Editor
KOMPAS.com - Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang menjadi dambaan setiap Muslim.
Setelah melewati fase puncak di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), banyak jemaah mulai merenungkan kualitas ibadah yang telah dijalani.
Dalam ajaran Islam, keberhasilan haji tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian manasik, tetapi juga dari dampak positif yang muncul setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.
Baca juga: 5 Penyebab Haji Mardud dan Cara Meraih Haji Mabrur
Karena itu, penting memahami faktor-faktor yang dapat menyebabkan haji tertolak atau tidak memberikan manfaat spiritual yang semestinya.
Dilansir dari laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH, dirangkum dari sejumlah literatur, terdapat beberapa tingkatan kualitas haji.
Baca juga: Bahlil Lahadalia Doakan Seluruh Jemaah Haji Indonesia Jadi Haji Mabrur
Pertama, Haji Mardud, yaitu haji yang ditolak karena tidak memenuhi syarat dan rukun.
Kedua, Haji Maqbul, yakni haji yang memenuhi syarat dan rukun, tetapi belum menunjukkan dampak positif yang nyata dalam kehidupan pelakunya.
Ketiga, Haji Mabrur, yaitu haji yang memenuhi syarat dan rukun serta menghasilkan perubahan positif dalam perilaku dan kehidupan seseorang.
Berikut beberapa alasan yang menyebabkan haji tertolak atau tidak memberikan manfaat.
Niat menjadi fondasi utama dalam setiap ibadah, termasuk haji. Jika seseorang menunaikan haji dengan tujuan mencari popularitas, status sosial, atau pujian manusia, maka nilai ibadah tersebut dapat berkurang bahkan tidak diterima oleh Allah SWT.
Karena itu, setiap Muslim perlu memastikan bahwa tujuan berhaji semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih ridha-Nya.
Ibadah haji harus dilaksanakan sesuai tuntunan syariat Islam. Kurangnya pemahaman terhadap tata cara haji, mengabaikan bimbingan yang benar, atau melakukan pelanggaran selama ibadah dapat memengaruhi kesempurnaan haji.
Kepatuhan terhadap rukun, wajib, dan larangan haji merupakan bagian penting dari ketaatan kepada Allah SWT.
Sumber biaya yang digunakan untuk berhaji juga menjadi perhatian penting dalam Islam. Harta yang berasal dari sumber haram, seperti riba, korupsi, atau praktik yang dilarang syariat, dapat menjadi penyebab ibadah tidak diterima.
Haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga proses penyucian jiwa dan hati dari segala bentuk keburukan.
Kurangnya pemahaman terhadap hakikat ibadah haji dapat membuat seseorang hanya fokus pada aspek fisik dan seremonial. Akibatnya, haji tidak memberikan perubahan spiritual yang berarti.
Padahal, haji merupakan momentum untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT, memperbaiki diri, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Setiap Muslim tentu berharap memperoleh predikat haji mabrur. Salah satu tanda haji yang mabrur adalah munculnya perubahan positif dalam perilaku dan ucapan setelah pulang dari Tanah Suci.
Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Artinya: “Dari sahabat Jabir bin Abdillah ra, dari Rasulullah saw. ia bersabda, ‘Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik,” (HR Ahmad, At-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim).
Langkah pertama untuk meraih haji mabrur adalah meluruskan niat. Pastikan ibadah dilakukan semata-mata karena Allah SWT tanpa disertai kepentingan duniawi.
Niat yang ikhlas akan membantu menjaga fokus dan konsistensi selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji.
Pengetahuan yang memadai mengenai tata cara haji sangat penting agar ibadah berjalan sesuai tuntunan syariat. Jemaah perlu memahami setiap tahapan haji, mulai dari ihram, wukuf di Arafah, tawaf, hingga sa'i.
Dengan bekal ilmu yang cukup, kesalahan dalam pelaksanaan ibadah dapat diminimalkan.
Selama berhaji, jemaah harus menjaga akhlak dan perilaku. Perbuatan seperti berbohong, berkata kasar, bertengkar, atau menyakiti sesama dapat mengurangi nilai ibadah.
Kesabaran, kejujuran, dan sikap santun menjadi bagian penting dalam meraih haji yang diterima Allah SWT.
Ibadah haji bukan sekadar ritual yang dijalankan secara formal, melainkan perjalanan spiritual yang bertujuan membentuk pribadi yang lebih baik.
Karena itu, keberhasilan haji tidak hanya terlihat saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dengan niat yang tulus, pemahaman yang benar, serta komitmen menjaga akhlak dan ketakwaan, seorang Muslim memiliki peluang lebih besar untuk meraih predikat haji mabrur, yakni haji yang diterima Allah SWT dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang