Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puasa Ramadan 2026 Lebih "Ringan", Suhu Dingin dan Durasi 12–13 Jam

Kompas.com, 24 Januari 2026, 07:42 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Ramadan 2026 diperkirakan datang dengan kabar yang cukup melegakan bagi jutaan Muslim di dunia. Secara astronomi, durasi puasa tahun ini tergolong lebih “ringan” dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Perhitungan menunjukkan bahwa Ramadan yang diperkirakan mulai Kamis, 19 Februari 2026, akan menghadirkan waktu puasa harian berkisar 12 hingga 13 jam di sebagian besar negara Muslim, terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sementara itu, Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, menunggu hasil rukyatul hilal dan sidang isbat.

Kenapa Puasa 2026 Lebih Pendek?

Fenomena ini terjadi karena Ramadan 2026 berada di ujung musim dingin dan awal musim semi di belahan bumi utara.

Baca juga: Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd

Pada periode ini, durasi siang hari masih relatif pendek, sebelum memasuki titik ekuinoks musim semi.

Artinya, meski siang hari perlahan bertambah panjang sepanjang Ramadan, durasinya tetap lebih singkat dibanding Ramadan yang jatuh di musim panas.

Contoh Durasi Puasa di Berbagai Negara

Di Kairo, Mesir, durasi puasa diperkirakan mulai sekitar 12 jam 40 menit, lalu meningkat perlahan mendekati 13 jam di akhir Ramadan.

Suhu musim dingin yang lebih sejuk juga membuat puasa terasa lebih ringan secara fisik.

Pola yang sama diprediksi terjadi di negara-negara Teluk seperti:

  • Arab Saudi
  • Uni Emirat Arab
  • Qatar
  • Kuwait
  • Bahrain
  • Oman

Durasi puasanya masih berada dalam rentang 12–13 jam, hanya berbeda tipis antar kota.

Di kawasan Levant dan Irak, durasinya hampir serupa. Sementara di Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, dan Tunisia, ada sedikit variasi karena perbedaan garis bujur, tetapi tetap dalam kisaran yang sama.

Bagaimana di Eropa dan Amerika?

Semakin jauh ke utara, durasi puasa menjadi lebih panjang.

Di New York, puasa diperkirakan dimulai sekitar 12,5 jam dan bertambah menjadi lebih dari 13 jam di akhir Ramadan.

Di negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, hingga Skandinavia, durasi puasa terasa lebih panjang karena letaknya yang lebih jauh dari garis khatulistiwa.

Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 18 Februari, Lebaran 20 Maret 2026: Ini Jadwal Lengkapnya

Dalam Ramadan-ramadan sebelumnya, umat Islam di wilayah Rusia utara, Greenland, dan Islandia bahkan pernah menghadapi durasi puasa ekstrem di atas 16 jam.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian mengikuti panduan fikih untuk menyesuaikan waktu puasa dengan kota terdekat yang moderat atau mengikuti waktu Makkah.

Ramadan yang Lebih Seimbang

Secara keseluruhan, Ramadan 2026 diprediksi menjadi salah satu Ramadan dengan durasi puasa yang relatif seimbang bagi sebagian besar dunia Islam, khususnya negara-negara Arab.

Kombinasi antara siang yang tidak terlalu panjang dan cuaca yang lebih sejuk membuat Ramadan tahun ini diperkirakan terasa lebih bersahabat secara fisik, tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Doa dan Niat
10 Hari Terendam Rob, Santri di Bekasi Terbantu Paket Logistik Baznas
10 Hari Terendam Rob, Santri di Bekasi Terbantu Paket Logistik Baznas
Aktual
Sholat Nisfu Syaban: Waktu Pelaksanaan dan Bacaan Niatnya
Sholat Nisfu Syaban: Waktu Pelaksanaan dan Bacaan Niatnya
Doa dan Niat
Momen Haru Saat Putra Deden Maulana Lantunkan Surat Al-Quran Depan Peti Jenazah Ayahnya Korban Pesawat ATR
Momen Haru Saat Putra Deden Maulana Lantunkan Surat Al-Quran Depan Peti Jenazah Ayahnya Korban Pesawat ATR
Aktual
Wamenhaj: Perintah Presiden Prabowo, Haji 2026 Harus Berpihak pada Perempuan dan Lansia
Wamenhaj: Perintah Presiden Prabowo, Haji 2026 Harus Berpihak pada Perempuan dan Lansia
Aktual
Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad untuk yang Punya Utang Puasa
Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad untuk yang Punya Utang Puasa
Aktual
Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Doa dan Niat
Doa Saat Angin Kencang Sesuai Sunnah Rasulullah, Mohon Kebaikan dan Perlindungan Allah
Doa Saat Angin Kencang Sesuai Sunnah Rasulullah, Mohon Kebaikan dan Perlindungan Allah
Doa dan Niat
Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Penyebab Suhu Anjlok -3 Derajat di Arab Saudi, Fenomena Langka di Negeri Gurun
Penyebab Suhu Anjlok -3 Derajat di Arab Saudi, Fenomena Langka di Negeri Gurun
Aktual
Wudhu dalam Islam: Pengertian, Dalil Alquran, dan 6 Rukun Menurut Mazhab Syafi’i
Wudhu dalam Islam: Pengertian, Dalil Alquran, dan 6 Rukun Menurut Mazhab Syafi’i
Doa dan Niat
Puasa Ramadan 2026 Lebih 'Ringan', Suhu Dingin dan Durasi 12–13 Jam
Puasa Ramadan 2026 Lebih "Ringan", Suhu Dingin dan Durasi 12–13 Jam
Aktual
Banjir Jabodetabek, Ini Doa-doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Menghadapi Musibah
Banjir Jabodetabek, Ini Doa-doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Menghadapi Musibah
Doa dan Niat
Tren Tunda Nikah Menguat, Menag Minta Nikah Fest Diperluas
Tren Tunda Nikah Menguat, Menag Minta Nikah Fest Diperluas
Aktual
Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Malam Nisfu Syaban 2026: Tanggal, Amalan, Keutamaan dan Dalilnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com