Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Penjelasan Kemenag dan BRIN

Kompas.com, 13 Januari 2026, 17:14 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kompas.com

KOMPAS.com-Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026), sebagai penentu resmi dimulainya ibadah puasa umat Islam di Indonesia.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyebutkan bahwa kalender Hijriah pemerintah dan sejumlah organisasi masyarakat Islam memang telah mencantumkan awal Ramadhan pada Kamis (19/2/2026).

Namun, Thobib menegaskan bahwa pemerintah tetap menunggu hasil Sidang Isbat sebelum menetapkan awal Ramadhan secara resmi.

“Dalam kalender Hijriah pemerintah dan beberapa ormas Islam tertera awal Ramadhan jatuh pada tanggal 19 Februari 2026, namun untuk pemerintah tetap menunggu pelaksanaan Isbat awal Ramadhan 1447 yang insyaallah akan dilaksanakan pada 17 Februari 2026,” ujar Thobib, dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/2/2026).

Baca juga: Ini Jadwal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah

Potensi Berbeda

Thobib juga menyampaikan bahwa awal Ramadhan 2026 berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

“Kemungkinan awal Ramadhan akan terjadi perbedaan yang memang sudah diprediksi dari sekarang, berdasarkan kalender yang ada dan maklumat dari beberapa ormas yang telah menetapkan tanggal awal Ramadhan 1447,” jelas Thobib.

Baca juga: Kalender Ramadhan 2026: Tanggal Puasa Versi Muhammadiyah dan Pemerintah 1447 H

Menanggapi potensi perbedaan tersebut, Thobib mengimbau masyarakat agar tidak mempermasalahkan perbedaan penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi di Indonesia.

“Jika memang hal itu tidak bisa dihindarkan, pemerintah berharap agar masyarakat tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah,” tambahnya.

Posisi Hilal

Prediksi serupa juga disampaikan Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Thomas Djamaluddin.

Menurut Thomas, posisi hilal pada Selasa (17/2/2026), di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

“Kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik,” ujar Thomas kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).

“Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia belum memenuhi kriteria,” lanjutnya.

Baca juga: Maniliak Bulan, Tradisi Melihat Hilal Syattariyah Padang Pariaman Ditetapkan Jadi WBTbI

Berdasarkan perhitungan tersebut, Thomas memperkirakan awal Ramadhan versi pemerintah berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Namun, ia menjelaskan bahwa sebagian ormas Islam menggunakan kriteria Turkiye yang memungkinkan awal Ramadhan ditetapkan lebih awal.

“Di wilayah Amerika, termasuk Alaska, posisi hilal telah memenuhi kriteria Turkiye dengan tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, sehingga 1 Ramadhan 1447 Hijriah dapat jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026,” jelas Thomas.

“Jadi, ada potensi perbedaan awal Ramadhan, ada yang 19 Februari dan ada yang 18 Februari,” tambahnya.

Artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul Kapan Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadhan 2026? Ini Kata Kemenag

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com