KOMPAS.com - Rasulullah SAW tidak hanya mewariskan risalah kenabian kepada umat Islam, tetapi juga menghadirkan teladan kehidupan keluarga yang sarat nilai moral, spiritual, dan sosial.
Dalam lingkup rumah tangga Nabi, para istri Rasulullah yang dikenal sebagai Ummahatul Mukminin memainkan peran penting dalam membentuk peradaban Islam awal.
Keteladanan mereka tidak berhenti pada sisi domestik, tetapi meluas pada kontribusi ekonomi, pendidikan, sosial, dan penjagaan nilai-nilai agama.
Bagi Muslimah masa kini, figur para istri Nabi menjadi rujukan nyata tentang bagaimana peran perempuan dapat dijalankan secara seimbang antara ibadah, produktivitas, dan kontribusi sosial.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan di tengah tantangan zaman modern yang menuntut kemandirian, kecakapan intelektual, serta kepekaan sosial.
Baca juga: Profil 11 Istri Nabi Muhammad SAW: Teladan Wanita Sepanjang Zaman
Salah satu figur utama dalam sejarah Islam adalah Khadijah binti Khuwailid RA. Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Khadijah merupakan saudagar sukses yang dikenal jujur, cerdas, dan visioner dalam mengelola perdagangan.
Ia tidak sekadar mewarisi kekayaan keluarga, tetapi mengembangkan modal tersebut melalui jaringan bisnis lintas wilayah.
Khadijah menunjukkan bahwa kemandirian finansial dapat berjalan seiring dengan ketakwaan. Hartanya tidak digunakan untuk kepentingan pribadi semata, melainkan diprioritaskan untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW di masa-masa awal Islam.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa bantuan ekonomi Khadijah menjadi penopang utama perjuangan Nabi saat menghadapi tekanan sosial dan boikot Quraisy.
Keteladanan ini memberi pelajaran bahwa pengelolaan harta yang amanah, produktif, dan berorientasi maslahat merupakan bagian dari ibadah.
Bagi Muslimah masa kini, nilai tersebut dapat diterapkan dalam bentuk literasi keuangan, etika bisnis, serta penggunaan rezeki untuk tujuan sosial dan dakwah.
Peran Aisyah binti Abu Bakar RA dalam dunia ilmu pengetahuan menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.
Dalam kitab Tahdzib al-Kamal karya Al-Mizzi dan juga dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, Aisyah tercatat sebagai salah satu perawi hadis terbanyak dengan lebih dari dua ribu riwayat.
Tidak hanya meriwayatkan hadis, Aisyah juga dikenal sebagai rujukan para sahabat dalam persoalan fikih, tafsir, hingga masalah sosial.
Ia aktif mengajar dan memberikan fatwa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan umat.
Semangat intelektual Aisyah menegaskan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban personal, tetapi juga sarana membangun peradaban.
Dalam konteks hari ini, keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan formal, riset, literasi digital, serta kontribusi akademik yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Baca juga: Tugas Istri dalam Islam: Peran Utama yang Tidak Sekadar Urusan Rumah Tangga
Sosok Zainab binti Jahsy RA dikenal luas karena kepedulian sosialnya. Dalam buku Al-Isabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, disebutkan bahwa Zainab memiliki keterampilan tangan, seperti menyamak kulit dan membuat kerajinan yang hasilnya dijual untuk disedekahkan kepada fakir miskin.
Kisah ini diperkuat oleh hadis riwayat Muslim yang dikutip dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda, “Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”
Aisyah menjelaskan bahwa maksudnya adalah Zainab, karena ia paling banyak bersedekah melalui hasil kerja tangannya.
Keteladanan Zainab menunjukkan bahwa kreativitas dan keterampilan dapat menjadi jalan ibadah.
Produktivitas tidak selalu identik dengan keuntungan pribadi, tetapi dapat diarahkan untuk membangun solidaritas sosial dan memperkuat kesejahteraan umat.
Kontribusi Hafshah binti Umar RA memiliki posisi sangat penting dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an.
Dalam buku Mabahith fi 'ulum al-Qur'an karya Manna’ Al-Qaththan dijelaskan bahwa mushaf yang dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar RA disimpan di rumah Hafshah.
Peran ini menempatkan Hafshah sebagai penjaga amanah besar umat Islam. Ketelitian, kecakapan literasi, serta kepercayaan yang diberikan kepadanya menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar dalam menjaga warisan intelektual dan spiritual Islam.
Nilai ini relevan hingga kini, terutama dalam konteks menjaga tradisi membaca Al-Qur’an, menghafal, mengajarkan, serta merawat nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Aisyah: Istri Nabi Muhammad SAW Paling Banyak Meriwayatkan Hadits
Keteladanan para istri Rasulullah SAW tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai yang mereka wariskan membentuk pola hidup Muslimah yang seimbang antara spiritualitas, produktivitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial.
Di tengah tantangan modern seperti krisis moral, tekanan ekonomi, serta derasnya arus budaya global, figur Ummahatul Mukminin menghadirkan rujukan autentik tentang bagaimana perempuan Muslim dapat tetap berdaya tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Peringatan terhadap peran para istri Nabi sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan peradaban Islam tidak hanya bertumpu pada tokoh laki-laki, tetapi juga ditopang oleh perempuan-perempuan beriman yang bekerja dalam senyap, beramal dalam konsistensi, dan mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat.
Meneladani mereka bukan sekadar mengagungkan sejarah, melainkan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam realitas kehidupan hari ini dengan membangun keluarga yang berakhlak, masyarakat yang peduli, serta generasi yang berilmu dan berintegritas.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang