Editor
KOMPAS.com - Sejumlah warga Arab Saudi mulai beralih ke ponsel sederhana atau “dumb phone” untuk mengurangi penggunaan layar atau “screen time”.
Fenomena ini muncul di tengah tingginya paparan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengguna merasa konektivitas tanpa batas justru memicu kelelahan mental.
Peralihan ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan fokus dan keseimbangan hidup.
Baca juga: Upaya Arab Saudi Meningkatkan Budidaya Lebah Madu untuk Dukung Ketahanan Pangan dan Lingkungan
Dilansir dari Arab News (4/4/2026), peralihan ke ponsel sederhana dikenal secara global sebagai digital minimalism.
Konsep ini menekankan pengurangan konsumsi digital dengan membatasi penggunaan aplikasi, notifikasi, dan media sosial.
Di Arab Saudi, tren ini mulai terlihat di kalangan mahasiswa, pekerja kreatif, hingga profesional muda yang menilai penggunaan smartphone berlebihan dapat mengganggu konsentrasi.
Data dari DataReportal menunjukkan tingkat penetrasi media sosial di Arab Saudi telah melampaui 90 persen, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari.
Tingginya angka ini mendorong perhatian peneliti terhadap dampaknya pada fokus, tidur, dan kelelahan kognitif.
Baca juga: Apa Itu Side Hustle? Tren Baru Anak Muda Arab Saudi yang Ubah Cara Kerja dan Hidup
Kreator konten asal Riyadh, Noura Al-Qahtani, memutuskan beralih ke ponsel sederhana setelah bertahun-tahun aktif secara online.
“Saya tidak menyadari betapa banyak waktu saya habis hanya untuk scrolling,” ujarnya.
“Saat beralih ke ponsel sederhana, hal pertama yang saya rasakan adalah keheningan. Awalnya terasa tidak nyaman, tetapi kemudian menjadi kejernihan. Saya bisa duduk, berpikir, dan benar-benar menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan.”
Pengalamannya sejalan dengan studi yang dipublikasikan di Nature Communications pada 2021, yang menemukan bahwa pengurangan gangguan digital dapat meningkatkan fokus dan kontrol kognitif.
Daya tarik “dumb phone” bukan karena penolakan terhadap teknologi, melainkan keinginan untuk mengontrol penggunaannya.
Dengan menghilangkan akses ke aplikasi dan notifikasi, pengguna menciptakan lingkungan yang lebih minim distraksi.
Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa gangguan digital yang sering dapat menurunkan perhatian dan meningkatkan kelelahan mental.
Mahasiswa di Dammam, Abdulrahman Al-Harbi, merasakan manfaatnya saat masa ujian.
“Saya sering duduk untuk belajar, tetapi setiap beberapa menit tanpa sadar malah mengecek ponsel,” katanya.
“Setelah beralih ke ponsel sederhana saat ujian akhir, saya menyadari betapa lebih mudah untuk tetap fokus. Bukan berarti belajar jadi lebih mudah, tapi pikiran saya tidak lagi meloncat-loncat.”
Paparan layar juga berdampak pada kualitas tidur. Menurut Harvard Medical School, penggunaan perangkat sebelum tidur dapat menekan produksi melatonin, sehingga mengganggu siklus tidur.
Selain itu, ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan seperti ChatGPT, mulai memengaruhi cara berpikir pengguna.
Spesialis komunikasi asal Riyadh, Omar Al-Salem, mengaku mulai terlalu bergantung pada teknologi tersebut.
“Saya mulai menggunakannya untuk hal-hal kecil, seperti menulis email atau menyusun ide, tetapi lama-lama menjadi kebiasaan untuk hampir semua hal,” ujarnya.
“Pada titik tertentu, saya menyadari cara berpikir saya tidak lagi sama. Saya memang lebih cepat, tetapi belum tentu lebih tajam.”
“Tidak mudah berhenti bergantung pada hal itu,” katanya. “Namun setelah beberapa waktu, fokus saya mulai kembali. Saya merasa berpikir lebih lambat, tetapi lebih mendalam. Rasanya seperti mendapatkan kembali sebagian perhatian saya,” jelasnya lagi.
Ilustrasi telepon genggam.Tidak semua pengguna sepenuhnya meninggalkan smartphone. Konsultan asal Jeddah, Sara Al-Zahrani, memilih pendekatan hybrid.
“Saya tidak sepenuhnya meninggalkan smartphone, tetapi saya tidak lagi membawanya ke mana-mana,” ujarnya.
“Saya meninggalkannya di ruangan lain saat di rumah dan menggunakan ponsel sederhana saat keluar. Perbedaan terbesar adalah pikiran saya terasa lebih tenang. Saya tidak terus-menerus bereaksi.”
Pendekatan ini sejalan dengan studi dalam jurnal Computers in Human Behavior yang menyebut pembatasan penggunaan smartphone dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan tanpa harus sepenuhnya terputus dari teknologi.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa digital minimalism bukan solusi universal.
Smartphone tetap menjadi alat penting untuk komunikasi, pekerjaan, dan akses layanan, terutama di negara dengan tingkat digitalisasi tinggi seperti Arab Saudi.
Permasalahan utama bukan pada keberadaan teknologi, melainkan pada kurangnya batasan dalam penggunaannya.
Di tengah budaya yang mengaitkan konektivitas dengan produktivitas, memilih perangkat sederhana mungkin terlihat tidak biasa.
Namun, bagi sebagian orang, langkah ini menjadi cara untuk merebut kembali kendali atas waktu, fokus, dan kesehatan mental.
Tren penggunaan “dumb phone” mencerminkan perubahan cara pandang terhadap teknologi di era modern.
Pengguna mulai menyadari pentingnya mengatur interaksi dengan perangkat digital.
Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.
Ke depan, kemampuan mengelola teknologi akan menjadi keterampilan penting di masyarakat digital.
Bagi sebagian orang, kembali ke ponsel sederhana bukan berarti mundur, melainkan strategi untuk hidup lebih terarah dan fokus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang