KOMPAS.com – Pergantian bulan dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan waktu, tetapi momentum spiritual yang mengajak umat Islam untuk memperbarui niat, memperbanyak syukur, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Salah satu momen yang kerap luput dari perhatian adalah datangnya bulan Zulkaidah, padahal bulan ini termasuk dalam kategori bulan mulia (asyhurul hurum) dalam Islam.
Memasuki 1 Zulkaidah 1447 H yang diperkirakan jatuh pada 18 April 2026, umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan doa dan amalan kebaikan. Lalu, bagaimana bacaan doa memasuki bulan Zulkaidah dan apa makna di baliknya?
Baca juga: 12 Bulan Hijriah: Urutan, Makna, dan Bulan Haram dalam Islam
Zulkaidah merupakan bulan ke-11 dalam kalender Hijriah. Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36 disebutkan bahwa terdapat empat bulan haram (suci), yaitu Dzulqa’dah (Zulkaidah), Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa bulan-bulan haram memiliki keutamaan khusus, di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Secara historis, Zulkaidah dikenal sebagai bulan di mana masyarakat Arab menghentikan peperangan.
Tradisi ini kemudian dilestarikan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang dimuliakan.
Baca juga: 8 Doa di Bulan Syawal yang Dianjurkan Rasulullah dan Keutamaannya
Salah satu amalan yang dianjurkan saat pergantian bulan Hijriah adalah membaca doa sebagai bentuk syukur dan harapan akan keberkahan di bulan yang baru.
Doa ini disebutkan dalam kitab Al-Adabus Syar’iyyah karya Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi:
اللّهُ أَكْبَرُ، اللّهُ أَكْبَرُ، اللّهُ أَكْبَرُ، الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي ذَهَبَ بِشَهْرِ كَذَا وَجَاءَ بِشَهْرِ كَذَا
Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar.
Alhamdulillahil ladzi dzahaba bi syahri kadzaa wa jaa-a bi syahri kadzaa.
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan bulan ini dan mendatangkan bulan yang baru.”
Doa ini dibaca dengan menyebut nama bulan yang telah berlalu dan bulan yang sedang datang, sebagai bentuk kesadaran akan siklus waktu yang terus berjalan.
Selain doa pergantian bulan, umat Islam juga dianjurkan membaca doa syukur atas amal yang telah dilakukan:
مَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ، فَأَسْأَلُكَ أَللهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَا الْجَلَالِ والْإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلُهُ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ، وَصَلّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Wa ma ‘alimtu fiha mimma tardhohu wa wa’adtani ‘alaihis sawab, fa as’alukallohumma ya karim ya dzal jalali wal ikrom an tataqobbalahu minni wa la taqtho’ roja’i minka ya karim, wa shollallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Artinya: "Dan, apa yang aku lakukan di tahun ini yang Engkau ridhai dan janjikan ganjaran padanya, maka aku bermohon pada-Mu Ya Allah Yang Maha Mulia, Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, untuk menerima amalku, dan tidak memupuskan harapanku pada-Mu. Dan Allah senantiasa berselawat dan memohon selamat kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., keluarganya dan para sahabatnya."
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa refleksi atas amal masa lalu merupakan bagian penting dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Dalam sistem kalender Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam (Maghrib). Oleh karena itu, doa awal bulan Zulkaidah sudah bisa dibaca sejak malam hari sebelum tanggal 1 Zulkaidah.
Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri, sekaligus menyusun niat untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Baca juga: Keutamaan Bulan Syawal: Waktu Naik Level Iman Setelah Ramadhan
Membaca doa saat pergantian bulan bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam, di antaranya:
Dalam perspektif Islam, waktu adalah amanah. Setiap pergantian bulan menjadi pengingat bahwa kehidupan terus berjalan menuju akhir.
Selain membaca doa, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan untuk mengisi bulan Zulkaidah:
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa puasa di bulan-bulan haram memiliki keutamaan tersendiri. Puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, maupun puasa Daud dapat menjadi pilihan.
Dalam riwayat sahih yang tercantum dalam Shahih Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW beberapa kali melaksanakan umrah di bulan Zulkaidah. Hal ini menunjukkan keutamaan bulan ini sebagai bagian dari musim haji (asyhurul hajj).
Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 195 menganjurkan umat Islam untuk berinfak di jalan Allah. Di bulan mulia seperti Zulkaidah, nilai sedekah diyakini semakin besar.
Zikir menjadi amalan ringan namun berdampak besar. Dalam berbagai literatur seperti Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, zikir disebut sebagai amalan yang dapat mendekatkan hati kepada Allah.
Momentum bulan haram dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki ibadah, memperdalam ilmu agama, dan meningkatkan ketakwaan.
Baca juga: Kalender Bulan Syawal 1447 H Lengkap dengan Penanggalan Masehi dan Kalender Jawa
Bulan Zulkaidah hadir di antara dua momentum besar, yaitu Idul Fitri di bulan Syawal dan ibadah haji di bulan Zulhijah. Posisi ini menjadikannya sebagai masa persiapan spiritual.
Dalam buku The Study Quran, waktu dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai dimensi kronologis, tetapi juga sebagai ruang spiritual untuk bertumbuh.
Karena itu, menyambut bulan Zulkaidah dengan doa bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kesadaran bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Memasuki bulan Zulkaidah mengajarkan bahwa kehidupan adalah rangkaian waktu yang terus bergerak.
Doa yang dipanjatkan di awal bulan menjadi simbol harapan, sementara amalan yang dilakukan menjadi bukti kesungguhan.
Di tengah kesibukan dunia modern, momen seperti ini mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup untuk mengejar waktu, tetapi juga untuk memaknainya.
Dan dari pergantian bulan yang sederhana, tersimpan pelajaran besar, bahwa setiap awal adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang