KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momentum spiritual yang paling dinanti umat Islam.
Selain diwajibkannya ibadah puasa, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan turunnya Alquran. Karena itu, interaksi umat Muslim dengan kitab suci semakin intens, mulai dari tilawah harian, tadarus berjamaah, hingga target mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu bulan penuh.
Tradisi mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan refleksi dari kesadaran spiritual bahwa Alquran merupakan sumber petunjuk hidup.
Ulama klasik hingga kontemporer sepakat bahwa membaca dan menuntaskan Alquran di bulan suci memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
Baca juga: Ini Jadwal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah
Alquran pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa pemilihan Ramadhan sebagai waktu turunnya wahyu menunjukkan keistimewaan bulan ini sebagai masa penyucian jiwa dan peningkatan kualitas iman.
Karena itu, memperbanyak tilawah dan mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan dipandang sebagai bentuk penyelarasan diri dengan semangat wahyu.
Aktivitas ini tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga membangun kesadaran moral, etika, dan spiritual umat Islam.
Baca juga: Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Mengkhatamkan Alquran termasuk amalan yang sangat dicintai Allah. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menyebut istilah al-hal wal murtahal, yaitu orang yang terus membaca Alquran dari awal hingga akhir, lalu mengulanginya kembali.
Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Kayfa Nata Amalu Ma a Al Sunnah Al Nabawiyah, menegaskan bahwa kontinuitas membaca Alquran mencerminkan kedekatan seorang hamba dengan Allah.
Tilawah yang konsisten membentuk hubungan spiritual yang kuat, terutama ketika dilakukan di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.
Keutamaan lain dari mengkhatamkan Alquran adalah pengangkatan derajat. Dalam hadis riwayat Muslim dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW menyebut bahwa Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Alquran dan merendahkan kaum lain karena meninggalkannya.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, makna pengangkatan derajat ini mencakup kemuliaan moral, keluasan ilmu, serta kedudukan mulia di akhirat.
Orang yang dekat dengan Alquran akan mendapatkan kehormatan, bukan karena status sosialnya, tetapi karena kedalaman spiritual dan akhlaknya.
Baca juga: Hitung Mundur Ramadhan 2026: Awal Puasa Diprediksi 18 atau 19 Februari
Salah satu keutamaan terbesar membaca dan mengkhatamkan Alquran adalah syafaat di hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Alquran akan datang memberi pertolongan bagi para pembacanya kelak di akhirat.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa syafaat Alquran bukan sekadar hadiah simbolik, melainkan hasil dari hubungan spiritual yang terbangun antara hamba dan firman Allah.
Semakin seseorang memahami, menghayati, dan mengamalkan isi Alquran, semakin besar peluangnya mendapatkan pertolongan tersebut.
Baca juga: Saat Dunia Terasa Tak Adil, Ini Pengingat dari Alquran
Membaca Alquran juga mendatangkan ketenangan jiwa. Dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa majelis tilawah Alquran akan diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan disebut namanya oleh Allah di hadapan makhluk-Nya.
Menurut Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an, aktivitas membaca Alquran bukan hanya ritual lisan, tetapi juga terapi spiritual yang menenangkan hati.
Inilah sebabnya Ramadhan sering menjadi momen kebangkitan spiritual bagi banyak orang karena intensitas interaksi dengan Alquran meningkat.
Baca juga: Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Keutamaan lain yang sangat agung adalah kedudukan bersama para malaikat. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang mahir membaca Alquran akan bersama malaikat yang mulia dan taat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menafsirkan bahwa kebersamaan ini menunjukkan kesamaan sifat, yaitu kemurnian hati, ketaatan, dan kedisiplinan dalam ibadah.
Hal ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk terus memperbaiki kualitas bacaan dan pemahaman Alquran, khususnya di bulan Ramadhan.
Para ulama salaf dikenal menjadikan Ramadhan sebagai bulan Alquran. Imam Syafi’i, sebagaimana dicatat dalam Siyar A‘lam an-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi, mengkhatamkan Alquran hingga puluhan kali selama Ramadhan.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi khatam bukan sekadar simbol ibadah, melainkan budaya spiritual yang telah mengakar dalam sejarah Islam.
Bagi umat Muslim masa kini, mengkhatamkan Alquran dapat dilakukan secara proporsional, misalnya dengan membaca satu juz per hari.
Yang terpenting bukan sekadar jumlah khatam, tetapi konsistensi, penghayatan, dan usaha mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sarat makna spiritual. Ia menghadirkan kecintaan Allah, pengangkatan derajat, syafaat di akhirat, ketenangan batin, pujian ilahi, serta kedudukan mulia bersama para malaikat.
Ramadhan seharusnya tidak berlalu begitu saja tanpa interaksi yang intens dengan Al-Qur’an. Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat iman, serta membangun karakter Qur’ani yang tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Dengan menjadikan Alquran sebagai sahabat utama selama Ramadhan, umat Islam tidak hanya mengejar pahala, tetapi juga membangun fondasi spiritual yang akan mengiringi kehidupan hingga akhirat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang