Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir

Kompas.com, 8 Mei 2026, 13:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara seluruh ibadah dalam Islam, haji memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Ibadah ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang penuh pengorbanan, kesabaran, dan penghambaan kepada Allah SWT.

Tak heran jika banyak umat Islam memandang haji sebagai titik balik kehidupan. Ada harapan besar yang tersimpan di balik setiap langkah menuju Ka'bah, yakni kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Keutamaan inilah yang sering disebut dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW tentang haji mabrur, yaitu haji yang diterima Allah SWT karena dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, serta dijaga dari perbuatan dosa dan ucapan kotor.

Lalu, apa sebenarnya makna haji mabrur? Mengapa ibadah ini disebut dapat menghapus dosa seperti bayi yang baru lahir? Berikut penjelasan lengkapnya.

Haji Mabrur dan Janji Penghapusan Dosa

Dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad bersabda:

“Barang siapa melaksanakan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.”

Hadis ini menjadi salah satu dalil paling populer tentang besarnya keutamaan haji mabrur.
Dalam buku Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa bayi yang baru lahir tentu belum memiliki dosa.

Oleh karena itu, gambaran “kembali seperti bayi” menunjukkan betapa besar ampunan Allah SWT kepada orang yang menunaikan haji dengan benar.

Makna tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menjadi motivasi spiritual bagi jutaan Muslim untuk memperbaiki diri melalui ibadah haji.

Baca juga: Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah

Apa yang Dimaksud Haji Mabrur?

Meski istilah haji mabrur sering terdengar, tidak semua orang memahami maknanya secara mendalam.

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa, dilakukan dengan niat ikhlas, serta diiringi akhlak yang baik.

Sebagian ulama juga menyebut tanda haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku seseorang setelah pulang dari Tanah Suci.

Ia menjadi lebih taat, lebih lembut kepada sesama, dan lebih menjaga hubungannya dengan Allah SWT.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq diterangkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari sempurnanya ritual, tetapi juga dari dampak spiritual yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, haji bukan sekadar perjalanan ibadah beberapa hari, melainkan momentum perubahan hidup seorang Muslim.

Haji Mabrur Balasannya Surga

Selain pengampunan dosa, keutamaan lain dari haji mabrur adalah jaminan balasan surga.
Rasulullah SAW bersabda:

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini termasuk salah satu hadis paling sering dikutip saat musim haji karena menggambarkan betapa besar kemuliaan ibadah tersebut.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjelaskan bahwa balasan surga menunjukkan tingginya nilai haji mabrur di sisi Allah SWT.

Tidak banyak ibadah yang disebut secara langsung memiliki balasan surga dalam hadis dengan redaksi sejelas ini.

Karena itu, para ulama memandang haji mabrur sebagai salah satu amalan terbesar dalam Islam setelah iman dan jihad di jalan Allah.

Baca juga: Doa dan Cara Meraih Haji Mabrur yang diharapkan Seluruh Jemaah Serta Tanda-Tandanya Setelah Kepulangan

Amal Paling Utama Setelah Iman dan Jihad

Keutamaan haji juga tergambar dalam hadis lain ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal paling utama.

Beliau menjawab:

“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Kemudian ketika ditanya lagi, beliau menjawab:

“Jihad di jalan Allah.”

Lalu setelah itu Rasulullah SAW mengatakan:

“Haji mabrur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa haji memiliki posisi yang sangat tinggi dalam Islam.
Dalam buku Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa ibadah haji menghimpun banyak bentuk ibadah sekaligus, mulai dari pengorbanan harta, kesabaran fisik, zikir, doa, hingga pengendalian diri.

Oleh karena itu, haji disebut sebagai ibadah yang sarat nilai spiritual dan penghambaan total kepada Allah SWT.

Mengapa Haji Bisa Menghapus Dosa?

Banyak ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam haji terjadi karena besarnya pengorbanan dan ketundukan seorang hamba selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Seorang jamaah meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT.

Di Makkah dan Madinah, jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan status sosial, jabatan, ataupun kekayaan.

Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai simbol kesetaraan di hadapan Allah SWT.

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa haji mengajarkan manusia tentang kerendahan hati, persaudaraan, dan kepasrahan total kepada Allah. Karena itulah, haji menjadi momentum penyucian jiwa yang sangat kuat.

Menjaga Lisan dan Perbuatan Selama Haji

Meski memiliki keutamaan besar, kemabruran haji tidak diraih secara otomatis.
Al Quran secara tegas mengingatkan:

“Barang siapa menetapkan niat berhaji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama haji.” (QS Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menunjukkan pentingnya menjaga ucapan dan perilaku selama menjalankan ibadah haji.

Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Muhammad Ajib dijelaskan bahwa banyak jamaah terlalu fokus pada ritual teknis, tetapi lupa menjaga akhlak selama di Tanah Suci.

Padahal, salah satu inti kemabruran haji justru terletak pada kemampuan mengendalikan diri di tengah situasi yang padat dan melelahkan.

Baca juga: Haji Mabrur Tak Cukup Ihram, Ini Kunci Niat, Doa, dan Tanda-Tandanya

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Para ulama menyebut ada beberapa tanda seseorang memperoleh haji mabrur, di antaranya:

  • Lebih rajin beribadah setelah pulang haji
  • Menjaga lisan dan akhlak
  • Semakin peduli kepada sesama
  • Menjauhi maksiat
  • Memiliki hati yang lebih lembut dan tawaduk

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang diterima Allah SWT akan meninggalkan pengaruh positif dalam kehidupan pelakunya.

Oleh karena itu, perubahan diri setelah berhaji menjadi salah satu indikator penting kemabruran haji seseorang.

Haji Bukan Sekadar Gelar

Di banyak masyarakat Muslim, gelar “Haji” sering dianggap sebagai simbol kehormatan sosial. Namun para ulama mengingatkan bahwa inti haji bukanlah gelar, melainkan perubahan hati dan amal.

Haji mabrur bukan diukur dari seberapa sering seseorang pergi ke Tanah Suci, melainkan sejauh mana ibadah itu membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT.

Karena itu, setiap Muslim yang menunaikan haji sejatinya sedang menjalani perjalanan besar untuk memperbaiki diri, membersihkan dosa, dan memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Momentum Kembali ke Fitrah

Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, haji bukan hanya impian spiritual, tetapi juga harapan untuk kembali kepada fitrah.

Melalui ibadah ini, seorang Muslim belajar tentang kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT.

Tak heran jika Rasulullah SAW menggambarkan haji mabrur sebagai ibadah yang mampu mengembalikan manusia dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Sebuah gambaran yang menunjukkan betapa luas rahmat dan ampunan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memenuhi panggilan ke Baitullah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Kemenhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji Bangkalan Terkait Batasan Maksimal Bawa Rokok ke Tanah Suci
Aktual
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
8 Calon Jemaah Haji Cadangan Asal Sumenep Berangkat Lebih Dulu dari Jemaah Reguler
Aktual
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Bukan Perjalanan Spiritual Biasa, Teuku Zulkhairi: Ibadah Haji Sebaiknya Jadi Impian Sejak Usia Dini
Aktual
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama
Aktual
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
PPIH Makassar Ingatkan Jemaah Haji Jangan Nekat Bawa Pulang Air Zamzam di Koper
Aktual
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Aktual
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Aktual
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Aktual
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Aktual
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Aktual
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Aktual
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Aktual
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Aktual
Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir
Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com