prosesi sumpah jabatan pejabat publik.
Baca juga: Mamdani Wali Kota Muslim Pertama New York, Muhammadiyah: Barat Lihat Kapasitas, Bukan Agamanya
Manuskrip Alquran dari Schomburg Center memiliki makna simbolis yang kuat dalam konteks sejarah kota New York.
Kurator Studi Timur Tengah dan Islam di Perpustakaan Umum New York, Hiba Abid, menyebut mushaf tersebut sebagai penghubung antara nilai keimanan dan identitas dalam sejarah kota tersebut.
Menurut Abid, manuskrip itu mencerminkan keberagaman serta jangkauan komunitas Muslim yang telah lama menjadi bagian dari New York.
Mushaf Alquran tersebut diperoleh oleh Arturo Schomburg, sejarawan keturunan Afrika dan Puerto Rico.
Baca juga: Wali Kota New York Zohran Mamdani dan Imam Shamsi Ali Awali Hari Pemilihan dengan Baca Al-Fatihah
Koleksi Schomburg dikenal luas karena mendokumentasikan kontribusi global masyarakat keturunan Afrika.
Meski tidak diketahui secara pasti bagaimana Schomburg memperoleh mushaf tersebut, para peneliti meyakini keberadaannya mencerminkan ketertarikannya pada hubungan historis antara Islam dan budaya masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat serta Afrika.
Berbeda dengan manuskrip kerajaan yang dihiasi ornamen mewah, mushaf Alquran ini tampil sederhana.
Mushaf tersebut dijilid dengan kulit merah tua, dihiasi medali bunga sederhana, dan ditulis menggunakan tinta hitam serta merah.
Gaya tulisannya yang jelas dan mudah dibaca menunjukkan bahwa mushaf tersebut ditujukan untuk penggunaan sehari-hari.
“Nilai penting Alquran ini tidak terletak pada kemewahan, melainkan pada aksesibilitasnya,” ujar Abid.
Usai pelantikan, mushaf Alquran bersejarah tersebut dijadwalkan akan dipamerkan kepada publik di Perpustakaan Umum New York.
Pilihan tiga mushaf Alquran dalam pelantikan Zohran Mamdani akhirnya menjadi simbol pertemuan antara iman, sejarah keluarga, dan identitas kota yang dibangun dari keberagaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang