KOMPAS.com – Ketika mendengar kata rezeki, banyak orang langsung membayangkan uang, pekerjaan, usaha yang lancar, atau kekayaan yang melimpah. Padahal dalam pandangan Islam, makna rezeki jauh lebih luas daripada sekadar materi.
Al-Qur'an bahkan menggambarkan adanya rezeki yang tidak akan pernah habis, tidak berkurang, dan tidak mengenal batas waktu. Gambaran tersebut terdapat dalam Surat Sad ayat 54 yang berbunyi:
اِنَّ هٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهٗ مِنْ نَّفَادٍۚ
Inna hadza larizquna ma lahu min nafad.
Artinya: "Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya." (QS Sad: 54)
Ayat yang singkat ini menyimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan Allah, hakikat kehidupan dunia, dan balasan yang disiapkan bagi orang-orang yang beriman.
Lalu, apa sebenarnya makna rezeki yang tidak akan habis tersebut?
Dalam kehidupan sehari-hari, rezeki sering diidentikkan dengan uang dan kekayaan. Namun para ulama menjelaskan bahwa konsep rezeki dalam Islam mencakup segala bentuk nikmat yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.
Kesehatan, umur panjang, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, ketenangan hati, hingga kesempatan beribadah juga termasuk rezeki.
Dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dijelaskan bahwa nikmat terbesar yang diberikan Allah bukanlah harta benda, melainkan hidayah dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Karena itu, seseorang bisa saja memiliki kekayaan melimpah tetapi merasa gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun merasakan ketenangan yang luar biasa.
Dari sudut pandang Islam, keduanya menunjukkan bahwa ukuran rezeki tidak hanya diukur dari jumlah harta yang dimiliki.
Baca juga: Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat
Mayoritas mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan kenikmatan yang Allah siapkan bagi penghuni surga.
Dalam rangkaian ayat sebelumnya, Allah menjelaskan keadaan orang-orang bertakwa yang memperoleh balasan berupa taman-taman surga, buah-buahan yang melimpah, pasangan yang menyenangkan, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Setelah menyebut berbagai kenikmatan tersebut, Allah menegaskan:
"Sesungguhnya ini adalah rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya."
Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI, rezeki yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh kenikmatan surga yang diberikan kepada orang-orang beriman setelah mereka melewati kehidupan dunia, kebangkitan, dan perhitungan amal pada hari kiamat.
Berbeda dengan kenikmatan dunia yang selalu memiliki batas, kenikmatan surga bersifat kekal dan tidak akan pernah berakhir.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat.
Menurut Buya Hamka, hubungan antara manusia dan Allah bukanlah hubungan yang sia-sia. Setiap amal baik yang dilakukan seseorang akan mendapatkan balasan yang sempurna dari Allah.
Balasan tersebut bukan hanya berupa kenikmatan sesaat, melainkan kenikmatan yang terus berlangsung tanpa mengenal habis.
Buya Hamka juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah persinggahan sementara. Apa yang dianggap besar di dunia pada akhirnya akan lenyap.
Jabatan akan berakhir. Kekayaan bisa berkurang. Popularitas dapat hilang. Bahkan usia manusia pun memiliki batas.
Karena itu, Al-Qur'an mengarahkan perhatian manusia kepada kehidupan yang lebih panjang dan lebih abadi, yakni kehidupan akhirat.
Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Di dunia, manusia hidup dalam keterbatasan. Makanan yang tersedia akan habis jika dimakan. Air yang diminum akan berkurang.
Rumah dan kendaraan bisa rusak. Bahkan sumber daya alam yang melimpah sekalipun memiliki batas. Namun kondisi tersebut tidak berlaku di surga.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa seluruh kenikmatan surga berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Kaya dan tidak terbatas.
Karena sumbernya berasal dari Allah, maka nikmat tersebut tidak akan pernah mengalami kekurangan.
Inilah sebabnya Allah menggunakan ungkapan "ma lahu min nafad" yang berarti tidak ada habisnya, tidak ada putusnya, dan tidak ada akhirnya.
Pesan ini memberikan harapan besar bagi orang beriman bahwa setiap kesabaran dan ketaatan yang dilakukan di dunia tidak akan sia-sia.
Salah satu pokok ajaran Islam adalah keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian.
Dalam banyak ayat Al-Qur'an, Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah fase sementara sebelum manusia memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, karya Abu Hamid Al-Ghazali disebutkan bahwa dunia ibarat ladang tempat manusia menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya.
Pandangan ini sejalan dengan Surat Sad ayat 54.
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dikumpulkan selama hidup, melainkan pada balasan yang diperoleh setelah seseorang kembali kepada Allah.
Baca juga: Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Ada sejumlah hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini.
Ayat ini menegaskan bahwa sumber segala nikmat adalah Allah SWT. Manusia hanya berusaha, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya.
Segala sesuatu yang ada di dunia memiliki batas waktu. Karena itu, manusia tidak seharusnya menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.
Berbeda dengan dunia, kehidupan akhirat berlangsung tanpa akhir. Kenikmatan yang Allah janjikan kepada orang-orang bertakwa juga tidak akan pernah habis.
Setiap kebaikan yang dilakukan akan memperoleh balasan. Meskipun terkadang hasilnya tidak langsung terlihat di dunia, Allah telah menyiapkan ganjaran yang jauh lebih besar di akhirat.
Para ulama menjelaskan bahwa puncak seluruh kenikmatan surga bukanlah makanan, minuman, atau istana yang megah, melainkan ridha Allah kepada hamba-Nya.
Di era modern, manusia sering terjebak dalam perlombaan mengejar materi. Kesuksesan kerap diukur dari jumlah tabungan, aset, atau jabatan yang dimiliki.
Surat Sad ayat 54 mengajak manusia melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Ayat ini mengingatkan bahwa ada rezeki yang jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia, yaitu nikmat yang berasal dari Allah dan tidak akan pernah berakhir.
Ketika dunia menawarkan kebahagiaan yang sementara, Al-Qur'an justru mengarahkan manusia kepada kebahagiaan yang kekal.
Karena itulah, Surat Sad ayat 54 bukan hanya berbicara tentang rezeki, tetapi juga tentang harapan, keimanan, dan janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah di jalan kebaikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang