Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren

Kompas.com, 20 Mei 2026, 15:18 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Induk Koperasi Pondok Pesantren resmi menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Expo 2026 di Gedung SME Tower–SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Mei 2026 ini mengangkat tema “Modernisasi Koperasi Pondok Pesantren untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Pemerataan Kesejahteraan Rakyat.”

Rakernas tersebut menjadi momentum strategis bagi penguatan peran koperasi pondok pesantren dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional berbasis umat.

Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha, koperasi, serta pemberdayaan santri dan masyarakat.

Acara pembukaan Rakernas dihadiri sejumlah tokoh nasional, ulama, pengurus koperasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan ini turut dibuka oleh Menteri Koperasi RI dan Menteri UMKM RI.

Baca juga: 61 Pesantren NU di Purworejo Belajar Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi

Ketua Umum Induk Koperasi Pondok Pesantren, KH Marsudi Syuhud, mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi nasional apabila dikelola secara modern dan berkelanjutan.

Menurutnya, jumlah pondok pesantren di Indonesia yang mencapai sekitar 42 ribu merupakan kekuatan besar yang dapat dioptimalkan untuk menciptakan kemandirian ekonomi umat.

“Kita ingin lulusan pondok pesantren menjadi penggiat ekonomi. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki jumlah entrepreneur atau pengusaha yang besar,” ujar Kiai Marsudi dalam sambutannya.

Wakil Ketua Umum MUI itu menegaskan bahwa modernisasi ekonomi pesantren bukan hanya soal pengembangan usaha, tetapi juga perubahan pola pikir di lingkungan pesantren.

Ia mendorong agar santri, ustadz, dan kiai tidak lagi hanya berorientasi sebagai penerima bantuan sosial, melainkan mampu menjadi pengusaha dan pemberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Jangan sampai hanya menjadi penerima zakat atau sekadar mencari sedekah. Mestinya kita ini yang menjadi pembayar zakat, infak, sedekah, bahkan pembayar pajak yang besar,” katanya.

Baca juga: Menag Nasaruddin: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak

Kiai Marsudi juga menjelaskan bahwa semangat kewirausahaan sebenarnya telah menjadi bagian dari tradisi pesantren.

Menurutnya, banyak kajian dalam kitab kuning atau turats yang membahas persoalan muamalah dan tata kelola ekonomi umat.

Karena itu, ia berharap koperasi pesantren dapat berkembang lebih modern dan profesional sehingga mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi nasional maupun global.

Selain agenda Rakernas, Inkopontren juga menggelar expo produk pesantren yang menampilkan berbagai hasil usaha dan produk UMKM binaan pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Pameran tersebut menjadi ruang promosi sekaligus memperluas jaringan bisnis antarpesantren dan pelaku usaha.

Kegiatan lain yang turut digelar dalam rangkaian acara adalah business meeting dan talkshow yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, pelaku usaha, serta tokoh koperasi nasional.

Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam pengembangan koperasi pesantren dan ekonomi kerakyatan.

Dalam sambutannya, Kiai Marsudi juga menekankan pentingnya penyusunan program kerja yang konkret dan berkelanjutan.

Baca juga: Sanksi Maksimal untuk Pelaku Kekerasan Seksual di Pesantren, MUI Serukan Pengawasan Ketat

Ia meminta agar Rakernas tidak hanya menghasilkan wacana, tetapi mampu melahirkan program yang memiliki dampak nyata bagi kemajuan ekonomi pesantren.

Menurut dia, organisasi yang telah berdiri sejak 1998 itu harus mampu meninggalkan legacy atau warisan produktif bagi generasi penerus.

“Mari bersama-sama membawa legacy, peninggalan untuk penerus kita nanti. Hari ini mari kita ciptakan bersama rencana-rencana strategis sebagai peninggalan nyata dari Inkopontren,” ujarnya.

Ia menambahkan, program-program yang dirumuskan dalam Rakernas harus bersifat monumental dan dapat dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.

Rakernas dan Expo Inkopontren 2026 turut dihadiri Mustasyar PBNU dan Muassis Inkopontren KH Manarul Hidayat, Wakil Ketua Umum Inkopontren KH Suharisto, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Indah Anggoro Putri, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia Bambang Haryadi, serta Ketua MUI Bidang Dakwah KH Abdul Manan Ghani.

Melalui Rakernas ini, Inkopontren berharap modernisasi koperasi pondok pesantren dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional sekaligus memperluas pemerataan kesejahteraan masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Musyrif Diny Jelaskan 3 Skema Mabit di Muzdalifah bagi Jamaah Haji
Musyrif Diny Jelaskan 3 Skema Mabit di Muzdalifah bagi Jamaah Haji
Aktual
Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna
Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna
Aktual
Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima
Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima
Aktual
Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Aktual
Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan
Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan
Aktual
Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026
Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026
Aktual
KH Marsudi Dorong Pesantren Ciptakan Legacy untuk Generasi Penerus
KH Marsudi Dorong Pesantren Ciptakan Legacy untuk Generasi Penerus
Aktual
Menteri Haji Gus Irfan Sapa Jemaah Haji Indonesia di Jeddah, Ingatkan Jaga Kesehatan Jelang Wukuf
Menteri Haji Gus Irfan Sapa Jemaah Haji Indonesia di Jeddah, Ingatkan Jaga Kesehatan Jelang Wukuf
Aktual
Obat-obatan 'Apotek Mini' Ini Perlu Dibawa Jemaah Saat Armuzna, Apa Isinya?
Obat-obatan 'Apotek Mini' Ini Perlu Dibawa Jemaah Saat Armuzna, Apa Isinya?
Aktual
Nekat Masuk Makkah lewat Jalur Tikus, 5 Warga Malaysia Ditangkap
Nekat Masuk Makkah lewat Jalur Tikus, 5 Warga Malaysia Ditangkap
Aktual
Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta
Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta
Aktual
Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren
Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren
Aktual
Arab Saudi Tangkap 7 Penyelundup 13 Jemaah Haji Ilegal ke Makkah
Arab Saudi Tangkap 7 Penyelundup 13 Jemaah Haji Ilegal ke Makkah
Aktual
2.400 Titik Air Minum Modern Hadir di Makkah, Jemaah Haji Kini Lebih Nyaman Lawan Panas Ekstrem
2.400 Titik Air Minum Modern Hadir di Makkah, Jemaah Haji Kini Lebih Nyaman Lawan Panas Ekstrem
Aktual
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com