KOMPAS.com – Di tengah kehidupan yang serba cepat, perselisihan kerap hadir tanpa diundang.
Ia bisa muncul dalam hubungan keluarga, pertemanan, bahkan urusan pekerjaan. Tak jarang, konflik yang kecil pun berkembang menjadi beban batin yang mengganggu ketenangan.
Dalam pandangan Islam, pertikaian bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga ujian spiritual. Cara menyikapinya tidak hanya dengan logika dan komunikasi, melainkan juga dengan pendekatan hati, melalui doa dan kedekatan kepada Allah SWT.
Lalu, bagaimana ajaran Islam membimbing umatnya menghadapi konflik dengan tenang?
Setiap manusia memiliki latar belakang, kepentingan, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan inilah yang kerap menjadi pemicu konflik.
Dalam perspektif ajaran Islam, konflik tidak selalu bermakna negatif. Ia bisa menjadi sarana introspeksi, memperbaiki diri, dan menguatkan kesabaran.
Namun, jika tidak dikelola dengan baik, konflik justru dapat merusak hubungan dan menimbulkan kegelisahan berkepanjangan.
Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan penyelesaian konflik secara lahiriah, tetapi juga melalui pendekatan batin yang menenangkan jiwa.
Baca juga: Benarkah Summum Bukmun Umyun Doa Penunduk Hati? Ini Faktanya
Salah satu bentuk ikhtiar batin yang diajarkan adalah berdoa. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad mencontohkan doa-doa yang dapat diamalkan ketika menghadapi persoalan hidup, termasuk saat terjadi perselisihan.
Doa bukan sekadar permohonan, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik.
Dengan berdoa, seorang hamba menyerahkan urusan kepada Allah, memohon keadilan, dan berharap diberi jalan keluar terbaik.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah untuk menghadapi perbedaan dan pertikaian terdapat dalam Surah Az-Zumar ayat 46.
اللّٰهُمَّ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ عٰلِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ اَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْ مَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
Allāhumma fāthiras-samāwāti wal-arḍi ‘ālim al-ghaibi wasy-syahādah, anta taḥkumu baina ‘ibādika fī mā kānū fīhi yakhtalifūn
Artinya: “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan.”
Baca juga: Benarkah Doa Nabi Yusuf Bisa Bikin Anak Tampan? Ini Fakta & Hukumnya
Doa ini tidak sekadar rangkaian kata, melainkan memiliki makna yang sangat dalam.
Pertama, pengakuan bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam, yang berarti segala persoalan hidup berada dalam kuasa-Nya.
Kedua, keyakinan bahwa Allah mengetahui segala hal, baik yang tampak maupun tersembunyi, termasuk niat dan isi hati manusia dalam konflik.
Ketiga, doa ini menegaskan bahwa keputusan terbaik atas setiap perselisihan berada di tangan Allah.
Dengan demikian, seseorang diajak untuk tidak memaksakan ego, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada kehendak-Nya.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa sumber utama konflik sering kali berasal dari dominasi ego dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Karena itu, penyembuhan konflik harus dimulai dari hati.
Sementara dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menekankan pentingnya menjaga lisan, menghindari prasangka buruk, serta memperbanyak doa sebagai jalan untuk meredakan ketegangan.
Pandangan ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dalam Islam bersifat komprehensif—menggabungkan aspek spiritual dan sosial.
Baca juga: Gelisah dan Overthinking? Baca Doa Ini, Amalan Sunnah Penenang Hati
Mengamalkan doa ini tidak memerlukan waktu khusus, tetapi ada beberapa momen yang dianjurkan agar lebih khusyuk:
Yang terpenting bukan hanya membaca, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa Allah adalah tempat kembali dari segala persoalan.
Doa bukan berarti mengabaikan usaha nyata. Islam tetap mendorong umatnya untuk menyelesaikan konflik melalui dialog, musyawarah, dan sikap saling memahami.
Namun, doa menjadi fondasi agar setiap langkah yang diambil tidak dilandasi emosi, melainkan kebijaksanaan.
Dalam banyak kasus, ketenangan batin justru menjadi kunci utama dalam menemukan solusi yang adil.
Pada akhirnya, pertikaian adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Namun, cara menyikapinya menentukan kualitas iman dan kedewasaan seseorang.
Dengan mengamalkan doa yang diajarkan Nabi Muhammad, seorang muslim tidak hanya mencari solusi, tetapi juga ketenangan.
Di tengah hiruk-pikuk masalah, doa menjadi ruang hening, tempat hati kembali pulang, dan harapan kembali tumbuh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang