Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik

Kompas.com, 12 Juni 2026, 10:10 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tahun Baru Islam atau 1 Muharram bukan hanya menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah.

Di Indonesia, momen ini juga memiliki makna sosial, budaya, dan keagamaan yang begitu kuat.

Di berbagai daerah, masyarakat menyambut datangnya bulan Muharram dengan beragam tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memaknai Tahun Baru Islam. Ada yang merayakannya melalui pawai obor dan pengajian, ada pula yang menggelar kirab budaya, sedekah bersama, hingga festival tradisional yang menjadi identitas daerah setempat.

Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bagaimana Islam berkembang di Nusantara melalui proses akulturasi yang harmonis dengan budaya lokal.

Nilai-nilai keislaman berpadu dengan kearifan masyarakat sehingga melahirkan beragam bentuk perayaan yang unik tanpa meninggalkan esensi spiritualnya.

Lantas, tradisi apa saja yang masih lestari dan sering dilakukan masyarakat Indonesia saat memperingati Tahun Baru Islam?

Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia dan Akar Budayanya

Dalam buku Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal karya Prof. Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa perkembangan Islam di Indonesia berlangsung melalui pendekatan budaya yang damai.

Para ulama dan penyebar Islam tidak menghapus tradisi masyarakat secara keseluruhan, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Karena itu, berbagai peringatan hari besar Islam di Indonesia sering memiliki warna budaya lokal yang khas.

Tahun Baru Islam menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan.

Berikut sejumlah tradisi yang masih banyak dijumpai hingga saat ini.

Baca juga: Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya

1. Pawai Obor, Simbol Cahaya dan Semangat Hijrah

Jika berbicara tentang perayaan Tahun Baru Islam di Indonesia, pawai obor mungkin menjadi tradisi yang paling dikenal masyarakat.

Menjelang malam 1 Muharram, warga dari berbagai kalangan biasanya berkumpul sambil membawa obor yang terbuat dari bambu.

Mereka berjalan mengelilingi kampung, desa, atau jalan-jalan utama sambil melantunkan salawat, takbir, dan doa.

Tradisi ini dapat ditemukan di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Bagi masyarakat, cahaya obor tidak sekadar penerangan di malam hari. Obor melambangkan cahaya iman yang menerangi perjalanan hidup seorang Muslim.

Karena itu, pawai obor sering dimaknai sebagai simbol semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Selain menjadi kegiatan religius, tradisi ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga karena melibatkan berbagai lapisan masyarakat secara bersama-sama.

2. Pengajian dan Doa Bersama Menyambut Tahun Baru Hijriah

Tradisi yang hampir selalu hadir di berbagai daerah adalah pengajian dan doa bersama.

Masjid, mushala, majelis taklim, pondok pesantren, hingga lembaga pendidikan Islam biasanya mengadakan kegiatan keagamaan pada malam pergantian tahun Hijriah.

Rangkaian acaranya beragam, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur'an, zikir, tausiyah, hingga doa akhir tahun dan awal tahun.

Dalam buku Fiqih Tradisi karya KH. Ali Mustafa Yaqub dijelaskan bahwa momentum pergantian tahun Hijriah dapat menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri terhadap perjalanan kehidupan selama setahun terakhir.

Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan malam 1 Muharram untuk memperbanyak doa dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi

3. Kirab Malam 1 Suro yang Sarat Filosofi

Di Pulau Jawa, Tahun Baru Islam sering bertepatan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa.

Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah kirab budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun lingkungan keraton.

Kirab ini biasanya melibatkan peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa sambil berjalan kaki dalam suasana yang khidmat.

Di beberapa tempat, peserta kirab bahkan melaksanakan ritual berjalan tanpa berbicara sebagai simbol perenungan diri.

Tradisi ini masih dapat disaksikan di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat maupun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga momentum refleksi, pengendalian diri, dan peningkatan spiritualitas.

4. Bubur Suro, Tradisi Berbagi yang Sarat Makna

Di sejumlah daerah Jawa, Madura, dan Sumatra, masyarakat memiliki tradisi memasak Bubur Suro saat memasuki bulan Muharram.

Bubur ini umumnya dibuat dari beras, santan, kacang-kacangan, rempah-rempah, dan berbagai bahan pelengkap lainnya.

Setelah dimasak, bubur dibagikan kepada tetangga, keluarga, atau masyarakat sekitar.

Dalam kajian antropologi budaya Nusantara, tradisi makanan bersama seperti Bubur Suro mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang kuat.

Selain itu, pembagian makanan juga menjadi bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Karena itulah Bubur Suro sering dianggap sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

Baca juga: Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama

5. Festival Tabuik di Pariaman

Salah satu tradisi Muharram yang paling dikenal di Sumatra Barat adalah Tabuik.

Tradisi ini berkembang di wilayah Pariaman dan telah berlangsung selama ratusan tahun.

Tabuik berupa bangunan replika berukuran besar yang diarak oleh masyarakat dalam sebuah prosesi budaya yang meriah. Pada puncak acara, tabuik biasanya dilarung ke laut sebagai bagian dari rangkaian tradisi.

Secara historis, tradisi ini memiliki hubungan dengan peringatan tragedi Karbala yang terjadi pada 10 Muharram.

Seiring perkembangan zaman, Tabuik tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya masyarakat setempat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.

6. Santunan Anak Yatim dan Tradisi Bersedekah

Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena itu, banyak masyarakat menjadikan bulan ini sebagai momentum meningkatkan amal kebajikan.

Salah satu tradisi yang paling banyak dilakukan adalah memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh masjid, lembaga sosial, organisasi keagamaan, maupun masyarakat secara mandiri.

Dalam buku Keutamaan Sedekah dalam Islam karya Yusuf Mansur dijelaskan bahwa berbagi kepada sesama merupakan salah satu amalan yang dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendatangkan keberkahan.

Karena itu, tradisi santunan anak yatim hampir selalu hadir dalam berbagai peringatan Tahun Baru Islam di Indonesia.

7. Ngadulang, Tradisi Bedug Khas Masyarakat Sunda

Masyarakat Sunda memiliki tradisi unik yang dikenal dengan nama Ngadulang.

Tradisi ini masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Barat, khususnya di kawasan Sukabumi dan sekitarnya.

Ngadulang identik dengan kegiatan menabuh bedug secara bersama-sama sebagai bentuk syukur atas datangnya Tahun Baru Islam.

Masyarakat biasanya berkumpul di masjid atau lapangan terbuka untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan dan budaya.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana bedug, yang sejak lama menjadi bagian dari syiar Islam di Nusantara, tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Meski bentuk perayaannya berbeda-beda, seluruh tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia memiliki tujuan yang serupa, yaitu mengingatkan umat Islam tentang pentingnya hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam perspektif sejarah Islam, hijrah bukan sekadar perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Hijrah juga mengandung makna perubahan diri, perbaikan akhlak, dan peningkatan kualitas keimanan.

Karena itu, tradisi-tradisi yang berkembang di berbagai daerah pada dasarnya menjadi sarana untuk memperkuat nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.

Dari pawai obor yang menerangi malam Muharram, kirab budaya yang sarat filosofi, hingga santunan anak yatim yang mencerminkan kepedulian sosial, semuanya menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam di Indonesia bukan hanya tentang pergantian kalender. Ia adalah perayaan nilai, budaya, dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Doa dan Niat
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Aktual
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Aktual
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Doa dan Niat
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
Aktual
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
Aktual
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Aktual
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Aktual
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Aktual
Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam
Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam
Aktual
Kemenag Gelar Nikah Massal Sambut 1 Muharam 1448 H, Peserta Dapat Modal Usaha
Kemenag Gelar Nikah Massal Sambut 1 Muharam 1448 H, Peserta Dapat Modal Usaha
Aktual
Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata, Jamaah Haji-Umrah Bakal Diajak Jelajahi Destinasi Selain Makkah-Madinah
Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata, Jamaah Haji-Umrah Bakal Diajak Jelajahi Destinasi Selain Makkah-Madinah
Aktual
Doa Memohon Keselamatan dan Perlindungan agar Tetap Istiqamah di Jalan Kebenaran
Doa Memohon Keselamatan dan Perlindungan agar Tetap Istiqamah di Jalan Kebenaran
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Manfaat Melakukan Introspeksi Diri di Akhir Tahun
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Manfaat Melakukan Introspeksi Diri di Akhir Tahun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com