KOMPAS.com – Di antara kisah-kisah Nabi dalam tradisi Islam, terdapat satu riwayat yang kerap mengundang rasa penasaran sekaligus perdebatan, peristiwa ketika Nabi Musa menampar Malaikat Maut hingga matanya rusak.
Sekilas, kisah ini terdengar tidak biasa. Namun dalam khazanah Islam, riwayat tersebut tercatat dalam hadis sahih dan telah dijelaskan oleh banyak ulama dengan pendekatan teologis yang mendalam.
Di balik narasi yang tampak “dramatis”, tersimpan pelajaran penting tentang kemanusiaan para nabi, hakikat kematian, serta hubungan antara kehendak manusia dan ketetapan Ilahi.
Peristiwa ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam dua kitab hadis paling otoritatif dalam Islam, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa AS untuk mencabut nyawanya.
Namun ketika malaikat itu datang dalam wujud manusia, Nabi Musa menamparnya hingga matanya rusak.
Malaikat itu kemudian kembali kepada Allah dan Allah memulihkan matanya serta memerintahkannya kembali dengan membawa pilihan bagi Musa, memperpanjang usia atau segera wafat.
Riwayat ini bukan hanya diakui kesahihannya, tetapi juga menjadi bahan kajian panjang dalam ilmu hadis dan teologi Islam.
Baca juga: Siapa Firaun Pengejar Nabi Musa yang Ditelan Laut Merah? Ramses II vs Merneptah
Pertanyaan paling mendasar dari kisah ini adalah: mengapa seorang nabi bisa bereaksi demikian terhadap malaikat?
Dalam buku Kisah-Kisah dalam Hadits Nabi karya Muhammad Nasrullah dijelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena Nabi Musa tidak mengetahui bahwa sosok yang datang adalah utusan Allah.
Malaikat maut datang dalam rupa manusia tanpa pemberitahuan, sehingga secara refleks Nabi Musa merespons sebagai bentuk pertahanan diri.
Penjelasan ini diperkuat oleh ulama klasik seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari. Ia menegaskan bahwa para nabi tetap memiliki sifat manusiawi, termasuk reaksi spontan ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam.
Dengan demikian, tindakan Nabi Musa tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap takdir, melainkan respons alami sebelum mengetahui hakikat sebenarnya dari kejadian tersebut.
Dalam tradisi Islam, malaikat memiliki kemampuan untuk menjelma dalam bentuk manusia. Hal ini juga terjadi pada peristiwa lain, seperti kedatangan Malaikat Jibril kepada Maryam atau kepada Nabi Muhammad SAW dalam rupa manusia.
Dalam konteks ini, ulama menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak mengetahui identitas malaikat tersebut pada awalnya. Oleh karena itu, reaksinya tidak bertentangan dengan prinsip kenabian.
Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa kejadian ini menunjukkan kebolehan malaikat diuji dalam bentuk manusia, serta menunjukkan bahwa para nabi tetap berinteraksi dengan realitas fisik sebagaimana manusia lainnya.
Baca juga: Makna Dialog Nabi Muhammad dan Nabi Musa dalam Isra Miraj
Setelah kejadian tersebut, Allah memberikan pilihan kepada Nabi Musa, memperpanjang usia atau segera menghadap-Nya.
Dalam riwayat hadis disebutkan bahwa Nabi Musa sempat diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, bahkan dihitung berdasarkan jumlah bulu yang tertutup oleh tangannya di punggung seekor sapi.
Namun jawaban Nabi Musa justru mencerminkan kesadaran spiritual yang tinggi. Ia bertanya, “Apa setelah itu?” dan ketika dijawab bahwa setelah itu tetap kematian, ia memilih untuk segera wafat.
Dalam buku Qashash Al-Anbiya karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa pilihan ini menunjukkan puncak kepasrahan seorang nabi.
Ia tidak lagi terikat pada kehidupan dunia, melainkan memilih kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran.
Dalam riwayat lanjutan, Nabi Musa memohon agar didekatkan ke Tanah Suci, wilayah yang diyakini berada di sekitar Palestina.
Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda bahwa seandainya beliau berada di sana, ia akan menunjukkan lokasi kubur Nabi Musa di dekat jalan, di bawah bukit pasir merah.
Permintaan ini memiliki makna simbolik yang dalam. Dalam buku The Lives of the Prophets karya Ibn Kathir (terjemahan Inggris dari Qashash Al-Anbiya), disebutkan bahwa kedekatan dengan Tanah Suci mencerminkan harapan spiritual untuk berada di wilayah yang diberkahi.
Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim
Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain dari Nabi Musa yang sering digambarkan sebagai sosok kuat dan tegas.
Dalam banyak riwayat, Musa dikenal memiliki karakter yang tegas, bahkan emosional dalam membela kebenaran.
Hal ini terlihat dalam berbagai peristiwa, termasuk saat menghadapi Fir’aun maupun ketika membela kaumnya.
Dalam perspektif ini, peristiwa menampar malaikat maut justru memperlihatkan bahwa para nabi bukan makhluk yang “tanpa emosi”, melainkan manusia pilihan yang tetap memiliki reaksi alami, namun selalu kembali kepada kebenaran ketika mendapat petunjuk.
Di balik kisah yang unik ini, terdapat sejumlah pelajaran penting:
Pertama, kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Bahkan seorang nabi pun tidak dapat menolaknya ketika waktunya telah tiba.
Kedua, manusia sering kali bereaksi berdasarkan apa yang ia lihat, bukan pada hakikat sebenarnya. Dalam hal ini, Nabi Musa bereaksi terhadap sosok manusia, bukan malaikat.
Ketiga, kepasrahan kepada Allah adalah puncak dari keimanan. Ketika diberi pilihan, Nabi Musa justru memilih untuk kembali kepada Tuhannya.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kematian bagi orang beriman bukanlah akhir, melainkan awal dari perjumpaan dengan Allah. Perspektif inilah yang tampak dalam sikap Nabi Musa.
Kisah ini mungkin terasa jauh dari realitas sehari-hari. Namun jika ditarik ke masa kini, ia menyimpan refleksi yang sangat relevan.
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh ambisi, manusia sering kali lupa bahwa kematian adalah kepastian. Kita merencanakan banyak hal, tetapi jarang mempersiapkan diri untuk akhir kehidupan.
Nabi Musa mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian justru membawa ketenangan. Ia tidak memilih hidup lebih lama, tetapi memilih waktu yang tepat untuk kembali kepada Allah.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya bahwa hidup bukan soal berapa lama kita bertahan, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri ketika waktu itu benar-benar datang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang