KOMPAS.com - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Medan mengimbau jamaah haji asal Sumatera Utara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gejala penyakit setelah kembali dari Tanah Suci.
Imbauan tersebut disampaikan seiring berlangsungnya fase pemulangan jamaah haji melalui Debarkasi Medan yang dijadwalkan berlangsung hingga 21 Juni 2026.
Petugas Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan, dr. Zulfan Anshori, mengatakan bahwa para jamaah perlu memantau kondisi kesehatannya secara mandiri setidaknya selama 21 hari setelah tiba di Indonesia.
Menurutnya, terdapat sejumlah gejala yang harus segera diwaspadai karena dapat menjadi tanda gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis.
"Kami imbau bapak ibu mewaspadai gejala penyakit setelah tiba di tanah air," kata Zulfan saat penyambutan jamaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 06 Debarkasi Medan di Asrama Haji Medan, Senin (8/6/2026), dilansir dari Antara.
Baca juga: Doa Pulang Haji yang Dianjurkan Rasulullah, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Ia menjelaskan, ada tujuh gejala utama yang perlu mendapat perhatian dari para jamaah haji. Gejala tersebut meliputi demam, batuk, pilek, sesak napas, nyeri tenggorokan, mual dan muntah, serta diare.
Menurut Zulfan, apabila jamaah mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka diminta untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan.
Langkah cepat dinilai penting untuk mencegah kondisi kesehatan memburuk sekaligus memudahkan tenaga medis memberikan penanganan yang sesuai.
PPIH Debarkasi Medan meminta setiap jamaah segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat apabila merasakan gejala yang mengarah pada gangguan kesehatan tersebut.
Selain itu, jamaah juga diminta membawa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) ketika memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan.
Kartu tersebut menjadi salah satu dokumen penting yang dapat membantu petugas kesehatan mengetahui riwayat perjalanan dan kondisi kesehatan jamaah setelah menjalankan ibadah haji.
"Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji atau K3JH harus dibawa saat memeriksakan diri agar tenaga kesehatan dapat melakukan penanganan lebih cepat dan tepat," ujar Zulfan.
Baca juga: Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Ia menambahkan bahwa pemantauan kesehatan secara mandiri perlu dilakukan selama 21 hari sejak kedatangan di Indonesia.
Periode tersebut dianggap penting untuk mendeteksi kemungkinan munculnya gejala penyakit yang baru berkembang setelah jamaah menyelesaikan perjalanan panjang dari Arab Saudi.
Dalam kesempatan itu, Zulfan juga mengingatkan jamaah untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat setelah tiba di rumah.
Ia menyarankan agar jamaah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak istirahat, dan menjaga kebersihan diri guna mempertahankan kondisi tubuh tetap prima.
"Jamaah haji diminta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta beristirahat yang cukup," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau jamaah untuk menggunakan masker apabila mengalami gejala gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan.
Penggunaan masker dinilai dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit kepada anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
Selain memantau kesehatan pribadi, jamaah juga diminta terbuka kepada petugas kesehatan mengenai riwayat perjalanan hajinya.
Informasi tersebut diperlukan agar tenaga medis dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan yang lebih optimal sesuai kondisi pasien.
"Selain itu, jamaah haji diimbau menyampaikan riwayat perjalanan hajinya kepada petugas kesehatan agar memperoleh pelayanan yang optimal," jelas Zulfan.
Baca juga: Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
Berdasarkan data PPIH Debarkasi Medan, sebanyak 5.967 jamaah haji asal Sumatera Utara menjalani proses pemulangan melalui Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang. Fase pemulangan tersebut berlangsung mulai 2 Juni hingga 21 Juni 2026.
Sementara itu, jamaah yang tergabung dalam Kloter 06 Debarkasi Medan berjumlah 358 orang.
Mereka berasal dari sejumlah daerah di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Mandailing Natal sebanyak 339 orang, Kabupaten Toba tujuh orang, Kabupaten Nias Selatan empat orang, Kabupaten Nias Utara satu orang, Kota Medan satu orang, serta enam orang petugas kloter.
Dalam kloter tersebut, tercatat satu jamaah asal Kabupaten Mandailing Natal meninggal dunia saat berada di Arab Saudi. Jamaah bernama Isron bin Baitul Nasution dilaporkan wafat akibat sakit pada 27 Mei 2026.
PPIH Debarkasi Medan berharap seluruh jamaah yang telah kembali ke Indonesia dapat menjaga kesehatannya dengan baik dan segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami keluhan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kondisi kesehatan jamaah tetap terpantau setelah menjalani rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang