Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jabal Magnet Madinah, Fenomena Misterius yang Bikin Penasaran Jemaah Haji dan Umrah

Kompas.com, 29 April 2026, 19:55 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Banyak jemaah yang datang ke Madinah saat musim umrah tidak hanya beribadah di Masjid Nabawi, tetapi juga mengunjungi destinasi wisata alam dan sejarah di sekitarnya.

Salah satu lokasi yang paling sering didatangi adalah Taman Al-Baida (Al-Baida Park) atau Wadi Jinn.

Selain dikenal sebagai Wadi Jinn, warga setempat menyebut kawasan ini sebagai Manthiqa Baidha yang berarti perkampungan putih.

Baca juga: Jabal Rahmah, Sejarah Bukit di Arafah yang Jadi Simbol Kasih Sayang dan Pengampunan

Tempat tersebut juga populer dengan nama Jabal Magnet atau Gunung Magnet.

Kawasan ini terkenal karena fenomena jalan yang membuat kendaraan tampak bergerak menanjak tanpa tenaga mesin.

Keunikan tersebut menjadikan tempat ini populer sebagai tujuan wisata di kalangan jemaah haji dan umrah.

Baca juga: Mengenal Multazam di Masjidil Haram: Letak, Keutamaan, dan Tata Cara Berdoa yang Dianjurkan

Lokasi Jabal Magnet di Madinah

Dilansir dari laman Kemenag, Jabal Magnet berada sekitar 40 kilometer di barat laut Madinah. Sepanjang jalan dari Kota Madinah sampai ke lokasi ini mayoritas hanya perbukitan batu.

Di kanan kiri jalan, kebanyakan hanya hamparan lahan gersang. Sesekali terlihat kebun-kebun kurma.

Beberapa kilometer sebelum Jabal Magnet, terlihat ada semacam danau di pinggir jalan. Titik yang juga banyak perhatian wisatawan ketika dalam perjalanan ke sana.

Ketika jalan beraspal sudah habis dan tidak ada jalan lain kecuali putar balik, tandanya sudah sampai di Jabal Magnet.

Fenomena Mobil Melaju di Jalan Menanjak

Dilansir dari Arab News, daya tarik utama Jabal Magnet adalah fenomena kendaraan yang terlihat bergerak sendiri di jalan menanjak.

Di lokasi ini kerap terlihat puluhan mobil dan bus berhenti untuk mencoba sensasi tersebut.

Pengunjung biasanya mematikan mesin kendaraan, lalu mobil tampak melaju perlahan ke arah tanjakan.

Ada pula yang menuangkan air ke permukaan jalan untuk melihat aliran air yang seolah bergerak berlawanan arah, atau menggelindingkan botol minuman yang dibawa.

Bola, kelereng, bahkan butiran air bergerak searah dengan mobil yang melaju dengan transmisi netral.

Sebagian orang juga menyebut jarum kompas tidak bekerja normal di kawasan tersebut sehingga arah utara dan selatan tampak berubah.

Fenomena inilah yang membuat kawasan tersebut dijuluki Jabal Magnet dan terus menarik rasa penasaran wisatawan.

Sejarah Jabal Magnet 

Berbagai kisah berkembang mengenai awal mula penemuan Jabal Magnet. Salah satu cerita menyebut kawasan itu ditemukan ketika sebuah pesawat terbang rendah tiba-tiba mengalami penurunan kecepatan saat melintas.

Versi lain menyebut seorang Arab Badui sedang berhenti di kawasan itu, lalu mobil yang diparkir dalam kondisi mesin mati tiba-tiba berjalan sendiri.

Sejak saat itu, warga berdatangan untuk membuktikan cerita tersebut hingga akhirnya berkembang menjadi objek wisata.

Saat musim haji dan umrah, jumlah pengunjung ke lokasi ini meningkat. Pemerintah Arab Saudi kemudian membangun akses jalan menuju kawasan tersebut.

Penjelasan Fenomena di Jabal Magnet

Secara ilmiah, fenomena di Jabal Magnet sering dikaitkan dengan kondisi geologi wilayah Madinah. Kawasan tersebut berdiri di atas Arabian Shield tua yang berusia ratusan juta tahun serta memiliki hamparan lava basaltik luas.

Di sekitar Madinah juga terdapat sejumlah kawasan vulkanik seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid, dan Harrah Khaybar.

Bentuk pegunungan vulkanik di Arab Saudi berbeda dengan gunung berapi kerucut seperti di Indonesia, karena lebih melebar dengan puncak rendah.

Batuan basalt umumnya mengandung unsur besi dalam mineral tertentu. Kandungan tersebut diduga dapat menimbulkan anomali magnetik di beberapa titik, meski belum ada penelitian ilmiah yang benar-benar memastikan fenomena Jabal Magnet.

Selain itu, ada juga yang menyebut bahwa fenomena ini terkait dengan ilusi optik.

Dilansir dari Antara, ilusi optik berupa slope illusion muncul karena perbukitan di tepi jalan yang berupa batuan tersusun secara tidak beraturan dengan arah garis yang tidak selalu tegak lurus.

Di sisi lain horison pemandangan yang lebih luas terhalangi oleh kehadiran bukit-bukit tersebut.

Slope illusion tersebut hadir pada lokasi khusus yang disebut gravity hill atau bukit gravitasi. Hal itu merujuk pada lokasi yang secara khas memiliki tata letak lingkungan yang menghasilkan ilusi optik yang membuat jalan menurun tampak menanjak.

Faktor utama yang berkontribusi terhadap ilusi tersebut adalah cakrawala yang terhalang.

Tanpa adanya horizon yang menjadi acuan, maka mata sulit menilai kemiringan suatu permukaan karena tidak terlihat.

Hingga kini belum ada kesimpulan ilmiah resmi yang sepenuhnya menjelaskan fenomena Wadi Jinn atau Jabal Magnet.

Karena itu, kawasan ini tetap menjadi misteri alam yang menarik perhatian jemaah haji dan umrah.

Bagi banyak pengunjung, Jabal Magnet bukan sekadar lokasi wisata, tetapi pengalaman unik saat berada di Tanah Suci.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bus Shalawat Gratis Mulai Beroperasi di Makkah, 56 Armada Disabilitas Disiapkan
Bus Shalawat Gratis Mulai Beroperasi di Makkah, 56 Armada Disabilitas Disiapkan
Aktual
Saudi Tinjau Akomodasi Haji, Tambah 566 Ribu Tempat Tidur
Saudi Tinjau Akomodasi Haji, Tambah 566 Ribu Tempat Tidur
Aktual
12 Kloter Jemaah Haji Indonesia Mulai Masuk Makkah untuk Mengambil Miqat dan Jalani Umrah Wajib
12 Kloter Jemaah Haji Indonesia Mulai Masuk Makkah untuk Mengambil Miqat dan Jalani Umrah Wajib
Aktual
Arab Saudi Berikan Cuti Haji Berbayar hingga 15 Hari bagi Karyawan
Arab Saudi Berikan Cuti Haji Berbayar hingga 15 Hari bagi Karyawan
Aktual
Jabal Magnet Madinah, Fenomena Misterius yang Bikin Penasaran Jemaah Haji dan Umrah
Jabal Magnet Madinah, Fenomena Misterius yang Bikin Penasaran Jemaah Haji dan Umrah
Aktual
Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?
Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?
Aktual
DPR RI Ansari Usul Revisi UU Haji: Cicilan Bipih Lebih Fleksibel
DPR RI Ansari Usul Revisi UU Haji: Cicilan Bipih Lebih Fleksibel
Aktual
Shalat di Hijir Ismail, Ini Doa dan Keutamaan yang Jarang Diketahui
Shalat di Hijir Ismail, Ini Doa dan Keutamaan yang Jarang Diketahui
Doa dan Niat
Masuk Raudhah Gratis, PPIH Ungkap Modus Calo Patok Tarif Rp 5 Juta
Masuk Raudhah Gratis, PPIH Ungkap Modus Calo Patok Tarif Rp 5 Juta
Aktual
Menitipkan Anak di Daycare, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Menitipkan Anak di Daycare, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Saudi Rilis Discover Makkah, Cek Lokasi Bersejarah di Makkah Jadi Lebih Mudah
Saudi Rilis Discover Makkah, Cek Lokasi Bersejarah di Makkah Jadi Lebih Mudah
Aktual
Rahasia Jendela Masjid Nabawi Tak Pernah Tutup, Bukti Cinta Hafshah kepada Nabi
Rahasia Jendela Masjid Nabawi Tak Pernah Tutup, Bukti Cinta Hafshah kepada Nabi
Aktual
Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Madinah, Kemenhaj Pastikan Penanganan
Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Madinah, Kemenhaj Pastikan Penanganan
Aktual
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Mei 2026, Bacaan Niat, dan Keutamaannya
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Mei 2026, Bacaan Niat, dan Keutamaannya
Aktual
Saudi Luncurkan Sekolah Lapangan di Gaza, Selamatkan Nasib 1.000 Siswa
Saudi Luncurkan Sekolah Lapangan di Gaza, Selamatkan Nasib 1.000 Siswa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com