KOMPAS.com - Tidak terasa, Ramadan 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Bagi sebagian umat Islam, kabar ini menghadirkan kebahagiaan sekaligus kegelisahan.
Di satu sisi, Ramadan selalu dinanti sebagai bulan penuh ampunan dan pahala. Namun di sisi lain, perubahan pola hidup, tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan sosial yang menyertai bulan puasa sering membuat mental terasa belum siap sepenuhnya.
Padahal, para ulama menegaskan bahwa keberhasilan ibadah puasa tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fisik, tetapi juga kekuatan mental dan spiritual.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan proses membangun kesabaran, pengendalian diri, dan kedewasaan batin.
Salah satu kunci kesiapan mental adalah mengubah sudut pandang. Banyak orang memandang puasa sebagai beban yang menghambat aktivitas. Pandangan ini membuat Ramadan terasa berat sejak hari pertama.
Dalam buku Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah az-Zuhaily, dijelaskan bahwa puasa adalah sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan melatih manusia mengendalikan dorongan hawa nafsu.
Artinya, puasa justru menjadi momentum memperbaiki kualitas hidup, bukan penghalang produktivitas.
Jika puasa dipahami sebagai proses pembinaan diri, maka rasa lelah dapat berubah menjadi kesadaran spiritual. Aktivitas tetap berjalan, namun dengan irama yang lebih tertata dan penuh makna.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Ramadan sering kali identik dengan peningkatan pengeluaran. Mulai dari buka puasa bersama, belanja kebutuhan lebaran, hingga tradisi berbagi yang tidak jarang melampaui kemampuan finansial.
Dalam buku Panduan Puasa bersama Quraish Shihab karya M. Quraish Shihab, ditegaskan bahwa Ramadan sejatinya mengajarkan kesederhanaan. Puasa menanamkan nilai qana’ah, yaitu merasa cukup dan tidak berlebihan.
Mental yang siap menghadapi Ramadan adalah mental yang mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan.
Tradisi sosial tetap bisa dijaga, tetapi tidak sampai menggeser tujuan utama puasa, yaitu meningkatkan ketakwaan.
Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan kejernihan berpikir dan kestabilan emosi. Dalam perspektif Islam, manfaat ini telah lama dijelaskan melalui nilai spiritual puasa.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa tidak hanya bermakna ketaatan ritual, tetapi juga ketenangan batin, kontrol emosi, dan kesadaran diri.
Inilah yang membuat Ramadan sering dirasakan sebagai bulan yang menghadirkan keteduhan hati bagi banyak orang.
Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit
Menjelang Ramadan, memperbanyak bacaan dan kajian seputar puasa dapat menjadi penguat mental.
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, banyak hadis yang menjelaskan keutamaan puasa, termasuk sabda Rasulullah SAW:
“Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna perisai di sini tidak hanya melindungi dari api neraka, tetapi juga dari perilaku negatif, keluhan berlebihan, dan emosi yang tidak terkontrol.
Semakin seseorang memahami nilai puasa, semakin kuat motivasi batinnya dalam menjalankan ibadah.
Persiapan mental juga dapat dilakukan melalui latihan ibadah. Puasa sunah Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh atau puasa Daud membantu tubuh dan jiwa beradaptasi lebih awal.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa kebiasaan ibadah sebelum Ramadan akan mempermudah seseorang meraih kekhusyukan saat bulan suci tiba.
Hal serupa berlaku pada shalat malam. Membiasakan tahajud menjelang Ramadan membentuk disiplin spiritual yang berdampak besar pada kesiapan mental.
Persiapan terpenting adalah meluruskan niat. Puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW mengajarkan doa menyambut Ramadan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bān wa ballighnā Ramadhān.
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikan kami ke bulan Ramadan.”
Doa ini mencerminkan kesiapan mental seorang mukmin yang berharap dapat bertemu Ramadan dalam keadaan sehat, kuat, dan penuh kesungguhan ibadah.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Cara Islam Menaikkan Derajat Spiritual Manusia
Selain aspek spiritual, kesiapan mental juga perlu didukung manajemen waktu. Menyusun jadwal kerja, waktu ibadah, istirahat, dan keluarga membuat Ramadan terasa lebih terarah.
Ketika aktivitas terencana, beban pikiran berkurang. Energi dapat difokuskan pada hal yang lebih bermakna, seperti tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan peningkatan kualitas shalat.
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi momentum perubahan diri. Mental yang siap akan memandang puasa sebagai peluang emas memperbaiki kebiasaan, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semakin matang persiapan mental dilakukan, semakin ringan langkah menyambut Ramadan. Bukan dengan keluhan, tetapi dengan harapan, optimisme, dan kerinduan untuk meraih keberkahan yang dijanjikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang