Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara

Kompas.com, 23 April 2026, 19:54 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) tampil sebagai fenomena unik di tengah dunia pesantren Indonesia. Mengusung manajemen modern ala korporasi namun tetap berakar kuat pada nilai kepesantrenan, lembaga ini berkembang pesat dan menghadirkan model pendidikan inklusif sekaligus berorientasi global.

Didirikan pada 2013, BIMA kini telah berkembang menjadi tiga kampus utama: Bina Insan Mulia I, II, dan III. Perkembangan ini dinilai sebagai bukti komitmen kuat pendirinya, Kiai Haji Imam Jazuli, dalam menghadirkan pendidikan berkualitas untuk semua lapisan masyarakat.

Lulusan Al-Azhar, Jejak Aktivis yang Visioner

Di balik perkembangan pesat BIMA, berdiri sosok Kiai Haji (KH) Imam Jazuli yang memiliki latar belakang akademik dan pengalaman organisasi yang kuat. Ia merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir.

DR KH Nanang Firdaus Masduki Lc MM, Pimpinan Syafana Islamic School BSD City, yang merupakan teman kampus KH Imam Jazuli di Universitas Al-Azhar, menceritakan kiprah dan keunikan KH Jazuli.

Baca juga: Dari Pesantren ke UI: Kisah Mahasiswa Semester 6 yang Mengajar di Kampus Top Indonesia

Nanang mengenang, sejak menjadi mahasiswa di Kairo, Imam Jazuli sudah menunjukkan karakter yang berbeda dibanding mahasiswa lain.

“Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur ‘berisik’. Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi,” kenang Nanang kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Meski aktif di berbagai organisasi mahasiswa, Imam Jazuli tetap mampu menjaga prestasi akademiknya hingga lulus tepat waktu—sesuatu yang dinilai langka.

“Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya,” tambahnya.

Karakter inilah yang kemudian terbawa dalam kepemimpinannya membangun pesantren.

KH Imam Jazuli (kiri), pendiri Pesantren Bina Insan Mulia, saat berbincang dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin).Dok Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli (kiri), pendiri Pesantren Bina Insan Mulia, saat berbincang dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Manajemen Modern, Jiwa Santri

Keunikan BIMA juga tercermin dari sistem pengelolaannya yang profesional. Nanang menilai pesantren ini sebagai perpaduan langka antara tradisi dan modernitas.

“Dia mengelola pesantren dengan standar korporasi namun tetap berjiwa santri. Dia tidak mengikuti arus, dia menciptakan arus,” ujarnya.

Menurutnya, Imam Jazuli adalah sosok dengan ide yang tak pernah habis.

“Di kepalanya itu kayak ada gudang gagasan. Stok idenya nggak pernah habis, bahkan sering bikin pusing timnya sendiri,” ungkapnya.

Terjangkau oleh Semua Lapisan Masyarakat

Direktur Pengembangan HCM (Human Capital Management) Bina Insan Mulia, Ubaydillah Anwar, mengungkapkan bahwa ekspansi tersebut bukan sekadar pertumbuhan fisik, melainkan bagian dari visi besar pendidikan inklusif.

Pesantren Bina Insan Mulia berkembang sangat cepat. Dari tahun 2013 sampai sekarang yang baru berusia sekitar 13 tahun, sudah menjadi tiga, yaitu Bina Insan Mulia I, Bina Insan Mulia II, dan Bina Insan Mulia III,” ujar Ubaydillah Anwar kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, pembagian ini didasarkan pada aksesibilitas sosial ekonomi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.

“Yang ekonomi menengah atas bisa memilih di Bina Insan Mulia II, yang ekonomi sedang bisa memilih di Bina Insan Mulia I, sedangkan yang di bawah bisa memilih di Bina Insan Mulia III,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan fasilitas tidak berpengaruh pada kualitas pembinaan santri.

“Meskipun berbeda-beda fasilitasnya, tetapi secara layanan pendidikan dan kehadiran kiai di hati santri melalui berbagai kegiatan sama. Semua orang punya kesempatan untuk berkembang,” tegasnya.

Baca juga: Pesantren Al Umanaa Perkuat Kolaborasi Cetak Pemimpin Qurani Indonesia

Target Lulusan: Saleh dan Strategis

Lebih jauh, Ubaydillah menekankan bahwa BIMA tidak hanya berfokus pada pembentukan akhlak, tetapi juga pada peran strategis santri di masa depan.

“Kiai Imam Jazuli ingin menghantarkan santrinya bukan saja menjadi generasi yang saleh berakhlak mulia, tetapi generasi yang saleh plus punya peranan strategis untuk pembangunan Indonesia,” katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pesantren secara aktif memfasilitasi santri melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

“Sebagian besar diarahkan untuk mendalami STEM, sains dan teknologi. Sebagian kecil ke studi keislaman di Timur Tengah seperti Mesir, Tunisia, Jordania, dan Maroko. Sisanya ke Eropa, seperti Rusia, Prancis, Jerman, dan Inggris,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam usia yang relatif muda, jaringan alumni BIMA sudah tersebar luas.

“Santri Bina Insan Mulia yang usianya baru sekitar 13 tahun ini sudah berada di 16 negara,” ujarnya.

Pesantren Berbasis Aswaja dan Melek Politik

Sebagai pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, BIMA juga menanamkan praktik keagamaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah.

“Praktik ibadah di dalamnya menerapkan Ahlussunnah wal Jamaah dengan corak ke-NU-an,” kata Ubaydillah.

Tak hanya itu, BIMA juga menjadi salah satu pesantren pionir yang menghadirkan pendidikan politik bagi santri melalui Sekolah Pendidikan Politik Bina Insan Mulia.

“Pesantren ini menjadi salah satu yang pertama memiliki sekolah politik untuk para santri. Santri harus berani masuk ke pertarungan politik sebagai bentuk panggilan untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia,” tegasnya.

Pesantren Masa Depan

Dengan perpaduan manajemen profesional, akses pendidikan inklusif, jejaring global, hingga keberanian membuka ruang politik bagi santri, BIMA dinilai sebagai model pesantren masa depan.

Baca juga: Dari Mufti Keraton ke Pesantren Rakyat: Kisah Buntet Melawan Narasi VOC Sejak 1750

Nanang melihat konsistensi karakter Imam Jazuli sejak muda hingga kini menjadi kunci dari transformasi tersebut.

“Dia adalah aktivis yang tuntas, pengusaha yang cerdas, dan kiai yang visioner,” ujarnya.

Fenomena BIMA menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mampu bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak lahirnya generasi unggul yang religius, intelektual, dan siap berperan di tingkat global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hukum Daging Ham, Haram atau Halal? Berikut Penjelasan Komisi Fatwa MUI
Hukum Daging Ham, Haram atau Halal? Berikut Penjelasan Komisi Fatwa MUI
Aktual
Link Download Qur’an Kemenag Add-ins untuk PowerPoint, Permudah Sisipkan Ayat dan Terjemahan ke Presentasi
Link Download Qur’an Kemenag Add-ins untuk PowerPoint, Permudah Sisipkan Ayat dan Terjemahan ke Presentasi
Aktual
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Aktual
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Aktual
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Aktual
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Aktual
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Aktual
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
Aktual
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Aktual
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Aktual
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
Aktual
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com