KOMPAS.com – Tahun Baru Islam atau 1 Muharram bukan hanya menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah.
Di Indonesia, momen ini juga memiliki makna sosial, budaya, dan keagamaan yang begitu kuat.
Di berbagai daerah, masyarakat menyambut datangnya bulan Muharram dengan beragam tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya, setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memaknai Tahun Baru Islam. Ada yang merayakannya melalui pawai obor dan pengajian, ada pula yang menggelar kirab budaya, sedekah bersama, hingga festival tradisional yang menjadi identitas daerah setempat.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bagaimana Islam berkembang di Nusantara melalui proses akulturasi yang harmonis dengan budaya lokal.
Nilai-nilai keislaman berpadu dengan kearifan masyarakat sehingga melahirkan beragam bentuk perayaan yang unik tanpa meninggalkan esensi spiritualnya.
Lantas, tradisi apa saja yang masih lestari dan sering dilakukan masyarakat Indonesia saat memperingati Tahun Baru Islam?
Dalam buku Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal karya Prof. Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa perkembangan Islam di Indonesia berlangsung melalui pendekatan budaya yang damai.
Para ulama dan penyebar Islam tidak menghapus tradisi masyarakat secara keseluruhan, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam.
Karena itu, berbagai peringatan hari besar Islam di Indonesia sering memiliki warna budaya lokal yang khas.
Tahun Baru Islam menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan.
Berikut sejumlah tradisi yang masih banyak dijumpai hingga saat ini.
Baca juga: Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Jika berbicara tentang perayaan Tahun Baru Islam di Indonesia, pawai obor mungkin menjadi tradisi yang paling dikenal masyarakat.
Menjelang malam 1 Muharram, warga dari berbagai kalangan biasanya berkumpul sambil membawa obor yang terbuat dari bambu.
Mereka berjalan mengelilingi kampung, desa, atau jalan-jalan utama sambil melantunkan salawat, takbir, dan doa.
Tradisi ini dapat ditemukan di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Bagi masyarakat, cahaya obor tidak sekadar penerangan di malam hari. Obor melambangkan cahaya iman yang menerangi perjalanan hidup seorang Muslim.
Karena itu, pawai obor sering dimaknai sebagai simbol semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Selain menjadi kegiatan religius, tradisi ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga karena melibatkan berbagai lapisan masyarakat secara bersama-sama.
Tradisi yang hampir selalu hadir di berbagai daerah adalah pengajian dan doa bersama.
Masjid, mushala, majelis taklim, pondok pesantren, hingga lembaga pendidikan Islam biasanya mengadakan kegiatan keagamaan pada malam pergantian tahun Hijriah.
Rangkaian acaranya beragam, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur'an, zikir, tausiyah, hingga doa akhir tahun dan awal tahun.
Dalam buku Fiqih Tradisi karya KH. Ali Mustafa Yaqub dijelaskan bahwa momentum pergantian tahun Hijriah dapat menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri terhadap perjalanan kehidupan selama setahun terakhir.
Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan malam 1 Muharram untuk memperbanyak doa dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Di Pulau Jawa, Tahun Baru Islam sering bertepatan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa.
Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah kirab budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun lingkungan keraton.
Kirab ini biasanya melibatkan peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa sambil berjalan kaki dalam suasana yang khidmat.
Di beberapa tempat, peserta kirab bahkan melaksanakan ritual berjalan tanpa berbicara sebagai simbol perenungan diri.
Tradisi ini masih dapat disaksikan di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat maupun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan hanya pergantian tahun, tetapi juga momentum refleksi, pengendalian diri, dan peningkatan spiritualitas.
Di sejumlah daerah Jawa, Madura, dan Sumatra, masyarakat memiliki tradisi memasak Bubur Suro saat memasuki bulan Muharram.
Bubur ini umumnya dibuat dari beras, santan, kacang-kacangan, rempah-rempah, dan berbagai bahan pelengkap lainnya.
Setelah dimasak, bubur dibagikan kepada tetangga, keluarga, atau masyarakat sekitar.
Dalam kajian antropologi budaya Nusantara, tradisi makanan bersama seperti Bubur Suro mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang kuat.
Selain itu, pembagian makanan juga menjadi bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Karena itulah Bubur Suro sering dianggap sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Baca juga: Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama
Salah satu tradisi Muharram yang paling dikenal di Sumatra Barat adalah Tabuik.
Tradisi ini berkembang di wilayah Pariaman dan telah berlangsung selama ratusan tahun.
Tabuik berupa bangunan replika berukuran besar yang diarak oleh masyarakat dalam sebuah prosesi budaya yang meriah. Pada puncak acara, tabuik biasanya dilarung ke laut sebagai bagian dari rangkaian tradisi.
Secara historis, tradisi ini memiliki hubungan dengan peringatan tragedi Karbala yang terjadi pada 10 Muharram.
Seiring perkembangan zaman, Tabuik tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya masyarakat setempat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.
Muharram dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena itu, banyak masyarakat menjadikan bulan ini sebagai momentum meningkatkan amal kebajikan.
Salah satu tradisi yang paling banyak dilakukan adalah memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh masjid, lembaga sosial, organisasi keagamaan, maupun masyarakat secara mandiri.
Dalam buku Keutamaan Sedekah dalam Islam karya Yusuf Mansur dijelaskan bahwa berbagi kepada sesama merupakan salah satu amalan yang dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendatangkan keberkahan.
Karena itu, tradisi santunan anak yatim hampir selalu hadir dalam berbagai peringatan Tahun Baru Islam di Indonesia.
Masyarakat Sunda memiliki tradisi unik yang dikenal dengan nama Ngadulang.
Tradisi ini masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Barat, khususnya di kawasan Sukabumi dan sekitarnya.
Ngadulang identik dengan kegiatan menabuh bedug secara bersama-sama sebagai bentuk syukur atas datangnya Tahun Baru Islam.
Masyarakat biasanya berkumpul di masjid atau lapangan terbuka untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan dan budaya.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana bedug, yang sejak lama menjadi bagian dari syiar Islam di Nusantara, tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang.
Meski bentuk perayaannya berbeda-beda, seluruh tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia memiliki tujuan yang serupa, yaitu mengingatkan umat Islam tentang pentingnya hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam perspektif sejarah Islam, hijrah bukan sekadar perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah juga mengandung makna perubahan diri, perbaikan akhlak, dan peningkatan kualitas keimanan.
Karena itu, tradisi-tradisi yang berkembang di berbagai daerah pada dasarnya menjadi sarana untuk memperkuat nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.
Dari pawai obor yang menerangi malam Muharram, kirab budaya yang sarat filosofi, hingga santunan anak yatim yang mencerminkan kepedulian sosial, semuanya menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam di Indonesia bukan hanya tentang pergantian kalender. Ia adalah perayaan nilai, budaya, dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang