Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal-usul Merpati di Makkah, Benarkah Tak Pernah Kotori Ka'bah?

Kompas.com, 23 April 2026, 14:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah lautan manusia yang thawaf mengelilingi Ka'bah, ada satu pemandangan yang kerap mencuri perhatian, kawanan merpati yang terbang rendah, berputar dengan tenang di pelataran Masjidil Haram.

Bagi sebagian jemaah, kehadiran burung-burung ini bukan sekadar pelengkap suasana. Ia terasa seperti bagian dari ketenangan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Namun di balik itu, merpati “Al-Haram” menyimpan kisah panjang dari sejarah, keunikan biologis, hingga nilai keagamaan yang membuatnya begitu dihormati.

Lantas, dari mana sebenarnya asal-usul merpati di Tanah Suci dan benarkah mereka tidak pernah mengotori area Ka'bah?

Jejak Lama: Merpati yang Hidup Seiring Sejarah Makkah

Keberadaan merpati di sekitar Makkah bukan fenomena baru. Dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi lisan, burung ini telah hidup berdampingan dengan manusia sejak ratusan tahun lalu.

Sejumlah literatur klasik menyebutkan bahwa kawasan haram (tanah suci) memang memiliki aturan khusus terhadap makhluk hidup di dalamnya.

Dalam kitab Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa wilayah haram memiliki kehormatan tersendiri, termasuk larangan memburu hewan atau merusak habitatnya.

Hal ini membuat merpati di sekitar Masjidil Haram tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang relatif aman dari gangguan manusia.

Tak hanya itu, sebagian riwayat populer di kalangan umat Islam mengaitkan merpati dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad, ketika burung disebut-sebut membantu menyamarkan keberadaan beliau di Gua Tsur.

Meski kisah ini lebih bersifat simbolik dalam tradisi populer, ia memperkuat posisi merpati sebagai makhluk yang dihormati.

Ciri Fisik yang Berbeda dari Merpati Biasa

Jika diperhatikan lebih dekat, merpati di Masjidil Haram memiliki karakteristik yang cukup khas.

Warna bulunya cenderung didominasi abu-abu kebiruan, dengan gradasi yang halus di bagian leher yang tampak berkilau saat terkena cahaya.

Garis hitam pada sayap dan ekor menjadi penanda visual yang membedakannya dari merpati kota pada umumnya. Posturnya juga terlihat lebih tegap, dengan gerakan yang cenderung tenang.

Namun yang paling mencolok bukan hanya fisiknya, melainkan perilakunya.

Baca juga: 3 Fakta Penting di Masjid Nabawi yang Wajib Diketahui Jemaah Haji, Nomor 1 Sering Disalahpahami!

Tidak Takut Manusia, Bahkan Mendekat

Berbeda dengan burung liar di banyak tempat, merpati di sekitar Ka'bah tampak sangat terbiasa dengan kehadiran manusia. Mereka tidak mudah terbang menjauh saat didekati, bahkan sering berjalan di antara jemaah.

Fenomena ini tidak terjadi secara instan. Lingkungan yang aman, larangan berburu, serta interaksi positif selama bertahun-tahun membentuk perilaku adaptif tersebut.

Dalam perspektif sosiologi lingkungan, hubungan semacam ini menunjukkan bagaimana makhluk hidup dapat membangun pola interaksi harmonis ketika tidak ada ancaman.

Benarkah Tidak Pernah Mengotori Ka'bah?

Salah satu klaim paling populer tentang merpati Al-Haram adalah bahwa mereka tidak mengotori area sekitar Ka'bah.

Secara ilmiah, klaim ini sulit dibuktikan secara absolut. Namun secara empiris, banyak jemaah dan petugas kebersihan Masjidil Haram mengakui bahwa sangat jarang ditemukan kotoran burung di area thawaf.

Ada beberapa kemungkinan penjelasan:

Pertama, pola terbang dan kebiasaan merpati yang cenderung menjauh saat hendak buang kotoran.

Kedua, sistem kebersihan Masjidil Haram yang sangat ketat dan terus menerus.

Ketiga, pengelolaan habitat burung yang terkontrol.

Terlepas dari penjelasan ilmiah, banyak jemaah memaknainya sebagai bagian dari keistimewaan Tanah Suci, sebuah simbol bahwa tempat tersebut dijaga dalam berbagai cara.

Baca juga: Apa Itu Mandi Ihram? Ini Hukum, Niat, dan Tata Caranya Sebelum Haji dan Umrah

Disediakan “Rumah” Khusus oleh Pemerintah

Pemerintah Arab Saudi tidak membiarkan populasi merpati berkembang tanpa pengelolaan. Di sekitar Masjidil Haram, dibangun menara dan tempat khusus sebagai habitat burung.

Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberadaan satwa dan kenyamanan jemaah.

Selain itu, terdapat pula sistem pemberian pakan yang teratur, bahkan dalam beberapa kasus didukung oleh dana wakaf.

Dalam buku Manajemen Haji Modern karya Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa pengelolaan lingkungan di kawasan haji mencakup berbagai aspek, termasuk fauna, demi menjaga kenyamanan jutaan jemaah.

Dilindungi oleh Nilai Agama

Dalam Islam, kawasan haram memiliki hukum khusus. Tidak hanya manusia yang dihormati, tetapi juga makhluk hidup di dalamnya.

Larangan membunuh hewan, merusak tanaman, hingga mengganggu ekosistem menjadi bagian dari aturan yang telah ada sejak masa awal Islam.

Dalam konteks ini, merpati bukan hanya burung biasa, melainkan bagian dari ekosistem suci yang harus dijaga.

Bahkan dalam beberapa literatur fikih disebutkan adanya konsekuensi (denda) bagi pelanggaran terhadap makhluk hidup di wilayah haram.

Baca juga: Saudi Tingkatkan Persiapan Haji 2026, Kerajaan Minta Seluruh Otoritas Beri Pelayanan Maksimal Kepada Jamaah

Simbol Kedamaian di Tengah Keramaian

Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, merpati Masjidil Haram menghadirkan kontras yang menenangkan.

Gerakannya yang lembut, suaranya yang pelan, dan keberaniannya mendekati manusia menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bagi banyak jemaah, melihat merpati beterbangan di sekitar Ka'bah bukan sekadar pengalaman visual, tetapi juga pengalaman batin.

Lebih dari Sekadar Burung

Pada akhirnya, merpati Al-Haram bukan hanya soal keunikan biologis atau cerita sejarah. Ia menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang utuh saat berada di Tanah Suci.

Dari jejak sejarah hingga perlindungan agama, dari perilaku unik hingga makna simbolik, semua berpadu membentuk satu kesan: bahwa bahkan makhluk kecil sekalipun memiliki tempat dalam harmoni besar di sekitar Ka'bah.

Dan mungkin, di situlah letak keistimewaannya, bukan karena ia berbeda, tetapi karena ia menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Aktual
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Aktual
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Aktual
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Aktual
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Aktual
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
Aktual
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Aktual
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Aktual
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
Aktual
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Aktual
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Aktual
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com