KOMPAS.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah insiden penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh pejabat tinggi Israel menuai kecaman luas dari dunia Islam.
Dilansir dari Saudi Gazette, Pemerintah Arab Saudi menjadi salah satu pihak yang paling vokal dalam mengecam tindakan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional sekaligus penghinaan terhadap kesucian tempat ibadah umat Muslim.
Peristiwa ini kembali menyoroti posisi sensitif Masjid Al-Aqsa, yang tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga titik konflik geopolitik yang tak kunjung mereda.
Insiden bermula ketika Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal berhaluan kanan keras, memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Ia dilaporkan masuk melalui Gerbang Maroko dengan pengawalan ketat pasukan keamanan Israel, lalu berkeliling di area halaman masjid.
Aksi ini langsung memicu reaksi keras, terutama karena kawasan tersebut merupakan situs suci umat Islam yang memiliki status historis dan hukum yang sensitif.
Dalam konteks konflik Israel-Palestina, tindakan semacam ini sering kali dipandang sebagai provokasi yang dapat memperkeruh situasi yang sudah tegang.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, MUI Serukan Shalat Ghaib dan Kecam Serangan Israel
Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri secara terbuka mengutuk keras tindakan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Saudi menilai aksi itu sebagai bentuk pelanggaran berulang terhadap hukum internasional serta penghinaan terhadap situs-situs suci Islam.
Arab Saudi juga menekankan bahwa tindakan tersebut bukan hanya berdampak lokal, tetapi berpotensi memicu kemarahan umat Muslim secara global. Oleh karena itu, kerajaan mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam.
Lebih jauh, Arab Saudi menyerukan agar status historis Masjid Al-Aqsa dihormati, serta meminta adanya pertanggungjawaban atas tindakan yang dinilai provokatif dan berbahaya bagi stabilitas kawasan.
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah biasa. Ia merupakan kiblat pertama umat Islam dan salah satu dari tiga masjid suci dalam ajaran Islam, bersama Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Dalam buku The History of Al-Tabari karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari, disebutkan bahwa wilayah Yerusalem telah lama menjadi pusat spiritual berbagai agama, termasuk Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun dalam perspektif Islam, Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa yang tidak tergantikan.
Sementara itu, dalam buku Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore, dijelaskan bahwa kompleks Al-Aqsa merupakan salah satu kawasan paling sensitif di dunia karena menyatukan dimensi agama, sejarah, dan politik dalam satu ruang yang sama.
Baca juga: TNI Gugur Ditembak Israel di Lebanon, MUI Desak RI Bertindak
Sejak lama, pengelolaan Masjid Al-Aqsa berada dalam pengawasan otoritas Islam di bawah naungan Yordania, sementara keamanan kawasan dikendalikan oleh Israel.
Kondisi ini dikenal sebagai “status quo”, sebuah kesepakatan tidak tertulis yang berupaya menjaga stabilitas.
Namun, berbagai insiden, termasuk kunjungan pejabat Israel ke kompleks tersebut, kerap dianggap melanggar kesepakatan ini.
Dalam kajian konflik modern, seperti dijelaskan dalam buku The Israel-Palestine Conflict: One Hundred Years of War karya James L. Gelvin, tindakan simbolik di lokasi suci sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan peristiwa politik biasa, karena menyentuh identitas dan keyakinan kolektif.
Kecaman terhadap aksi tersebut tidak hanya datang dari Arab Saudi. Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan organisasi internasional juga menyuarakan keprihatinan serupa.
Bagi banyak pihak, tindakan seperti ini berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Terlebih, Yerusalem Timur merupakan wilayah yang statusnya masih disengketakan dalam hukum internasional.
Arab Saudi dalam pernyataannya menegaskan bahwa dunia internasional harus mengambil langkah konkret untuk menghentikan pelanggaran yang berulang, serta memastikan perlindungan terhadap situs-situs bersejarah di Palestina.
Baca juga: Suhu Arab Saudi Diprediksi Lebih Panas, Musim Haji 2026 Berpotensi Lebih Terik
Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa konflik di sekitar Masjid Al-Aqsa tidak hanya berkaitan dengan wilayah, tetapi juga menyangkut dimensi spiritual yang mendalam.
Dalam perspektif keagamaan, menjaga kesucian tempat ibadah merupakan bagian dari tanggung jawab moral.
Namun dalam realitas geopolitik, hal tersebut sering kali berbenturan dengan kepentingan politik dan kekuasaan.
Di tengah situasi ini, seruan untuk menahan diri dan menghormati kesepakatan yang ada menjadi semakin penting.
Sebab, seperti yang berulang kali terjadi dalam sejarah, satu tindakan kecil di tempat yang sensitif dapat memicu gelombang besar yang sulit dikendalikan.
Insiden penyerbuan ini menjadi pengingat bahwa konflik di Yerusalem belum menemukan titik terang.
Masjid Al-Aqsa tetap berada di pusat dinamika yang kompleks, di mana agama, sejarah, dan politik saling berkelindan.
Bagi umat Islam di seluruh dunia, peristiwa ini bukan sekadar berita, melainkan juga panggilan untuk terus menjaga kepedulian terhadap salah satu situs suci yang memiliki makna mendalam.
Dan di tengah semua itu, harapan akan perdamaian tetap menjadi hal yang paling dinantikan, meski jalan menuju ke sana masih panjang dan penuh tantangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang