KOMPAS.com - Ramadan selalu datang membawa perubahan besar dalam ritme kehidupan umat Muslim.
Jam makan bergeser, waktu tidur berubah, dan pola aktivitas harian ikut menyesuaikan. Pada hari-hari awal puasa, tak sedikit orang mengeluhkan tubuh terasa lemas, konsentrasi menurun, hingga mudah mengantuk.
Padahal, Ramadan seharusnya dijalani dengan semangat agar ibadah tetap khusyuk dan produktivitas tetap terjaga.
Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa kondisi tersebut bukan semata akibat puasa, melainkan karena tubuh belum sepenuhnya siap beradaptasi. Oleh sebab itu, persiapan fisik sebaiknya dilakukan sejak sebelum Ramadan dimulai.
Dalam perspektif Islam, kesiapan fisik juga menjadi bagian dari upaya menyempurnakan ibadah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
Yurîdullâhu bikumul yusrâ wa lâ yurîdu bikumul ‘usr.
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk menjalankan ibadah dengan kesiapan dan kemudahan, termasuk menyiapkan kondisi tubuh agar puasa dapat dijalani secara optimal.
Dalam buku Fisiologi Kedokteran dan Kesehatan karya Guyton dan Hall dijelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu adaptasi ketika terjadi perubahan drastis pada asupan energi dan pola tidur.
Saat Ramadan, tubuh mengalami beberapa perubahan sekaligus, mulai dari penurunan frekuensi makan, waktu konsumsi cairan yang terbatas, hingga perubahan ritme sirkadian.
Jika tidak dipersiapkan, kondisi ini dapat memicu kelelahan, dehidrasi ringan, penurunan daya konsentrasi, bahkan gangguan pencernaan.
Oleh karena itu, membangun kebiasaan sehat sebelum Ramadan menjadi langkah strategis agar tubuh tidak “kaget” saat puasa dimulai.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Salah satu persiapan terpenting adalah menyesuaikan pola makan. Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, minuman manis berlebihan, serta gorengan sejak sebelum Ramadan dapat membantu menstabilkan kadar gula darah.
Menurut buku Nutrition for Health and Health care karya Ellie Whitney dan Sharon Rolfes, karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, dan roti gandum mampu memberikan energi lebih stabil dibanding karbohidrat sederhana.
Selain itu, asupan protein dari telur, ikan, dan kacang-kacangan juga membantu menjaga massa otot dan daya tahan tubuh selama puasa.
Dehidrasi menjadi salah satu keluhan umum saat puasa. Oleh karena itu, membiasakan minum air putih secara cukup sebelum Ramadan sangat dianjurkan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi cairan minimal dua liter per hari untuk menjaga fungsi metabolisme tubuh.
Dalam Islam, menjaga kesehatan termasuk bagian dari amanah. Rasulullah SAW bersabda bahwa tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi, salah satunya dengan mencukupi kebutuhan dasar seperti makan dan minum.
Perubahan waktu tidur saat Ramadan, terutama karena sahur dan ibadah malam, sering kali memicu kurang tidur.
Untuk mengantisipasi hal ini, membiasakan tidur lebih awal sebelum Ramadan dapat membantu tubuh beradaptasi.
Dalam buku Why We Sleep karya Matthew Walker dijelaskan bahwa tidur berkualitas berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kestabilan emosi.
Dengan pola tidur yang lebih teratur, tubuh akan lebih siap menghadapi aktivitas puasa yang panjang.
Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Aktivitas fisik ringan seperti jalan santai, peregangan atau yoga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.
Dalam buku Exercise Physiology karya William McArdle disebutkan bahwa olahraga ringan mampu meningkatkan sirkulasi darah dan menjaga metabolisme tetap optimal tanpa membebani tubuh.
Menjelang Ramadan, membiasakan olahraga ringan juga membantu tubuh lebih adaptif saat aktivitas fisik harus dilakukan dalam kondisi berpuasa.
Selain dari makanan alami, sebagian orang memilih mengonsumsi suplemen untuk membantu menjaga stamina dan fokus selama puasa.
Suplemen yang mengandung multivitamin, ginseng, dan asam amino diketahui dapat membantu mendukung metabolisme energi dan daya tahan tubuh.
Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa suplemen sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti pola makan sehat. Prinsip utamanya tetap pada keseimbangan nutrisi.
Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari
Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari ibadah.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kekuatan fisik membantu seseorang lebih maksimal dalam beribadah, baik shalat, puasa, maupun amal sosial lainnya.
Dengan tubuh yang sehat dan stamina terjaga, ibadah Ramadan dapat dijalani dengan lebih khusyuk.
Puasa pun tidak hanya menjadi rutinitas menahan lapar, tetapi benar-benar menjadi proses penyucian diri yang menyeluruh, baik secara spiritual maupun fisik.
Ramadan sejatinya dapat menjadi titik awal membangun gaya hidup sehat. Pola makan teratur, waktu istirahat yang lebih tertata, serta kebiasaan mengontrol diri dari berlebihan bisa menjadi kebiasaan baik yang berlanjut setelah Ramadan usai.
Dengan persiapan yang matang, tubuh tidak lagi “kaget” saat puasa dimulai. Sebaliknya, Ramadan justru terasa lebih ringan, penuh energi, dan sarat makna.
Karena itu, menjelang Ramadan, kini saatnya mulai menata pola hidup. Bukan hanya untuk menjaga stamina, tetapi juga untuk menyambut bulan suci dengan kondisi fisik dan spiritual yang terbaik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang