Editor
KOMPAS.com - Potensi ekonomi haji dan umrah di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp 80 triliun setiap tahun.
Melihat besarnya potensi tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji agar manfaat penyelenggaraan ibadah tidak hanya dirasakan jamaah, tetapi juga memberikan dampak bagi perekonomian nasional.
Penguatan dilakukan melalui berbagai program, mulai dari peningkatan penggunaan produk dalam negeri, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan investasi di sektor pendukung haji dan umrah.
Baca juga: Kemenhaj: Kepatuhan PPIHU terhadap Regulasi Jadi Kunci Perlindungan Jamaah Haji dan Umrah
Pemerintah juga mendorong digitalisasi ekosistem ekonomi haji untuk memperluas peluang pelaku usaha nasional dalam rantai nilai penyelenggaraan haji dan umrah.
Kemenhaj melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) terus memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji guna mengoptimalkan potensi ekonomi haji dan umrah yang diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun.
Baca juga: Wamen Ultimatum ASN Kemenhaj: Jangan jadikan Jemaah Haji dan Umrah Komoditas Ekonomi
Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji bertujuan memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri," kata Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut Jaenal, pemerintah terus memperkuat berbagai program strategis agar sektor haji dan umrah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan ekosistem ekonomi haji dilakukan melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan rantai pasok, peningkatan penggunaan produk lokal, hingga pengembangan investasi pada sektor pendukung penyelenggaraan ibadah haji.
Salah satu upaya yang dijalankan adalah meningkatkan penetrasi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji dan umrah.
Hingga saat ini, pemerintah telah mendorong ekspor sebanyak 28 jenis bumbu Nusantara dengan total volume lebih dari 300 ton.
Selain itu, pemerintah juga menyediakan sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji bagi jamaah haji.
Ditjen PE2HU turut mengembangkan sektor transportasi dan pariwisata melalui optimalisasi penerbangan kosong (empty flight) guna mendukung kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Hingga saat ini, program tersebut telah melayani sebanyak 1.723 penumpang dan akan terus ditingkatkan pada periode berikutnya.
Jaenal menjelaskan penguatan ekosistem ekonomi haji juga dilakukan melalui pendekatan investasi dari hulu hingga hilir.
Upaya tersebut mencakup penguatan sistem pengadaan serta distribusi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji.
Menurut dia, langkah tersebut akan membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha nasional untuk berpartisipasi dalam rantai nilai penyelenggaraan haji dan umrah dengan potensi keterlibatan sekitar 30 hingga 40 persen.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mengembangkan Platform Ekonomi Haji sebagai sarana integrasi ekosistem ekonomi haji secara digital.
Platform tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pelaku usaha nasional dalam ekosistem ekonomi haji.
Jaenal menegaskan keberhasilan pengembangan ekosistem ekonomi haji tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja.
Menurut dia, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia.
“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang