Editor
KOMPAS.com - Fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) disebut menjadi penentu utama sukses tidaknya penyelenggaraan ibadah haji Indonesia 2026.
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf meminta seluruh petugas haji tetap menjaga kualitas pelayanan menjelang puncak ibadah haji.
Menurutnya, tantangan terbesar operasional haji akan terjadi saat jutaan jemaah bergerak bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Baca juga: Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan
Karena itu, kesiapan petugas, layanan transportasi, konsumsi, hingga pengaturan mobilitas jemaah menjadi faktor yang sangat krusial.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf setibanya di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026
Menurut pria yang akrab disapa Gus Irfan itu, fase Armuzna menjadi titik paling menentukan dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
“Puncak dari haji adalah Armuzna. Jika Armuzna berjalan sesuai harapan, artinya kesuksesan sudah 80 persen,” kata Gus Irfan.
Pernyataan itu disampaikan karena pada fase Armuzna jutaan jemaah haji dari berbagai negara akan bergerak hampir bersamaan menuju Arafah untuk menjalani wukuf, kemudian bermalam di Muzdalifah dan melontar jumrah di Mina.
Situasi tersebut membuat pelayanan, transportasi, konsumsi, hingga pengaturan pergerakan jemaah menjadi sangat penting.
Di tengah tantangan besar operasional haji, Gus Irfan mengapresiasi kerja para petugas haji Indonesia yang dinilai mampu menjaga ritme pelayanan tetap optimal hingga hari ke-29 operasional.
“Petugas haji luar biasa. Mereka berjibaku di lapangan dan tone pelayanan sejauh ini sangat positif,” ujarnya.
Saat ini, petugas haji Indonesia tersebar di sejumlah daerah kerja mulai dari bandara, Makkah, Madinah, hingga berbagai sektor pelayanan jemaah.
Mereka menjadi garda terdepan dalam memastikan kebutuhan jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Sementara itu, persiapan Armuzna terus dilakukan setiap hari melalui rapat koordinasi rutin antara pemerintah dan petugas haji.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kendala teknis yang berpotensi muncul saat puncak haji berlangsung.
Kepala Satuan Operasi (Kasatops) Armuzna, Surnadi, mengatakan pihaknya telah beberapa kali melakukan peninjauan langsung ke kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Di Arafah misalnya, kami memastikan tenda dan fasilitas di dalamnya siap agar jamaah bisa beribadah dengan nyaman,” ujarnya.
Menurut Surnadi, salah satu fokus utama petugas adalah memastikan seluruh jemaah mendapatkan tempat di tenda selama pelaksanaan wukuf di Arafah.
Untuk mempermudah penempatan, setiap tenda nantinya akan dilengkapi data kapasitas dan informasi kloter.
“Jangan sampai ada jamaah yang tidak kebagian tenda,” tegasnya.
Selain kesiapan tenda, tantangan lain yang menjadi perhatian ialah pengaturan pergerakan ratusan ribu jemaah Indonesia menuju Arafah pada 8 Dzulhijah.
Seluruh mobilitas jemaah harus diatur secara terukur agar tidak terjadi kepadatan yang berisiko mengganggu keselamatan.
“Petugas harus bisa memanage gelombang masuknya jamaah,” kata Surnadi.
Menjelang fase puncak haji, seluruh petugas kini berada dalam kondisi siaga penuh untuk memastikan pelayanan kepada jemaah tetap berjalan optimal.
Pemerintah berharap kualitas pelayanan yang sudah berjalan baik sejak awal kedatangan jemaah dapat terus dipertahankan hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai dilaksanakan.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Armuzna Penentu Sukses Haji Indonesia 2026, Menteri Haji Minta Petugas Jaga Layanan Prima".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang