Editor
KOMPAS.com — Tren baru tengah mengubah wajah dunia kerja di Arab Saudi. Semakin banyak anak muda profesional kini tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan, melainkan membangun “side hustle” atau pekerjaan sampingan yang berjalan paralel dengan karier utama mereka.
Mulai dari bisnis online, desain freelance, produksi kreatif, hingga kerja paruh waktu di kafe—fenomena ini menjadi gaya hidup baru generasi usia 20–30-an.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara generasi muda memandang pekerjaan, identitas, dan sumber penghasilan. Jika dulu stabilitas identik dengan satu pekerjaan tetap, kini diversifikasi justru menjadi pilihan utama.
Data dari otoritas statistik Saudi menunjukkan aktivitas freelance dan kerja mandiri meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kemajuan platform digital.
Baca juga: Fantastis! 89 Juta Orang Kunjungi Arab Saudi untuk Hiburan Selama 2025
Laporan McKinsey & Company (2023) juga menegaskan bahwa generasi muda di kawasan ini semakin menggabungkan berbagai peran, alih-alih bergantung pada satu profesi.
Bagi Faisal Al-Harbi (28), seorang eksekutif pemasaran di Riyadh, side hustle bukan sekadar tambahan penghasilan.
“Pekerjaan utama memberi saya struktur, tapi tidak selalu memberi rasa memiliki. Side project saya justru jadi ruang bereksperimen dan merasa kreatif,” ujarnya dikutip Arab News.
Fenomena ini juga didorong oleh kemudahan teknologi. Kini, siapa pun bisa memulai usaha tanpa modal besar—desainer tak perlu agensi, fotografer bisa cari klien online, bahkan penjual kue tak harus punya toko fisik.
Riset Harvard Business Review menemukan bahwa generasi muda kini lebih memprioritaskan otonomi dan makna kerja dibanding sekadar stabilitas.
Di Arab Saudi, tren ini juga selaras dengan visi besar negara, yakni Vision 2030, yang mendorong kewirausahaan dan pertumbuhan sektor swasta.
Namun, di balik peluang, ada tantangan.
Menjalani dua peran sekaligus menuntut disiplin tinggi. Waktu istirahat sering tergerus, bahkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Layan Al-Qahtani, arsitek di Jeddah yang juga seniman keramik, mengakui hal tersebut.
“Kadang setelah kerja utama, saya langsung lanjut ke pekerjaan kedua. Melelahkan, tapi ini pilihan saya. Lelahnya terasa lebih bermakna,” katanya.
Para ekonom mengingatkan, tren ini juga punya sisi risiko. Studi International Labour Organization (2022) menyebut kerja freelance memberi fleksibilitas, namun juga berpotensi menghadirkan ketidakstabilan pendapatan.
Meski begitu, di Saudi, sebagian besar side hustle justru melengkapi pekerjaan utama, bukan menggantikannya—sehingga risiko finansial tetap terkendali.
Menariknya, persepsi tentang kerja pun berubah. Jika dulu punya banyak pekerjaan dianggap tidak fokus, kini justru dipandang sebagai ambisi dan kreativitas.
Bagi Mohammed Al-Dossary (24), barista sekaligus desainer grafis, dua pekerjaan bukanlah beban.
“Ini bukan dua pekerjaan. Ini dua sisi identitas saya. Yang satu membayar kebutuhan, yang lain membangun masa depan,” ujarnya.
Fenomena ini juga semakin terlihat di media sosial, di mana anak muda Saudi berbagi perjalanan side hustle mereka, membangun komunitas, bahkan menciptakan personal branding.
Dampaknya mulai terasa pada ekonomi. Banyak usaha kecil bermula dari proyek sampingan, lalu berkembang menjadi bisnis nyata yang menciptakan nilai baru.
Baca juga: Layanan Haji Makin Canggih: Arab Saudi Perkuat Digitalisasi hingga AI untuk Kenyamanan Jemaah
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah generasi side hustle akan terus tumbuh, melainkan bagaimana mereka akan membentuk masa depan tenaga kerja Saudi.
Di tengah transformasi besar menuju Vision 2030, satu hal menjadi jelas: bagi generasi muda Saudi, kerja 9-to-5 bukan lagi tujuan akhir—melainkan hanya titik awal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang