Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Situasi Global Menekan, Muhammadiyah Serukan Efisiensi dan Hidup Hemat

Kompas.com, 5 Mei 2026, 16:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil langkah strategis dengan menyerukan efisiensi dan penguatan budaya hidup hemat di seluruh lini organisasi.

Melalui Surat Edaran Nomor 5/EDR/I.0/B/2026, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia ini mengajak seluruh elemen persyarikatan untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya, baik dalam aktivitas kelembagaan maupun kehidupan sehari-hari.

Langkah ini bukan sekadar respons administratif, melainkan refleksi nilai keislaman yang menekankan keseimbangan antara pengelolaan duniawi dan tanggung jawab spiritual.

Baca juga: Pandangan Muhammadiyah tentang Nikah Siri, Sah Secara Agama tetapi...

Respons atas Tekanan Ekonomi Global dan Nasional

Ketua Umum Haedar Nashir bersama Sekretaris Muhammad Sayuti menandatangani edaran tersebut sebagai bentuk keprihatinan sekaligus kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Dalam kutipan edaran, ditegaskan secara tidak langsung bahwa situasi ekonomi saat ini menuntut kehati-hatian kolektif dalam pengelolaan anggaran. Setelah itu, penegasan tersebut diperkuat melalui kutipan langsung:

“Kami mengimbau kepada seluruh elemen persyarikatan untuk senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dan efisiensi dalam pengelolaan anggaran, melaksanakan kegiatan, dan menjalani kehidupan.” tulis edaran tersebut.

Seruan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam ranah dakwah, tetapi juga aktif merespons isu-isu strategis yang berdampak pada keberlanjutan organisasi dan kesejahteraan umat.

Baca juga: Muhammadiyah Tegaskan Idul Adha 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT

Delapan Langkah Strategis: Dari Anggaran hingga Gaya Hidup

Dalam edaran tersebut, Muhammadiyah merumuskan delapan langkah konkret yang menjadi pedoman bagi seluruh pimpinan di berbagai tingkatan.

1. Mengedepankan efisiensi, penggunaan anggaran belanja, dan menghindari pengeluaran yang tidak mendesak.

2. Memprioritaskan program dan kegiatan yang bersifat strategis dan berdampak langsung serta mengurangi kegiatan-kegiatan seremonial yang kurang diperlukan.

3. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara efektif dan bertanggung jawab.

4. Mengurangi acara-acara regional-nasional dan kunjungan-kunjungan langsung berbiaya tinggi yang dapat digantikan dengan rapat koordinasi atau kegiatan secara daring.

5. Membatasi frekuensi kunjungan ke luar negeri, khususnya untuk kegiatan yang tidak bersifat prioritas, serta tidak melibatkan pihak yang tidak memiliki kepentingan langsung, dengan memperhatikan prinsip efisiensi anggaran.

6. Penghematan air, listrik, dan energi di setiap kantor, gedung, dan ruangan. Sebagai alternatif, penghematan listrik dapat dimulai dengan menggunakan panel surya.

7. Menguatkan budaya hidup cukup, sehat, bersih, dan produktif.

8. Mempraktikkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) serta Risalah Islam Berkemajuan dalam seluruh aspek kegiatan.

Menariknya, Muhammadiyah juga mendorong transformasi cara kerja dengan mengurangi pertemuan tatap muka yang berbiaya tinggi. Kegiatan regional hingga nasional diimbau untuk dialihkan ke format daring jika memungkinkan.

Langkah ini selaras dengan tren global yang mengedepankan efisiensi melalui digitalisasi.

Pembatasan Kunjungan Kerja dan Perjalanan Luar Negeri

Salah satu poin penting dalam edaran tersebut adalah pembatasan kunjungan kerja, terutama yang bersifat non-prioritas.

Kunjungan luar negeri, misalnya, diminta untuk lebih selektif dan hanya dilakukan jika memiliki urgensi tinggi serta melibatkan pihak yang benar-benar berkepentingan.

Kebijakan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam tata kelola organisasi modern—dari mobilitas tinggi menuju efisiensi berbasis kebutuhan.

Baca juga: UEA Terapkan Belajar Online usai Serangan Rudal dan Drone dari Iran

Hemat Energi hingga Dorong Energi Terbarukan

Tidak berhenti pada aspek kegiatan, Muhammadiyah juga menyoroti pentingnya penghematan energi di lingkungan kantor dan fasilitas organisasi.

Penggunaan listrik dan air diminta untuk lebih terkendali, bahkan organisasi ini mulai mendorong pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya.

Langkah ini menunjukkan kesadaran Muhammadiyah terhadap isu keberlanjutan lingkungan, yang kini menjadi perhatian global.

Budaya Hidup Hemat dalam Perspektif Islam

Seruan efisiensi ini sejatinya memiliki akar kuat dalam ajaran Islam. Dalam berbagai literatur klasik, prinsip tidak berlebih-lebihan (israf) menjadi bagian penting dalam etika kehidupan Muslim.

Dalam buku Ekonomi Islam: Teori dan Praktik karya M. Umer Chapra dijelaskan bahwa Islam mendorong penggunaan sumber daya secara seimbang, tidak boros, namun juga tidak kikir.

Sementara itu, dalam perspektif organisasi, konsep efisiensi juga berkaitan erat dengan keberlanjutan.

Dalam buku Manajemen Organisasi Nirlaba karya Peter F. Drucker, disebutkan bahwa organisasi yang mampu bertahan adalah mereka yang dapat mengelola sumber daya secara efektif tanpa kehilangan orientasi nilai.

Dalam konteks Muhammadiyah, nilai tersebut terangkum dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dan Risalah Islam Berkemajuan yang turut ditekankan dalam edaran tersebut.

Baca juga: Muhammadiyah Jadi Ormas Islam dengan 23 Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia, Ini Faktanya

Transformasi Organisasi: Dari Seremonial ke Substansial

Seruan untuk mengurangi kegiatan seremonial menjadi sinyal penting adanya pergeseran fokus dalam tubuh Muhammadiyah.

Organisasi ini ingin memastikan bahwa setiap kegiatan benar-benar memberikan dampak nyata, bukan sekadar formalitas.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Islam Berkemajuan” yang selama ini menjadi identitas Muhammadiyah, yaitu Islam yang adaptif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Menjaga Kemandirian dan Stabilitas Organisasi

Melalui edaran ini, Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang penghematan, tetapi juga tentang kemandirian.

Efisiensi anggaran dan gaya hidup hemat diyakini dapat memperkuat daya tahan organisasi di tengah ketidakpastian global.

Sebagaimana ditegaskan dalam bagian akhir edaran, langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penghematan sekaligus menjaga stabilitas dan keberlangsungan persyarikatan.

Lebih dari Sekadar Hemat

Seruan hidup hemat dari Muhammadiyah bukan sekadar imbauan teknis, melainkan bagian dari gerakan moral yang lebih luas.

Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan zaman, efisiensi menjadi bentuk ikhtiar kolektif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, langkah ini menegaskan bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada besarnya sumber daya, tetapi pada bagaimana sumber daya tersebut dikelola dengan bijak, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU Undang Prabowo Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan, Persiapan Terus Dimatangkan
PBNU Undang Prabowo Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan, Persiapan Terus Dimatangkan
Aktual
Gubenur Jabar Dedi Mulyadi Prioritaskan Pembangunan Masjid Kecil
Gubenur Jabar Dedi Mulyadi Prioritaskan Pembangunan Masjid Kecil
Aktual
Kemenag Cairkan Insentif Guru PAI Tahap II Total Rp 6,65 Miliar
Kemenag Cairkan Insentif Guru PAI Tahap II Total Rp 6,65 Miliar
Aktual
Bina Insan Mulia Pecahkan Rekor Nasional, 32 Santri Raih Beasiswa Kerajaan Maroko
Bina Insan Mulia Pecahkan Rekor Nasional, 32 Santri Raih Beasiswa Kerajaan Maroko
Aktual
Kemenag Bahas Asnaf Riqab, Korban Perdagangan Orang Bisa Terima Zakat?
Kemenag Bahas Asnaf Riqab, Korban Perdagangan Orang Bisa Terima Zakat?
Aktual
121.301 Jemaah Haji Pulang ke Indonesia, Kemenhaj Ajak Rawat Kemabruran
121.301 Jemaah Haji Pulang ke Indonesia, Kemenhaj Ajak Rawat Kemabruran
Aktual
Alissa Wahid Ungkap Langkah PBNU untuk Cegah Kekerasan di Pesantren Melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman
Alissa Wahid Ungkap Langkah PBNU untuk Cegah Kekerasan di Pesantren Melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman
Aktual
Jejak Turki Utsmani dan Kereta Hijaz di Balik Dinding Masjid Al-Anbariyah di Madinah
Jejak Turki Utsmani dan Kereta Hijaz di Balik Dinding Masjid Al-Anbariyah di Madinah
Aktual
4 Perkara yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban di Hari Kiamat, Ketahui untuk Siapkan Bekal di Akhirat
4 Perkara yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban di Hari Kiamat, Ketahui untuk Siapkan Bekal di Akhirat
Aktual
AHY: Program Renovasi 1.397 Madrasah Jadi Prioritas Presiden Prabowo
AHY: Program Renovasi 1.397 Madrasah Jadi Prioritas Presiden Prabowo
Aktual
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Puasa Muharram, Ini Hukum, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Sholat Tapi Pikiran Melayang, Diterima atau Tidak? Ini Jawaban Rasulullah tentang Sikap Khusyuk
Aktual
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Ketika Nabi Muhammad SAW Mengagumi Iman Umat Muslim yang Hidup Setelah Masanya
Aktual
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
BPJPH Percepat Pengembangan Ekosistem Halal Nasional Lewat Kolaborasi dengan Kampus dan Industri
Aktual
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com