KOMPAS.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, satu pertanyaan klasik kembali muncul di tengah masyarakat, bagaimana memilih hewan kurban yang benar-benar sah menurut syariat, sekaligus sehat dan layak dikonsumsi?
Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia merupakan simbol ketundukan total kepada Allah SWT, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih hewan kurban menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah tersebut.
Lantas, apa saja syarat sah hewan kurban dan bagaimana cara memilih yang terbaik? Berikut panduan lengkapnya.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 34, Allah menegaskan bahwa kurban adalah bagian dari syiar agama yang berkaitan erat dengan rasa syukur atas rezeki berupa hewan ternak.
Dalam perspektif tafsir, M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa esensi kurban bukan pada darah atau dagingnya, melainkan pada ketakwaan yang menyertai proses tersebut. Dengan kata lain, kualitas hewan mencerminkan kualitas pengorbanan.
Baca juga: Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban dan Akikah Sekaligus? Ini Hukum dan Pendapat Ulama
Hewan yang sah untuk kurban terbatas pada hewan ternak tertentu, yaitu:
Hewan selain itu, seperti ayam atau kelinci, tidak memenuhi syarat kurban.
Dalam kitab Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq menegaskan bahwa pembatasan jenis ini didasarkan pada praktik ibadah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Usia menjadi indikator penting karena berkaitan dengan kelayakan fisik hewan.
Ketentuannya:
Hadis riwayat Nabi Muhammad menyebutkan larangan menyembelih hewan yang belum mencapai usia “musinnah”, kecuali dalam kondisi tertentu.
Baca juga: Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Hewan kurban harus bebas dari cacat yang mengurangi kualitasnya.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan beberapa cacat yang membuat kurban tidak sah:
Ada pula cacat yang hanya menyebabkan makruh, seperti tanduk patah atau telinga terpotong sebagian.
Kesehatan hewan menjadi syarat mutlak, tidak hanya untuk sahnya ibadah, tetapi juga untuk keamanan konsumsi.
Ciri hewan sehat:
Dalam praktik modern, keberadaan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dokter hewan menjadi standar tambahan yang dianjurkan.
Membeli hewan dari penjual resmi atau lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dapat meminimalkan risiko penipuan dan memastikan kualitas hewan.
Transparansi asal-usul hewan, usia, dan kesehatannya menjadi nilai tambah yang penting.
Hewan yang baik tidak hanya memenuhi syarat minimal, tetapi juga dalam kondisi optimal.
Ciri tambahan:
Rasulullah SAW bahkan menganjurkan memilih hewan terbaik sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.
Jika tidak ada data kelahiran, usia hewan dapat dikenali dari pergantian gigi.
Metode ini umum digunakan dalam ilmu peternakan dan juga disebut dalam berbagai literatur fikih sebagai cara praktis menentukan kelayakan hewan.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
Hewan seperti ini berpotensi tidak sah untuk kurban sekaligus berisiko bagi kesehatan.
Baca juga: Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Memilih hewan kurban bukan sekadar memenuhi syarat administratif ibadah. Ia mencerminkan kualitas spiritual seseorang.
Dalam Fiqh al-Ibadat, Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa ibadah kurban mengandung dimensi sosial yang kuat, yaitu berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui daging yang berkualitas.
Semakin baik hewan yang dipilih, semakin besar manfaat yang dirasakan oleh penerima.
Pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang apa yang disembelih, tetapi juga tentang apa yang dikorbankan dalam diri, ego, kepentingan pribadi, dan kecintaan berlebih pada dunia.
Seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim, pengorbanan sejati lahir dari keikhlasan total.
Dan mungkin, di situlah letak makna terdalam Idul Adha, ketika manusia tidak hanya memberi, tetapi juga belajar melepaskan.
Dengan Idul Adha 2026 yang diperkirakan jatuh pada 27 Mei, waktu yang tersedia seharusnya dimanfaatkan untuk mempersiapkan kurban secara matang.
Mulai dari memilih hewan, memastikan syaratnya, hingga menentukan penyaluran yang tepat.
Karena pada akhirnya, kurban bukan hanya ibadah personal, tetapi juga jembatan kepedulian sosial yang menghubungkan satu hati dengan hati lainnya.