Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menhaj Kenang Pengalaman Bersihkan Toilet Saat Haji, Pesan Rendah Hati bagi Petugas

Kompas.com, 14 Januari 2026, 18:00 WIB
Khairina

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com-Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf membagikan pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah haji reguler pada 2008 kepada para calon petugas haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (14/1/2025).

Ia mengenang kondisi darurat sanitasi di sekitar Jamarat ketika pasokan air mati selama beberapa hari.

Situasi tersebut membuat toilet umum dalam kondisi sangat kotor dan tidak layak digunakan.

Baca juga: Menhaj Tegaskan Petugas Haji 2026 Tak Boleh Layani Pejabat, Fokus Jamaah

Menhaj Irfan Yusuf menceritakan dirinya turun langsung membersihkan toilet saat air kembali mengalir pada tengah malam.

“Waktu itu air mati berhari-hari, toilet kotor luar biasa, saat air menyala tengah malam saya gelontor satu per satu kloset di satu lantai itu,” ujar Irfan Yusuf, dilansir dari Antara.

Kisah tersebut disampaikan bukan untuk menunjukkan keistimewaan pribadi, melainkan sebagai refleksi keras bagi ego dan gengsi calon petugas haji.

Menhaj menegaskan pelayanan jamaah menuntut kerendahan hati dan kesediaan melakukan tugas apa pun demi kenyamanan bersama.

Baca juga: Menhaj: Haji Bukan Sekadar Urusan Teknis, tetapi Amanah Moral dan Spiritual

Ia meminta lebih dari 1.600 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 Hijriah/2026 menyingkirkan rasa jijik dan gengsi saat menjalankan tugas.

Menurut dia, kepekaan sosial menjadi kunci utama dalam menciptakan kenyamanan jamaah haji Indonesia.

Menhaj juga menginstruksikan agar budaya peduli kebersihan mulai dibangun sejak masa pendidikan dan pelatihan di asrama haji.

Ia menekankan setiap petugas harus bersikap tanggap terhadap sampah dan kondisi lingkungan sekitar.

“Ada sampah, siapa pun yang melihat ambil, ada kloset kotor bersihkan, jangan tanya siapa yang mengotori, kebiasaan kecil ini akan berdampak besar saat di Saudi nanti,” kata Irfan Yusuf.

Baca juga: Menhaj: Kuota Haji 2026 Diatur Ulang Lewat Sistem Waiting List Agar Lebih Adil

Isu sanitasi di Mina selama ini memang menjadi persoalan berulang dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Pada musim haji 2024 dan 2025, keluhan mengenai tumpukan sampah serta toilet yang tidak berfungsi sempat ramai diperbincangkan di media sosial.

Dengan menekankan disiplin kebersihan sejak masa pelatihan, penyelenggara haji 2026 berupaya menerapkan pendekatan pencegahan berbasis budaya kerja.

Para petugas haji, termasuk tim Media Center Haji dan petugas kesehatan, kini dibebani tanggung jawab moral tambahan sebagai agen kebersihan di luar tugas utama mereka.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan dan kualitas pelayanan jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com