Editor
KOMPAS.com - Kiswah merupakan kain penutup Ka’bah yang memiliki makna penting dalam tradisi Islam.
Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung fisik Ka’bah, tetapi juga sarat nilai spiritual dan sejarah.
Setiap tahun, Kiswah diganti sebagai bagian dari rangkaian persiapan ibadah haji di Masjidil Haram.
Keberadaannya menjadi simbol penghormatan umat Islam terhadap Ka’bah sebagai pusat ibadah.
Baca juga: Ke Mana Perginya Kiswah Lama Kabah Setelah Diganti?
Dilansir dari laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Kiswah adalah kain berwarna hitam yang dihiasi benang emas untuk menutupi Ka'bah, bangunan suci yang berada di pusat Masjidil Haram.
Kain ini dibuat dari bahan berkualitas tinggi, umumnya berupa sutra hitam yang dipadukan dengan kaligrafi ayat-ayat suci Alquran.
Kiswah dipasang setiap tahun pada waktu tertentu, khususnya menjelang musim haji, dan memiliki makna yang sangat mendalam bagi umat Islam.
Baca juga: Momen Langka, Begini Penampakan Asli Kabah Tanpa Kiswah
Secara bahasa, Kiswah berarti “penutup”. Ukurannya sangat besar, sekitar 658 meter persegi dengan berat kurang lebih 650 kilogram, sehingga mampu menutupi seluruh permukaan Ka’bah.
Selain itu, Kiswah dilengkapi bagian tertentu seperti pintu dan jendela yang memudahkan akses ke dalam Ka’bah.
Kain ini juga memiliki makna simbolis sebagai lambang kesucian, kebersihan, dan bentuk penghormatan kepada Allah.
Dalam tradisi Islam, Kiswah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian ibadah haji, saat umat Muslim berkumpul untuk beribadah dan menunjukkan ketaatan kepada Tuhan.
Kiswah sendiri diganti secara rutin setiap tahun, yaitu pada tanggal 1 Muharram.
Pada masa pra-Islam, Kiswah tidak hanya berfungsi sebagai penutup Ka’bah, tetapi juga menjadi simbol kehormatan dan identitas budaya suku-suku Arab.
Mereka menggunakan kain dengan warna dan motif yang beragam sesuai dengan kepercayaan dan tradisi masing-masing.
Salah satu tokoh yang tercatat pernah menutupi Ka’bah adalah Raja Tub’a dari Yaman dengan kain berwarna-warni.
Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan nenek moyang, terutama pada masa ketika kaum Quraisy menguasai Makkah dalam waktu yang lama.
Memasuki masa Islam, Kiswah mulai dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat suci Alquran, terutama Surat Al Ikhlas, kalimat Allahu Akbar, dan syahadat.
Namun, Rasulullah tidak mengubah warna Kiswah dan tetap menggunakan warna peninggalan dari Yaman.
Pada masa khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, warna Kiswah berubah menjadi warna Koptik khas Mesir.
Selanjutnya, pada masa Dinasti Muawiyah, warna Kiswah kembali mengalami perubahan menjadi merah, putih, hijau, dan hitam.
Perdebatan sempat muncul mengenai warna yang paling sesuai, hingga akhirnya disepakati bahwa Kiswah berwarna hitam.
Jemaah berdoa sambil mencium Kiswah Ka'bah.Raja Muzaffar dari Yaman pada masa Dinasti Abbasiyah disebut sebagai pihak pertama yang membuat Kiswah dalam bentuk seperti baju.
Produksi Kiswah saat itu dilakukan di Mesir, seiring dengan luasnya kekuasaan Abbasiyah.
Seiring perkembangan zaman, produksi Kiswah dilakukan di berbagai wilayah, termasuk Mesir dan Mekkah.
Pada era modern, sejak 1977, Arab Saudi mendirikan pabrik Kiswah di Mekkah untuk memproduksi kain ini secara mandiri, menegaskan pentingnya Kiswah dalam konteks budaya dan keagamaan umat Islam.
Berikut adalah beberapa fungsi Kiswah yang menutupi Ka'bah:
Fungsi utama Kiswah adalah melindungi Ka’bah dari paparan cuaca, debu, dan kotoran. Dengan adanya penutup ini, kondisi Ka’bah tetap terjaga kebersihan dan kesuciannya sehingga nyaman bagi jemaah yang datang beribadah.
Kiswah juga berperan sebagai simbol kebanggaan bagi umat Islam. Keindahan dan kemegahannya menghubungkan umat dengan sejarah panjang dan tradisi keagamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain sebagai penutup fisik, Kiswah berfungsi sebagai pengingat spiritual. Kaligrafi ayat-ayat Alquran yang tertera di atasnya mengandung makna mendalam, sehingga mendorong jemaah untuk senantiasa berdoa, bersyukur, dan mengingat Allah.
Jemaah melakukan ibadah thawaf mengelilingi Ka'bah.Kiswah menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul di Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, dan keberadaan Kiswah memperkuat rasa kebersamaan di tengah perbedaan latar belakang.
Dengan adanya pabrik Kiswah di Mekkah, kebutuhan kain penutup Ka’bah dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Produksi lokal ini memastikan kualitas Kiswah tetap terjaga dan tidak bergantung pada pihak lain, sehingga mendukung kelancaran pelaksanaan ibadah haji setiap tahun.
Kiswah tidak hanya berfungsi sebagai penutup Ka’bah, tetapi juga memiliki nilai sejarah, simbolik, dan spiritual yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang