Editor
KOMPAS.com - Banyak jemaah yang datang ke Madinah saat musim umrah tidak hanya beribadah di Masjid Nabawi, tetapi juga mengunjungi destinasi wisata alam dan sejarah di sekitarnya.
Salah satu lokasi yang paling sering didatangi adalah Taman Al-Baida (Al-Baida Park) atau Wadi Jinn.
Selain dikenal sebagai Wadi Jinn, warga setempat menyebut kawasan ini sebagai Manthiqa Baidha yang berarti perkampungan putih.
Baca juga: Jabal Rahmah, Sejarah Bukit di Arafah yang Jadi Simbol Kasih Sayang dan Pengampunan
Tempat tersebut juga populer dengan nama Jabal Magnet atau Gunung Magnet.
Kawasan ini terkenal karena fenomena jalan yang membuat kendaraan tampak bergerak menanjak tanpa tenaga mesin.
Keunikan tersebut menjadikan tempat ini populer sebagai tujuan wisata di kalangan jemaah haji dan umrah.
Baca juga: Mengenal Multazam di Masjidil Haram: Letak, Keutamaan, dan Tata Cara Berdoa yang Dianjurkan
Dilansir dari laman Kemenag, Jabal Magnet berada sekitar 40 kilometer di barat laut Madinah. Sepanjang jalan dari Kota Madinah sampai ke lokasi ini mayoritas hanya perbukitan batu.
Di kanan kiri jalan, kebanyakan hanya hamparan lahan gersang. Sesekali terlihat kebun-kebun kurma.
Beberapa kilometer sebelum Jabal Magnet, terlihat ada semacam danau di pinggir jalan. Titik yang juga banyak perhatian wisatawan ketika dalam perjalanan ke sana.
Ketika jalan beraspal sudah habis dan tidak ada jalan lain kecuali putar balik, tandanya sudah sampai di Jabal Magnet.
Dilansir dari Arab News, daya tarik utama Jabal Magnet adalah fenomena kendaraan yang terlihat bergerak sendiri di jalan menanjak.
Di lokasi ini kerap terlihat puluhan mobil dan bus berhenti untuk mencoba sensasi tersebut.
Pengunjung biasanya mematikan mesin kendaraan, lalu mobil tampak melaju perlahan ke arah tanjakan.
Ada pula yang menuangkan air ke permukaan jalan untuk melihat aliran air yang seolah bergerak berlawanan arah, atau menggelindingkan botol minuman yang dibawa.
Bola, kelereng, bahkan butiran air bergerak searah dengan mobil yang melaju dengan transmisi netral.
Sebagian orang juga menyebut jarum kompas tidak bekerja normal di kawasan tersebut sehingga arah utara dan selatan tampak berubah.
Fenomena inilah yang membuat kawasan tersebut dijuluki Jabal Magnet dan terus menarik rasa penasaran wisatawan.
Berbagai kisah berkembang mengenai awal mula penemuan Jabal Magnet. Salah satu cerita menyebut kawasan itu ditemukan ketika sebuah pesawat terbang rendah tiba-tiba mengalami penurunan kecepatan saat melintas.
Versi lain menyebut seorang Arab Badui sedang berhenti di kawasan itu, lalu mobil yang diparkir dalam kondisi mesin mati tiba-tiba berjalan sendiri.
Sejak saat itu, warga berdatangan untuk membuktikan cerita tersebut hingga akhirnya berkembang menjadi objek wisata.
Saat musim haji dan umrah, jumlah pengunjung ke lokasi ini meningkat. Pemerintah Arab Saudi kemudian membangun akses jalan menuju kawasan tersebut.
Secara ilmiah, fenomena di Jabal Magnet sering dikaitkan dengan kondisi geologi wilayah Madinah. Kawasan tersebut berdiri di atas Arabian Shield tua yang berusia ratusan juta tahun serta memiliki hamparan lava basaltik luas.
Di sekitar Madinah juga terdapat sejumlah kawasan vulkanik seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid, dan Harrah Khaybar.
Bentuk pegunungan vulkanik di Arab Saudi berbeda dengan gunung berapi kerucut seperti di Indonesia, karena lebih melebar dengan puncak rendah.
Batuan basalt umumnya mengandung unsur besi dalam mineral tertentu. Kandungan tersebut diduga dapat menimbulkan anomali magnetik di beberapa titik, meski belum ada penelitian ilmiah yang benar-benar memastikan fenomena Jabal Magnet.
Selain itu, ada juga yang menyebut bahwa fenomena ini terkait dengan ilusi optik.
Dilansir dari Antara, ilusi optik berupa slope illusion muncul karena perbukitan di tepi jalan yang berupa batuan tersusun secara tidak beraturan dengan arah garis yang tidak selalu tegak lurus.
Di sisi lain horison pemandangan yang lebih luas terhalangi oleh kehadiran bukit-bukit tersebut.
Slope illusion tersebut hadir pada lokasi khusus yang disebut gravity hill atau bukit gravitasi. Hal itu merujuk pada lokasi yang secara khas memiliki tata letak lingkungan yang menghasilkan ilusi optik yang membuat jalan menurun tampak menanjak.
Faktor utama yang berkontribusi terhadap ilusi tersebut adalah cakrawala yang terhalang.
Tanpa adanya horizon yang menjadi acuan, maka mata sulit menilai kemiringan suatu permukaan karena tidak terlihat.
Hingga kini belum ada kesimpulan ilmiah resmi yang sepenuhnya menjelaskan fenomena Wadi Jinn atau Jabal Magnet.
Karena itu, kawasan ini tetap menjadi misteri alam yang menarik perhatian jemaah haji dan umrah.
Bagi banyak pengunjung, Jabal Magnet bukan sekadar lokasi wisata, tetapi pengalaman unik saat berada di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang