Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan

Kompas.com, 5 Juni 2026, 14:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak pesantren di Indonesia untuk tidak terjebak dalam romantisme sejarah semata, tetapi tampil sebagai solusi atas berbagai persoalan bangsa di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Menag saat membuka Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU, Penegak NKRI) yang digelar Direktorat Pesantren Kementerian Agama di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Dikutip dari laman Kementerian Agama, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren merupakan salah satu warisan pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

Namun, menurutnya, sejarah panjang tersebut harus menjadi modal untuk membangun masa depan, bukan sekadar menjadi kebanggaan yang terus dikenang.

“Pesantren merupakan salah satu warisan pendidikan tertua di Indonesia yang telah berkontribusi besar sejak masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terjebak pada romantisme sejarah, melainkan menghimpun energi dan bersinergi membangun masa depan,” tegas Nasaruddin.

Baca juga: Menag Ingatkan Pejabat untuk Waspadai Gratifikasi Berkedok Hadiah

Menurut Nasaruddin Umar, pesantren selama ini telah terbukti melahirkan banyak tokoh bangsa, ulama, pemimpin masyarakat, hingga pejuang kemerdekaan yang berperan penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu, pesantren dinilai memiliki modal sosial, intelektual, dan spiritual yang sangat besar untuk menjawab berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Pesantren harus menjadi jawaban terhadap berbagai problem kebangsaan yang kita hadapi saat ini dan di masa mendatang. Dengan segala keterbatasannya, pesantren dan madrasah telah membuktikan mampu melahirkan generasi unggul yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama pesantren terletak pada sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas.

Berbeda dengan pendidikan umum yang lebih menekankan rasionalitas, pesantren memiliki tradisi keilmuan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, moral, dan sosial secara bersamaan.

“Pesantren memiliki kekayaan sumber pengetahuan yang membentuk keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial. Inilah yang menjadi kekuatan pesantren dalam melahirkan pemimpin dan manajer yang dibutuhkan bangsa,” kata Nasaruddin.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyerahkan bantuan senilai Rp100 juta kepada Pesantren Ali Maksum Krapyak sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan lembaga pendidikan pesantren.

Selain itu, Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan pesantren seiring terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama.

Kehadiran direktorat jenderal baru tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat.

Menag juga mengapresiasi sejumlah madrasah dan pesantren yang mampu menunjukkan prestasi membanggakan, bahkan dapat bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan yang memiliki biaya pendidikan jauh lebih tinggi.

Baca juga: Wajah Baru Pesantren Abad 21: Padukan Al-Quran dan Sains Modern

Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki suatu lembaga pendidikan.

“Kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya biaya, tetapi juga oleh sistem pembelajaran, keteladanan, budaya belajar, dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta didik,” ungkapnya.

Sementara itu, putri pendiri Nahdlatul Ulama, Hizbiyah Rochim Wahab, menilai sosok ayahnya merupakan teladan dalam membangun persatuan umat dan bangsa di tengah berbagai perbedaan yang ada.

Menurutnya, KH Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya dikenal sebagai tokoh organisasi, tetapi juga figur yang mampu menjembatani berbagai kepentingan demi kemaslahatan yang lebih besar.

“Beliau mengajarkan pentingnya membangun jembatan di atas perbedaan. KH Abdul Wahab Hasbullah berhasil memadukan tradisi dan modernitas, agama dan nasionalisme, serta kepentingan elite dengan aspirasi masyarakat akar rumput,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah dapat terus diwariskan kepada generasi muda, khususnya para santri, agar tumbuh menjadi pemimpin yang memiliki integritas, kecerdasan, dan kepedulian sosial.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Mohammad Hasib Wahab Hasbullah, mengajak seluruh pesantren untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Baca juga: Sekjen MUI Tanggapi Tuduhan terhadap Kiai Pesantren, Minta Tabayun dan Hindari Fitnah

Ia berharap pesantren di seluruh Indonesia terus mendapatkan dukungan dan keberkahan sehingga dapat menjalankan perannya sebagai lembaga yang mencetak generasi penerus bangsa.

Sementara itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyebut pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren sebagai tonggak sejarah penting dalam perjalanan panjang penguatan kelembagaan pesantren di Indonesia.

Menurutnya, pembentukan Ditjen Pesantren merupakan bentuk pengakuan negara atas kontribusi besar pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

“Terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi besar pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ini adalah hasil perjuangan panjang para ulama dan tokoh pesantren,” kata Basnang.

Ia menambahkan, saat ini Direktorat Jenderal Pesantren tengah menyusun peta jalan pengembangan pesantren untuk 10 tahun ke depan.

Fokusnya mencakup penguatan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat agar pesantren semakin siap menjawab berbagai tantangan sosial di masa mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
Aktual
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Aktual
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Arab Saudi Hapus Paket D untuk Haji 2027, Ini Dampaknya bagi Jemaah
Aktual
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Kemenag Catat Sejarah Baru, 15 Perempuan Dilantik Jadi Kepala KUA
Aktual
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Pedoman Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Pemakaman
Aktual
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan
Aktual
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama
Aktual
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Marak Konvoi Penjemputan Haji, Kemenhaj Sumenep Minta Warga Tidak Berlebihan
Aktual
6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
6 Perbuatan yang Diam-Diam Menghapus Pahala Muslim, Ghibah hingga Riya
Aktual
Keutamaan Sedekah dalam Islam, Kisah Sayyidina Ali yang Mendapat Balasan Berlipat
Keutamaan Sedekah dalam Islam, Kisah Sayyidina Ali yang Mendapat Balasan Berlipat
Aktual
Tidak Hanya Air Zamzam, Boneka Unta Juga Jadi Oleh-oleh Favorit Jemaah Haji
Tidak Hanya Air Zamzam, Boneka Unta Juga Jadi Oleh-oleh Favorit Jemaah Haji
Aktual
Cara Sedekah Subuh di Rumah Tanpa Harus ke Masjid, Tetap Berpahala
Cara Sedekah Subuh di Rumah Tanpa Harus ke Masjid, Tetap Berpahala
Aktual
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Setelah Sedekah Subuh, Bacalah Doa Ini agar Amal Lebih Sempurna
Doa dan Niat
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Labbaytum Award 2026 Umumkan Pemenang, Indonesia Tak Masuk Daftar
Aktual
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Panduan Pemulasaraan Jenazah dalam Islam, dari Memandikan hingga Menguburkan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com