KOMPAS.com - Bulan Ramadhan tidak hanya dikenal sebagai momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memperkuat solidaritas antarmanusia.
Di tengah ritual puasa yang bersifat personal, Islam justru menempatkan tolong-menolong sebagai wajah publik dari ketakwaan.
Inilah paradoks spiritual Ramadhan, semakin seseorang mendekat kepada Allah, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya kepada sesama.
Dalam perspektif sosiologi agama, manusia tidak pernah hidup sebagai individu yang terisolasi.
Ia selalu terikat dalam jaringan sosial. Islam merespons realitas ini dengan menghadirkan prinsip ta’awun, yaitu saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
Wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta‘āwanū ‘alal-itsmi wal-‘udwān, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb.
Artinya: "Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya." (QS Al-Maidah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong bukan sekadar anjuran moral, tetapi fondasi etika sosial dalam Islam.
Puasa membentuk empati. Rasa lapar yang dialami setiap hari selama Ramadhan menghadirkan kesadaran eksistensial tentang penderitaan kaum miskin dan kelompok rentan.
Dalam bukunya Fiqh al-Shiyam, Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa puasa tidak berhenti pada pengendalian fisik, melainkan harus melahirkan kesalehan sosial yang tampak dalam perilaku berbagi, memberi, dan membantu.
Ramadhan dengan demikian menjadi “laboratorium sosial” yang mendidik umat agar tidak egoistis.
Tradisi berbagi takjil, santunan anak yatim, zakat fitrah, dan buka puasa bersama bukan sekadar ritual budaya, melainkan manifestasi konkret dari perintah ta’awun.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Dalam literatur klasik Islam, tolong-menolong ditempatkan sebagai bagian integral dari iman. Imam al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman menyebut bahwa membantu sesama termasuk cabang keimanan yang memperkuat ikatan ukhuwah.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Wallāhu fī ‘aunil ‘abdi mā kānal ‘abdu fī ‘auni akhīhi.
Artinya: "Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR Muslim)
Hadis ini menegaskan relasi spiritual antara bantuan manusia dan pertolongan Ilahi. Dalam konteks Ramadhan, relasi ini menjadi semakin kuat karena setiap amal dilipatgandakan pahalanya.
Tolong-menolong tidak hanya berlaku pada bantuan materi. Jabatan, pengaruh, dan relasi sosial juga merupakan amanah.
Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalatul Mu‘awanah menegaskan bahwa kedudukan sosial akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana harta.
Beliau menulis:
"Allah akan menanyai seorang hamba tentang kedudukannya sebagaimana Dia menanyainya tentang hartanya."
Pesan ini relevan di era modern, ketika akses dan jejaring sosial menjadi modal penting. Membantu orang mendapatkan pendidikan, pekerjaan atau akses layanan publik termasuk bentuk tolong-menolong yang bernilai ibadah.
Baca juga: Sidang Isbat Ramadhan 2026 Sejalan Fatwa MUI, Kemenag Siapkan 37 Titik Rukyat Termasuk Masjid IKN
Islam juga mengaitkan tolong-menolong dengan pembelaan terhadap nilai-nilai agama. Allah SWT berfirman:
Yā ayyuhalladzīna āmanū in tanshurullāha yanshurkum wa yutsabbit aqdāmakum.
Artinya: "Wahai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad: 7)
Menolong agama Allah di era Ramadhan dapat diwujudkan melalui dakwah digital, pendidikan keislaman, penguatan literasi zakat, hingga perlindungan terhadap kaum mustadh‘afin. Inilah bentuk aktivisme spiritual yang tidak terlepas dari realitas sosial.
Penelitian modern juga menguatkan nilai Islam ini. Dalam buku The Helper’s High karya Allan Luks, dijelaskan bahwa membantu orang lain meningkatkan kesehatan mental, menurunkan stres, dan memperkuat rasa makna hidup. Ini sejalan dengan konsep Islam tentang keberkahan amal.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Ahabbun-nāsi ilallāhi anfa‘uhum lin-nās.
Artinya: "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR Thabrani)
Hadis ini memperluas makna ibadah. Ramadhan bukan hanya tentang seberapa lama seseorang berdiri dalam shalat malam, tetapi seberapa besar manfaat sosial yang dihadirkannya.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui
Dimensi eskatologis juga menjadi motivasi utama tolong-menolong. Nabi SAW bersabda:
Man naffasa ‘an mu’minin kurbatan min kurabid-dunyā naffasallāhu ‘anhu kurbatan min kurabil-qiyāmah.
Artinya: "Barang siapa meringankan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat." (HR Muslim)
Ramadhan menjadi waktu strategis untuk menanam investasi akhirat melalui aksi sosial yang nyata.
Di tengah perubahan zaman, bentuk tolong-menolong juga berevolusi. Platform donasi daring, gerakan sedekah digital, dan relawan virtual kini menjadi bagian dari ekosistem Ramadhan modern. Namun substansinya tetap sama, kepedulian, empati, dan keberanian untuk berbagi.
Tantangan ke depan adalah menjaga agar semangat Ramadhan tidak berhenti pada seremoni musiman, tetapi menjadi karakter permanen umat Islam.
Ramadhan bukan sekadar kalender ibadah, melainkan momentum transformasi sosial. Dari lapar lahir empati, dari puasa tumbuh solidaritas, dan dari tolong-menolong terbangun peradaban yang berkeadilan.
Jika spirit ini benar-benar dihidupkan, Ramadhan tidak hanya mengubah individu, tetapi juga wajah masyarakat.
Di situlah puasa menemukan maknanya yang paling dalam yaitu membentuk manusia yang bertakwa sekaligus bermanfaat bagi sesama.
Semoga Ramadhan tahun ini tidak hanya mengisi masjid, tetapi juga menghidupkan hati dan menggerakkan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang