Penulis
KOMPAS.com - Bulan Sya‘ban sering dianggap hanya sebagai “bulan pengantar Ramadhan”. Padahal, dalam catatan sejarah Islam, Sya‘ban adalah bulan yang sarat dengan peristiwa besar, keputusan Ilahi penting, dan persiapan strategis umat Islam. Banyak ulama sejarah dan hadits menegaskan bahwa Sya‘ban memiliki posisi istimewa dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathā’if al-Ma‘ārif menyebut Sya‘ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal di dalamnya terdapat urusan besar yang berkaitan dengan amal dan arah ibadah umat Islam.
Lantas apa saja peristiwa penting di bulan Sya'ban. Simak penjelasannya di bawah ini.
Baca juga: Dua Golongan yang Tidak Mendapat Ampunan di Malam Nisfu Syaban
Berikut ini 5 peristiwa bersejarah penting yang terjadi di bulan Sya'ban:
Salah satu peristiwa paling penting dan bersejarah di bulan Sya‘ban adalah pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Ka‘bah di Mekkah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Sya‘ban tahun 2 Hijriah.
Peristiwa pemindahan arah kiblat ini diabadikan dalam Al Quran. Allah SWT berfirman:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
Artinya: “Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai.” (QS. Al-Baqarah: 144)
Menurut penjelasan Imam Ath-Thabari dalam Tafsīr Ath-Thabari, Rasulullah SAW menerima wahyu ini saat shalat bersama para sahabat di Masjid Bani Salamah, Madinah. Peristiwa tersebut begitu mendadak hingga para sahabat langsung berbalik arah saat shalat berlangsung. Masjid ini kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain.
Peristiwa ini mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu:
Bulan Sya‘ban juga dikenal sebagai waktu diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Hal ini dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:
“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. An Nasai).
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari' menjelaskan bahwa pengangkatan amal ini bersifat tahunan, berbeda dengan laporan amal harian dan mingguan. Karena itulah Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban, sebagaimana ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA.
Baca juga: Doa Awal Bulan Syaban Sesuai Sunnah Nabi Lengkap dengan Artinya
Pertengahan bulan Sya‘ban atau Nisfu Sya‘ban juga memiliki tempat tersendiri di kalangan umat Islam. Beberapa hadits menyebutkan bahwa pada malam ini Allah SWT membuka pintu ampunan-Nya bagi hamba-hamba-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah)
Imam Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman dan Ibnu Rajab dalam Lathā’if al-Ma‘ārif menjelaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang amalan khusus, para ulama sepakat bahwa malam ini adalah momentum muhasabah, istighfar, dan perbaikan hubungan sosial.
Sebagian ulama tafsir, seperti yang disebutkan dalam Tafsīr Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ayat perintah bershalawat kepada Nabi SAW turun menjelang Ramadhan, dan banyak ulama mengaitkannya dengan bulan Sya‘ban:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
Karena itu, tradisi memperbanyak shalawat di bulan Sya‘ban berkembang luas di kalangan ulama salaf sebagai bentuk cinta dan persiapan spiritual menyambut Ramadhan.
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa pada akhir bulan Sya‘ban tahun 2 Hijriah, Rasulullah SAW mulai melakukan persiapan strategis yang kelak mengantarkan kaum Muslimin pada Perang Badar Kubra di bulan Ramadhan.
Hal ini menunjukkan bahwa Sya‘ban bukan hanya bulan ibadah individual, tetapi juga bulan persiapan perjuangan dan perencanaan umat.
Baca juga: Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Bulan Sya;ban tahun ke-2 hijriah menjadi saat turunnya ayat perintah puasa Ramadhan, yaitu surat Al-Baqarah ayat 183-185. Perintah ini turun di Madinah, kurang lebih satu setengah tahun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah.
Sejak saat itu, puasa Ramadhan menjadi kewajiban bagi umat Islam dan berlangsung hingga hari kiamat nanti.
Dari berbagai peristiwa tersebut, dapat disimpulkan bahwa bulan Sya‘ban adalah:
Ibnu Rajab menyebut Sya‘ban sebagai madrasah ruhani sebelum Ramadhan, tempat kaum beriman membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Mengetahui dan memahami peristiwa penting di bulan Sya‘ban membantu memahami bahwa Islam tidak dibangun dalam ruang kosong, melainkan melalui fase-fase sejarah yang penuh hikmah.
Sya‘ban mengajarkan ketaatan, kesiapan, dan kesungguhan sebelum datangnya momentum besar, yaitu bulan Ramadhan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang