KOMPAS.com - Menjelang akhir Ramadan, arus mudik selalu menjadi pemandangan khas di Indonesia.
Terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandara dipadati jutaan perantau yang ingin pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.
Bagi sebagian orang, mudik tampak seperti rutinitas tahunan. Namun jika ditelaah lebih dalam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ritual sosial dan spiritual yang sarat makna keagamaan.
Tradisi ini tumbuh dari perpaduan budaya lokal Nusantara dan nilai-nilai Islam tentang silaturahmi, penghormatan kepada orang tua, serta penguatan ikatan keluarga.
Tidak heran, meski perjalanan panjang, biaya besar, dan kelelahan mengadang, semangat mudik tetap menyala setiap tahun.
Baca juga: Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Mulai Dibuka Akhir Januari, Catat Jadwal War Pertamanya!
Dalam buku Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan karya Akhmad Sahal, Munawir Aziz, dijelaskan bahwa tradisi pulang kampung merupakan bentuk akulturasi antara budaya lokal dan ajaran Islam tentang silaturahmi.
Sejak masa kerajaan Islam di Nusantara, masyarakat telah mengenal kebiasaan kembali ke kampung halaman pada momen-momen besar keagamaan.
Mudik kemudian berkembang menjadi simbol rekonsiliasi sosial. Masyarakat tidak hanya kembali ke rumah, tetapi juga kembali pada akar identitas, keluarga besar, dan nilai kebersamaan yang selama ini tergerus kesibukan urban.
Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Rasa rindu terhadap tanah kelahiran bukanlah hal yang asing dalam ajaran Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun pernah mengekspresikan kerinduan mendalam terhadap Makkah, kota tempat beliau dilahirkan.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW berdoa:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Allâhumma habbib ilainal-Madînata kahubbinâ Makkata aw asyadda.
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih."
Hadis lain yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi menggambarkan betapa kuat cinta Rasulullah kepada tanah kelahirannya:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Mâ athyabaki min baldah wa ahabbaki ilayya, walawlâ anna qaumî akhrajûnî minki mâ sakantu ghairaki.
Artinya: "Betapa indah engkau wahai negeriku (Makkah) dan betapa aku mencintaimu. Jika bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selain engkau."
Hadis ini menegaskan bahwa cinta kepada kampung halaman adalah fitrah manusia yang selaras dengan nilai Islam.
Baca juga: Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd
Dalam Islam, ibadah tidak selalu berbentuk ritual individual seperti shalat dan puasa. Ada pula ibadah sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.
Mudik dapat masuk dalam kategori ini ketika diniatkan untuk silaturahmi, berbakti kepada orang tua, dan mempererat ukhuwah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
Wattaqullâhalladzî tasâ’alûna bihî wal-arhâm.
Artinya: "Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan." (QS. An-Nisa: 1)
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan sebagai bagian dari ketakwaan.
Dalam buku Nuansa Fiqh Sosial karya KH. Sahal Mahfud, dijelaskan bahwa menjaga silaturahmi termasuk bentuk ibadah yang berdampak sosial luas karena memperkuat harmoni masyarakat dan menumbuhkan solidaritas umat.
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Sunnah atau Sekadar Tradisi?
Profesor M. Quraish Shihab dalam kajiannya tentang silaturahmi menyebut mudik sebagai perjalanan spiritual yang penuh “kelezatan rohani”.
Menurutnya, manusia rela menempuh perjalanan panjang bukan karena tujuan fisiknya semata, tetapi karena kebutuhan batin untuk kembali kepada keluarga dan akar kehidupan.
Kelezatan ini muncul saat seseorang memeluk orang tua, bertemu saudara yang lama terpisah atau sekadar duduk bersama di rumah masa kecil. Di situlah nilai mudik menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa silaturahmi yang menjadi inti mudik membawa keberkahan dunia dan akhirat.
Mudik juga sering menjadi momentum saling memaafkan. Dalam suasana Lebaran, masyarakat saling berjabat tangan, meminta maaf, dan membuka lembaran baru. Tradisi ini sejalan dengan nilai Ramadan sebagai bulan pengampunan.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa membersihkan hati dari dendam dan kebencian merupakan bagian penting dari penyempurnaan ibadah. Tanpa hati yang bersih, amal lahiriah kehilangan makna spiritualnya.
Baca juga: Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Bisa Dipesan Besok, Begini Cara Mudah Pesanannya
Di sisi lain, mudik di era modern menghadapi tantangan besar, seperti kemacetan, risiko kecelakaan, kelelahan fisik, hingga tekanan ekonomi. Karena itu, para ulama mengingatkan agar mudik tetap dilakukan dengan prinsip maslahat.
Niat yang lurus, menjaga keselamatan, serta mematuhi aturan perjalanan menjadi bagian dari tanggung jawab moral umat Islam agar mudik tidak berubah menjadi mudarat.
Mudik Ramadan pada akhirnya bukan sekadar berpindah kota. Ia adalah perjalanan pulang menuju nilai-nilai dasar kemanusiaan, cinta keluarga, penghormatan kepada orang tua, dan kesadaran akan pentingnya persaudaraan.
Dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk, mudik juga menjadi simbol persatuan nasional.
Perbedaan latar belakang melebur dalam satu tujuan, yaitu kembali ke rumah, kembali ke akar, dan kembali pada nilai kebajikan.
Tradisi ini bukan hanya layak dipertahankan, tetapi juga dimaknai lebih dalam sebagai sarana memperkaya spiritualitas Ramadan dan memperkuat jalinan sosial bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang