KOMPAS.com – Di antara seluruh ibadah dalam Islam, haji memiliki kedudukan yang sangat istimewa.
Ibadah ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang penuh pengorbanan, kesabaran, dan penghambaan kepada Allah SWT.
Tak heran jika banyak umat Islam memandang haji sebagai titik balik kehidupan. Ada harapan besar yang tersimpan di balik setiap langkah menuju Ka'bah, yakni kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
Keutamaan inilah yang sering disebut dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW tentang haji mabrur, yaitu haji yang diterima Allah SWT karena dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, serta dijaga dari perbuatan dosa dan ucapan kotor.
Lalu, apa sebenarnya makna haji mabrur? Mengapa ibadah ini disebut dapat menghapus dosa seperti bayi yang baru lahir? Berikut penjelasan lengkapnya.
Dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad bersabda:
“Barang siapa melaksanakan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.”
Hadis ini menjadi salah satu dalil paling populer tentang besarnya keutamaan haji mabrur.
Dalam buku Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa bayi yang baru lahir tentu belum memiliki dosa.
Oleh karena itu, gambaran “kembali seperti bayi” menunjukkan betapa besar ampunan Allah SWT kepada orang yang menunaikan haji dengan benar.
Makna tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menjadi motivasi spiritual bagi jutaan Muslim untuk memperbaiki diri melalui ibadah haji.
Baca juga: Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah
Meski istilah haji mabrur sering terdengar, tidak semua orang memahami maknanya secara mendalam.
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa, dilakukan dengan niat ikhlas, serta diiringi akhlak yang baik.
Sebagian ulama juga menyebut tanda haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku seseorang setelah pulang dari Tanah Suci.
Ia menjadi lebih taat, lebih lembut kepada sesama, dan lebih menjaga hubungannya dengan Allah SWT.
Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq diterangkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari sempurnanya ritual, tetapi juga dari dampak spiritual yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, haji bukan sekadar perjalanan ibadah beberapa hari, melainkan momentum perubahan hidup seorang Muslim.
Selain pengampunan dosa, keutamaan lain dari haji mabrur adalah jaminan balasan surga.
Rasulullah SAW bersabda:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini termasuk salah satu hadis paling sering dikutip saat musim haji karena menggambarkan betapa besar kemuliaan ibadah tersebut.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjelaskan bahwa balasan surga menunjukkan tingginya nilai haji mabrur di sisi Allah SWT.
Tidak banyak ibadah yang disebut secara langsung memiliki balasan surga dalam hadis dengan redaksi sejelas ini.
Karena itu, para ulama memandang haji mabrur sebagai salah satu amalan terbesar dalam Islam setelah iman dan jihad di jalan Allah.
Keutamaan haji juga tergambar dalam hadis lain ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal paling utama.
Beliau menjawab:
“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian ketika ditanya lagi, beliau menjawab:
“Jihad di jalan Allah.”
Lalu setelah itu Rasulullah SAW mengatakan:
“Haji mabrur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa haji memiliki posisi yang sangat tinggi dalam Islam.
Dalam buku Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa ibadah haji menghimpun banyak bentuk ibadah sekaligus, mulai dari pengorbanan harta, kesabaran fisik, zikir, doa, hingga pengendalian diri.
Oleh karena itu, haji disebut sebagai ibadah yang sarat nilai spiritual dan penghambaan total kepada Allah SWT.
Banyak ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam haji terjadi karena besarnya pengorbanan dan ketundukan seorang hamba selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Seorang jamaah meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT.
Di Makkah dan Madinah, jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan status sosial, jabatan, ataupun kekayaan.
Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai simbol kesetaraan di hadapan Allah SWT.
Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa haji mengajarkan manusia tentang kerendahan hati, persaudaraan, dan kepasrahan total kepada Allah. Karena itulah, haji menjadi momentum penyucian jiwa yang sangat kuat.
Meski memiliki keutamaan besar, kemabruran haji tidak diraih secara otomatis.
Al Quran secara tegas mengingatkan:
“Barang siapa menetapkan niat berhaji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama haji.” (QS Al-Baqarah: 197)
Ayat ini menunjukkan pentingnya menjaga ucapan dan perilaku selama menjalankan ibadah haji.
Dalam buku Ensiklopedi Haji dan Umrah karya Muhammad Ajib dijelaskan bahwa banyak jamaah terlalu fokus pada ritual teknis, tetapi lupa menjaga akhlak selama di Tanah Suci.
Padahal, salah satu inti kemabruran haji justru terletak pada kemampuan mengendalikan diri di tengah situasi yang padat dan melelahkan.
Baca juga: Haji Mabrur Tak Cukup Ihram, Ini Kunci Niat, Doa, dan Tanda-Tandanya
Para ulama menyebut ada beberapa tanda seseorang memperoleh haji mabrur, di antaranya:
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang diterima Allah SWT akan meninggalkan pengaruh positif dalam kehidupan pelakunya.
Oleh karena itu, perubahan diri setelah berhaji menjadi salah satu indikator penting kemabruran haji seseorang.
Di banyak masyarakat Muslim, gelar “Haji” sering dianggap sebagai simbol kehormatan sosial. Namun para ulama mengingatkan bahwa inti haji bukanlah gelar, melainkan perubahan hati dan amal.
Haji mabrur bukan diukur dari seberapa sering seseorang pergi ke Tanah Suci, melainkan sejauh mana ibadah itu membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT.
Karena itu, setiap Muslim yang menunaikan haji sejatinya sedang menjalani perjalanan besar untuk memperbaiki diri, membersihkan dosa, dan memulai kehidupan baru yang lebih baik.
Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, haji bukan hanya impian spiritual, tetapi juga harapan untuk kembali kepada fitrah.
Melalui ibadah ini, seorang Muslim belajar tentang kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Tak heran jika Rasulullah SAW menggambarkan haji mabrur sebagai ibadah yang mampu mengembalikan manusia dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.
Sebuah gambaran yang menunjukkan betapa luas rahmat dan ampunan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memenuhi panggilan ke Baitullah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang