Editor
KOMPAS.com - Nama Abu Hurairah tentu tidak asing di telinga umat Islam. Ia dikenal sebagai sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits dalam jumlah sangat banyak.
Hingga kini, namanya masih kerap disebut dalam kitab hadits, ceramah, hingga pelajaran agama di sekolah.
Namun, di balik popularitas namanya, tidak semua orang memahami secara utuh perjalanan hidup dan perjuangannya.
Baca juga: Biografi Abu Hurairah, Sahabat yang Meriwayatkan Hadis Paling Banyak
Dilansir dari laman Kemenag Denpasar, nama asli Abu Hurairah adalah Abd al-Rahman ibn Sakhr al-Dawsi. Ia berasal dari kabilah Daws di wilayah Yaman.
Julukan “Abu Hurairah” yang berarti “ayah dari anak kucing” diberikan karena kegemarannya memelihara seekor kucing kecil yang sering ia bawa ke mana-mana.
Kebiasaan sederhana itu membuat para sahabat memanggilnya dengan julukan tersebut, hingga akhirnya nama Abu Hurairah lebih dikenal dibandingkan nama aslinya.
Baca juga: Abu Hurairah, Periwayat Hadis dan Bapak Para Kucing
Abu Hurairah memeluk Islam beberapa tahun setelah dakwah Nabi berkembang. Ia masuk Islam melalui dakwah sahabat Al-Tufayl ibn Amr al-Dawsi, pemimpin kabilahnya yang lebih dahulu menerima Islam.
Setelah itu, ia datang ke Madinah untuk bertemu langsung dengan Muhammad. Di kota ini, Abu Hurairah menjalani kehidupan sederhana dengan bekerja sebagai buruh.
Ia kerap merasakan lapar hingga harus mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar.
Diceritakan, ia pernah berbaring di mimbar masjid hingga orang-orang mengira dirinya tidak waras.
Ketika Rasulullah mendengar hal itu, beliau segera menemui Abu Hurairah dan menjelaskan kepada orang-orang bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh rasa lapar, lalu beliau memberinya makanan.
Dikutip dari laman DPPAI Universitas Islam Indonesia (UII), Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah. https://dppai.uii.ac.id/biografi-abu-hurairah/
Ia termasuk dalam kelompok Ahl al-Suffah, yaitu orang-orang miskin atau penuntut ilmu yang tinggal di serambi masjid.
Suatu hari, ia duduk di pinggir jalan tempat orang-orang berlalu-lalang. Saat itu ia melihat Abu Bakr berjalan, lalu ia meminta agar dibacakan satu ayat Al-Qur’an.
Ia berkata, “Saya bertanya begitu supaya beliau mengajakku ikut dengannya dan memberiku pekerjaan”. Namun Abu Bakar hanya membacakan ayat tersebut lalu pergi.
Tak lama kemudian, ia melihat Umar ibn al-Khattab dan meminta hal yang sama. Namun Umar juga melakukan hal serupa seperti Abu Bakar.
Tidak lama berselang, Rasulullah datang. Nabi tersenyum, dan Abu Hurairah berkata dalam hatinya bahwa Rasulullah memahami apa yang ia rasakan.
Nabi memanggilnya, “ya Aba Hurairah!” Ia menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah!”. Rasulullah kemudian mengajaknya ke rumah.
Di dalam rumah terdapat semangkuk susu. Rasulullah bertanya dari mana susu itu berasal dan mendapat jawaban bahwa ada seseorang yang memberikannya.
Rasulullah lalu berkata, “ya Aba Hurairah! Tolong panggilkan ahli suffah”. Susu tersebut kemudian dibagikan kepada para Ahl al-Suffah, termasuk Abu Hurairah.
Sejak peristiwa itu, Abu Hurairah semakin mengabdikan dirinya kepada Rasulullah dan bergabung sepenuhnya dengan Ahl al-Suffah.
Abu Hurairah meriwayatkan banyak hadits karena ia selalu mendampingi Rasulullah sejak masuk Islam.
Ia berkata, “…….sesungguhnya saudara kami dari golongan muhajirin sibuk dengan urusan mereka dipasar dan orang-orang Anshar sibuk bekerja diladang mereka, sementara aku seorang yang miskin senantiasa bersama Rasulullah di mil’i batni. Aku hadir di majelis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada saat mereka lupa” (Hadits Riwayat Bukhari).
Pada awalnya, Abu Hurairah mengaku memiliki daya ingat yang lemah. Ia kemudian mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah.
Rasulullah lalu mendoakannya agar diberi kekuatan hafalan. Sejak saat itu, Abu Hurairah memiliki ingatan yang sangat kuat dan mampu menghafal banyak hadits.
Sejak tinggal dekat dengan Nabi, hidup Abu Hurairah berubah. Ia memilih untuk terus berada di sekitar Rasulullah dan menimba ilmu.
Ia juga memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendengar, menghafal, dan meriwayatkan hadits.
Karena ketekunan dan kedekatannya itu, Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Dalam berbagai literatur hadits, jumlah riwayat yang disandarkan kepadanya mencapai lebih dari lima ribu hadits, yang tersebar dalam kitab-kitab hadits seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Meski masa kebersamaannya dengan Nabi tidak terlalu lama, yaitu sekitar tiga tahun sejak tahun ke-7 Hijriah hingga wafatnya Nabi, waktu tersebut ia manfaatkan sepenuhnya untuk belajar dan mengabdi.
Nama Abu Hurairah terus hidup dalam tradisi Islam hingga saat ini. Setiap kali seorang Muslim membaca hadits yang diawali dengan kalimat “dari Abu Hurairah, ia berkata…”, sejatinya ia sedang menyimak kembali riwayat dari seorang sahabat yang pernah duduk dekat dengan Rasulullah lebih dari empat belas abad yang lalu.
Perannya yang besar dalam meriwayatkan hadits menjadikan Abu Hurairah sebagai salah satu tokoh penting dalam menjaga dan menyebarkan ajaran Rasulullah kepada generasi berikutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang