KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyoroti munculnya pernyataan bernada provokatif yang dinilai berpotensi mengarah pada upaya makar di tengah situasi global yang penuh tekanan.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (10/4/2026), saat merespons dinamika politik yang muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
“Saya juga menentang pihak mana pun yang hendak memanfaatkan keadaan di tengah tantangan-tantangan berat ini untuk memicu dinamika politik yang membahayakan bangsa dan negara,” ujar Gus Yahya.
Ia menilai, situasi global yang sedang tidak stabil seharusnya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik jangka pendek yang justru berpotensi memperkeruh kondisi dalam negeri.
Baca juga: PBNU Apresiasi Saudi dan Negara Teluk yang Tak Balas Serangan Iran
Menurut Yahya, dalam beberapa waktu terakhir muncul pernyataan-pernyataan yang secara politis berbahaya.
Bahkan, ia menyebut sebagian pihak menilai narasi tersebut sudah mengarah pada percobaan makar.
“Saya kira ada pernyataan-pernyataan yang secara politis sangat berbahaya. Saya bahkan cenderung menyebutnya sebagai provokasi. Beberapa orang yang saya ajak berdiskusi menyebutnya sebagai percobaan makar,” tuturnya.
Ia mencontohkan adanya seruan-seruan politik ekstrem di tengah situasi krisis, termasuk tuntutan terhadap kepemimpinan nasional, yang dinilai tidak tepat dalam kondisi saat ini.
“Di tengah situasi perang begini tiba-tiba ada tuntutan presiden mundur. Saya juga melihat di media sosial. Itu berbahaya sekali,” kata Yahya.
Baca juga: PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Serukan Hentikan Perang Timur Tengah
Yahya menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan berat akibat dinamika global, termasuk dampak konflik internasional terhadap ekonomi dan stabilitas nasional.
Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, bangsa Indonesia tidak bisa menanggung tambahan tekanan dari dinamika politik internal yang tidak konstruktif.
“Kita tidak bisa menanggungkan anomali politik apa pun di tengah keadaan ini. Kita butuh bertahan bersama, kita harus survive bersama,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk provokasi politik yang memecah belah justru akan memperlemah daya tahan bangsa dalam menghadapi krisis yang lebih besar.
Baca juga: Gus Yahya Ingatkan Ancaman Krisis Minyak, Konflik Timur Tengah Bisa Guncang Indonesia
Sebagai langkah respons, PBNU telah melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat kesiapan organisasi dalam menghadapi situasi global.
Yahya juga menyatakan akan memperluas komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan komunitas lintas sektor.
“PBNU telah melakukan konsolidasi sejak awal minggu ini. Kami mengonsolidasikan instrumen organisasi yang ada, dan setelah ini saya akan aktif berdialog dengan elemen-elemen masyarakat yang lain,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya membangun ketahanan sosial (societal resilience) sebagai fondasi utama dalam menghadapi tekanan global.
Menurutnya, kekuatan masyarakat di tingkat akar rumput menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nasional.
“Kita harus berkonsolidasi secara menyeluruh. Kita tidak boleh memanfaatkan keadaan untuk kepentingan politik parsial,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Yahya mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan persatuan dan menahan diri dari narasi yang dapat memicu konflik.
Ia menegaskan bahwa situasi global saat ini membutuhkan solidaritas nasional, bukan perpecahan.
“Kita harus hadapi keadaan ini bersama-sama. Ini tantangan berat, dan tidak bisa diselesaikan kalau kita justru saling melemahkan,” pungkasnya.
Pernyataan Yahya Cholil Staquf tersebut menegaskan bahwa di tengah ancaman krisis global, stabilitas dalam negeri menjadi faktor krusial.
Upaya menjaga persatuan dan menghindari provokasi politik dinilai sebagai langkah penting agar Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tekanan yang ada.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang