Editor
KOMPAS.com - Kementerian Agama membuka program pelatihan pengamatan hilal bagi konten kreator dan pemengaruh muda menjelang penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Program ini ditujukan untuk memperkuat literasi publik terkait proses rukyatul hilal yang selama ini menjadi dasar penetapan pemerintah.
Pelatihan digelar secara hybrid dan menyasar generasi muda yang aktif di media sosial agar mampu menyampaikan informasi keagamaan secara akurat.
Upaya ini dilakukan untuk meredam kebingungan publik akibat derasnya arus informasi digital menjelang Ramadhan.
Program tersebut akan dilaksanakan pada Selasa (17/2/2026), dengan kuota hingga sekitar 1.000 peserta yang mengikuti secara daring dan luring.
Baca juga: 15 Lokasi Pengamatan Hilal Awal Ramadhan 1447 H di Jawa Tengah, Digelar 17 Februari 2026
Kementerian Agama membuka pendaftaran pelatihan bertajuk Yasalūnaka ‘an al-Ahillah: Hilal Observation Coaching bagi konten kreator dan influencer berusia maksimal 35 tahun.
Program ini dikhususkan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabodetabek serta memiliki akun media sosial aktif dengan minimal 3.000 pengikut.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa persoalan hilal bukan isu baru dalam Islam dan perlu dijelaskan secara ilmiah.
“Persoalan hilal bukan isu baru. Sejak masa Rasulullah, umat sudah bertanya tentangnya. Karena itu, penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi,” ujar Arsad Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Baca juga: Daftar 96 Lokasi Pemantauan Hilal Awal Ramadhan 1447 H di Indonesia
Menurut Arsad, di tengah derasnya arus informasi digital, kreator konten memiliki posisi strategis dalam menyampaikan isu-isu keagamaan kepada masyarakat luas.
Pemahaman yang utuh mengenai hisab dan rukyat dinilai penting agar informasi yang disebarkan tidak menimbulkan kebingungan atau polarisasi di tengah publik.
Ia menjelaskan bahwa melalui Hilal Observation Coaching, peserta tidak hanya diperkenalkan pada hasil penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga diajak memahami proses ilmiah di baliknya.
Materi mencakup konsep hilal, parameter astronomis, hingga mekanisme pengambilan keputusan pemerintah.
“Kami ingin para konten kreator memahami prosesnya secara menyeluruh. Dengan begitu, konten yang disampaikan kepada masyarakat bersifat edukatif, menyejukkan, dan memperkuat kepercayaan publik,” katanya.
Pelatihan ini dikemas melalui pendekatan edukasi, simulasi, dan visualisasi pengamatan hilal.
Peserta akan dikenalkan dengan instrumen rukyat serta teknik menyampaikan informasi falak secara sederhana namun tetap akurat dan bertanggung jawab.
Arsad menyebut, Kementerian Agama terus membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda guna memperkuat literasi keislaman yang moderat dan berwawasan ilmiah, khususnya pada isu-isu yang kerap mengemuka menjelang Ramadhan.
“Dengan edukasi yang tepat, perbedaan dalam penentuan awal bulan dapat disikapi secara dewasa, saling menghormati, dan tetap dalam bingkai persatuan,” katanya.
Kegiatan ini akan digelar secara hybrid. Sebanyak 30 peserta dengan jumlah pengikut terbanyak akan diundang mengikuti pelatihan secara luring di Auditorium HM Rasjidi, sementara sekitar 1.000 peserta lainnya mengikuti secara daring dari berbagai daerah.
Arsad berharap para peserta dapat menjadi mitra strategis Kementerian Agama dalam menyebarkan literasi keislaman berbasis ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh dan proporsional terkait penetapan awal Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang