KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada kemungkinan perbedaan penetapan awal puasa.
Situasi ini bukanlah hal baru, namun selalu menarik perhatian publik karena berkaitan langsung dengan praktik ibadah jutaan umat Muslim.
Sejumlah kajian astronomi terbaru menunjukkan bahwa awal Ramadhan 1447 H berpotensi jatuh pada dua tanggal berbeda, yaitu 18 atau 19 Februari 2026.
Perbedaan ini muncul akibat variasi kriteria penentuan awal bulan hijriah yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam.
Dalam Islam, Ramadhan bukan sekadar penanda waktu, tetapi momentum spiritual yang sangat agung. Al Quran menegaskan:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Karena nilai ibadahnya yang tinggi, penentuan awal Ramadhan selalu menjadi perhatian serius, baik dari sisi keagamaan maupun keilmuan.
Baca juga: Awal Puasa 2026 Muhammadiyah: Ini Tanggal 1 Ramadhan 1447 H Versi Hisab
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa secara astronomi terdapat potensi perbedaan awal Ramadhan 1447 H.
Dalam penjelasannya melalui kanal YouTube pribadinya @tdjamaluddin (20/12/2025), Thomas menyebut posisi hilal pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
“Fakta astronomi menunjukkan bahwa pada saat maghrib 17 Februari 2026, posisi hilal di Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” ujar Thomas.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kemungkinan awal Ramadhan versi kriteria MABIMS jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun, Thomas juga menjelaskan bahwa tidak semua pihak menggunakan kriteria MABIMS. Beberapa ormas Islam mengacu pada kriteria Turki yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
“Di wilayah Amerika hingga Alaska, pada tanggal tersebut posisi hilal sudah memenuhi kriteria Turki. Karena itu, ada kemungkinan sebagian pihak menetapkan 1 Ramadhan pada 18 Februari 2026,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan ini bersifat ilmiah dan metodologis, bukan perbedaan prinsip keagamaan.
“Jadi, ada potensi perbedaan awal Ramadhan, ada yang 18 Februari dan ada yang 19 Februari,” tambah Thomas.
Baca juga: Jadwal Libur Sekolah Saat Puasa Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah
Hingga kini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 1447 H.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah akan menggelar sidang isbat pada akhir bulan Syaban.
Sidang isbat ini melibatkan para ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, dan ulama dengan mempertimbangkan data hisab dan hasil rukyatul hilal di berbagai titik pengamatan di Indonesia.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip kehati-hatian (ihtiyath) yang selama ini menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam penetapan kalender hijriah.
Berbeda dengan pemerintah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadhan 1447 H.
Dengan menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Metode ini tidak mensyaratkan keterlihatan hilal, melainkan cukup dengan terpenuhinya posisi hilal di atas ufuk setelah ijtimak.
Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah karya Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dijelaskan bahwa pendekatan hisab dipandang memberikan kepastian waktu ibadah secara konsisten dan ilmiah.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) belum mengumumkan keputusan resmi. NU menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yang mengombinasikan perhitungan astronomi dengan pengamatan langsung hilal.
Dalam Pedoman Rukyatul Hilal NU karya Lembaga Falakiyah PBNU, ditegaskan bahwa rukyat memiliki dimensi fiqhiyyah sekaligus sosial karena melibatkan kesaksian umat di lapangan.
NU dijadwalkan melakukan rukyatul hilal pada akhir Syaban 1447 H sebagai dasar penetapan awal Ramadhan.
Baca juga: Niat Puasa Mengganti Puasa Ramadhan: Lafal Arab, Dalil, dan Waktu Niat yang Benar
Dalam perspektif Islam, perbedaan penetapan awal Ramadhan bukanlah hal yang harus dipertentangkan.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa perbedaan hasil rukyat antarwilayah adalah konsekuensi alami dari perbedaan matla’.
Al Quran sendiri mengingatkan bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah:
Wa ja‘alnākum syu‘ūban wa qabā'ila lita‘ārafū.
“Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Perdebatan awal Ramadhan sejatinya menunjukkan bagaimana Islam memberi ruang dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Hisab dan rukyat bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
Terlepas dari perbedaan tanggal, esensi Ramadhan tetap sama: menahan diri, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di tengah dinamika penentuan kalender hijriah, Ramadhan kembali mengajarkan bahwa persatuan umat tidak terletak pada keseragaman tanggal, melainkan pada kesamaan niat dan tujuan ibadah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang