Editor
KOMPAS.com - Potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 2026 di Indonesia dinilai sebagai hal yang wajar oleh pemerintah.
Perbedaan tersebut muncul karena beragamnya metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah oleh organisasi kemasyarakatan Islam.
Pemerintah menegaskan tetap menyiapkan mekanisme musyawarah untuk menyikapi perbedaan tersebut.
Penjelasan ini disampaikan menjelang penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang menjadi perhatian masyarakat luas.
Baca juga: 2 Metode Penentuan Awal Puasa Ramadhan di Indonesia: Rukyatul Hilal dan Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Dilansir dari Antara, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan merupakan hal yang kerap terjadi karena perbedaan sudut pandang dan metode.
“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa.
Menurut Arsad, penentuan awal Ramadhan di Indonesia menggunakan sejumlah pendekatan.
Sebagian organisasi Islam mengacu pada metode hisab, sebagian menggunakan rukyatul hilal, sementara pendekatan lain merujuk pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Arsad menjelaskan bahwa perbedaan metode tersebut juga berkaitan dengan konsep hilal lokal dan hilal global. Ia mengutip penjelasan Thomas Djamaluddin dari BRIN.
“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin (astronom BRIN) itu ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” katanya.
Untuk menyikapi potensi perbedaan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai forum musyawarah bersama.
Arsad menegaskan seluruh organisasi kemasyarakatan Islam diundang dalam sidang tersebut.
“Kita undang seluruh ormas Islam, baik Muhammadiyah, NU, Persis, dan yang lain. Kita dengarkan pandangan mereka, kemudian dimusyawarahkan dan diambil keputusan yang maslahat,” ujarnya.
Hasil sidang isbat inilah yang kemudian menjadi dasar penetapan awal Ramadhan oleh pemerintah.
Arsad juga mengimbau masyarakat menyikapi perbedaan dengan sikap saling menghormati.
“Perbedaan itu wajar dan kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan tersebut,” kata Arsad.
Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Ramadhan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Pada saat Matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar antara -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.
Data tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan di kawasan Asia Tenggara, termasuk kriteria MABIMS.
Dalam kriteria MABIMS, awal bulan Hijriah ditetapkan apabila hilal memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026.
Keputusan ini merupakan hasil hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Penetapan tersebut berpedoman pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Berdasarkan perhitungan astronomis, ijtimak menjelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 12.01.09 UTC.
Namun, pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak, kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) yang mensyaratkan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC belum terpenuhi di belahan bumi mana pun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang